BBCA Dan BBNI Selektif Jaring AI Enterprise, Efisiensi Jadi Penentu Utama

BCA dan BNI tetap melanjutkan investasi kecerdasan artifisial atau AI enterprise pada kuartal III/2026, tetapi dengan pendekatan yang lebih selektif. Kedua bank besar ini menimbang ulang belanja teknologi informasi di tengah tekanan makroekonomi dan pelemahan rupiah, lalu memusatkan anggaran pada use case AI yang dinilai paling memberi dampak bisnis.

Fokus utama keduanya kini bukan lagi memperluas proyek sebanyak mungkin, melainkan memastikan AI benar-benar menekan biaya operasional dan mempercepat proses internal. Strategi itu membuat pengembangan AI tetap berjalan, namun dengan kurasi yang lebih ketat agar setiap inisiatif selaras dengan kebutuhan bisnis utama.

BCA perketat kurasi use case AI

EVP Enterprise IT & Data Management BCA, Lily Wongso, menjelaskan bahwa kenaikan harga akibat tekanan kurs membuat perseroan lebih hati-hati dalam menggelontorkan belanja modal IT. Karena itu, BCA memperketat pemilihan use case AI yang akan dibangun agar tetap berada dalam koridor strategi bisnis perusahaan.

“Jadi mana use case-use case memang yang sesuai dengan strategi dan memang akan menghasilkan impact yang lebih besar, benefit yang lebih besar. Nah, itu yang kami targetkan,” ujar Lily, dikutip Jumat (5/6/2026).

BCA menilai pengembangan AI belum perlu dihentikan karena manfaat efisiensinya dinilai sangat besar. Berdasarkan evaluasi internal, penerapan AI di lingkungan kerja BCA bisa menghasilkan efisiensi proses minimum 30%, dan pada fungsi tertentu bahkan mencapai 70% hingga 80%.

BNI geser strategi ke model AI yang lebih ringkas

SVP AI & Data Analytics Division BNI, Handika Hakim, menyebut perubahan lanskap ekonomi global dan ketegangan geopolitik turut memengaruhi harga solusi IT. Dalam kondisi itu, BNI memilih strategi reprioritasi dan penyesuaian taktik agar investasi AI tetap relevan dan terukur.

“Use case-nya mungkin kita harus memilah-milah, mana yang kira-kira high value, kemudian secara time itu juga lebih sedikit,” kata Handika.

BNI juga menghitung skala ekonomi dari setiap implementasi AI secara lebih ketat. Prinsip yang dijaga adalah biaya teknologi tidak boleh lebih mahal daripada biaya mempekerjakan tenaga manusia secara konvensional, sehingga pilihan teknologi harus memberi efisiensi yang jelas.

Pada kuartal III/2026 dan kuartal IV/2026, BNI cenderung mengarah ke model AI yang lebih kecil atau smaller model. Pendekatan ini dipilih untuk menekan biaya sekaligus mempercepat proses internal yang dibutuhkan perusahaan.

Efisiensi jadi alasan utama investasi tetap jalan

Langkah BCA dan BNI menunjukkan bahwa investasi AI masih dianggap penting meski kondisi pasar menekan anggaran. Bagi perbankan, potensi penghematan biaya operasional dan peningkatan produktivitas dari AI dinilai lebih besar dibanding beban awal investasi yang ikut terpengaruh fluktuasi nilai tukar.

Karena itu, arah pengembangan AI kini bergerak ke model yang lebih pragmatis. Setiap proyek harus memiliki nilai tambah yang jelas, baik dari sisi efisiensi, kecepatan proses, maupun dampak langsung terhadap bisnis.

Contoh penerapan yang sudah terlihat hasilnya

Di BNI, uji coba AI pada proses Know Your Customer atau KYC menjadi salah satu contoh yang memperlihatkan manfaat langsung. Proses pembedahan dokumen yang semula memakan waktu lima hari dapat dipangkas menjadi hanya hitungan jam.

Contoh seperti ini memperkuat alasan mengapa bank tetap mempertahankan investasi AI, meski seleksi proyek dilakukan lebih ketat. Hasil yang konkret menjadi tolok ukur utama, bukan sekadar adopsi teknologi karena mengikuti tren.

Pandangan mitra teknologi soal arah investasi AI

Senior Vice President APAC Cloudera, Remus Lim, menilai sikap perbankan yang lebih pragmatis di tengah tantangan ekonomi sudah tepat. Ia menekankan bahwa organisasi tidak seharusnya membeli AI hanya karena mengikuti tren tanpa tujuan akhir yang jelas.

Cloudera sendiri fokus membantu klien mengelola fondasi data agar mendukung tiga pilar bisnis utama, yakni menekan biaya, meningkatkan pendapatan, dan memitigasi risiko. Remus menyebut investasi AI akan lebih penting jika diarahkan ke tiga use case tersebut, karena tanpa itu organisasi bisa tertinggal dan menjadi tidak relevan.

Sebagai mitra teknologi jangka panjang bagi BCA dan BNI, Cloudera juga menegaskan pentingnya tata kelola data yang bersih sebelum masuk ke tahap pemodelan AI. Fondasi data yang rapi dinilai menjadi syarat utama agar AI benar-benar menghasilkan nilai tambah bagi pengguna akhir.

Source: teknologi.bisnis.com
Exit mobile version