
Langit Juni menyimpan fenomena yang justru paling kuat saat matahari sudah terbit. Arietids termasuk hujan meteor yang aktif, tetapi nyaris tak terlihat oleh mata karena sebagian besar peristiwanya terjadi di siang hari.
Itulah paradoks yang membuat Arietids menarik bagi astronom. Data radar menunjukkan aliran meteor ini sangat aktif setiap tahun, namun publik jarang menyadarinya karena cahaya matahari menutupi jejak meteor yang masuk ke atmosfer Bumi.
Aktif, tetapi tersembunyi dari pandangan
Menurut International Meteor Organization, Arietids termasuk salah satu hujan meteor dengan tingkat aktivitas tertinggi yang pernah terukur lewat pengamatan radar. Pada puncaknya, fenomena ini diperkirakan menghasilkan 50 hingga lebih dari 100 meteor per jam.
Jika semua meteor itu bisa diamati pada malam hari, Arietids berpotensi menjadi salah satu tontonan langit paling populer. Masalahnya, sebagian besar aktivitas berlangsung saat langit masih sangat terang.
EarthSky menyebut Arietids sebagai hujan meteor siang hari atau daytime meteor shower. Titik radian Arietids berada sangat dekat dengan posisi matahari di langit, sehingga meteor sulit terlihat secara visual.
Baru terbaca lewat radar
Arietids tidak banyak dikenal lewat pengamatan mata. Banyak ciri utamanya justru terungkap setelah teknologi radar berkembang pada abad ke-20.
Radar bisa mendeteksi ionisasi atmosfer saat partikel meteor berkecepatan tinggi memasuki udara Bumi. Saat partikel itu memanas, ia membentuk jalur plasma tipis yang tetap bisa ditangkap instrumen meski tidak terlihat oleh mata manusia.
Tanpa radar modern, Arietids mungkin tidak akan dikenali sebagai salah satu hujan meteor terbesar tahunan. Fenomena ini menjadi contoh jelas bahwa teknologi dapat mengubah cara manusia membaca langit.
Masih misterius soal asal-usul
Banyak hujan meteor dapat ditelusuri ke komet induknya. Perseids terkait dengan komet Swift-Tuttle, sementara Leonids berasal dari komet Tempel-Tuttle.
Arietids belum memiliki kepastian serupa. Sejumlah penelitian mengaitkannya dengan objek dekat Bumi yang diduga merupakan sisa inti komet tua, tetapi belum ada konsensus ilmiah yang memastikan hubungan itu.
In-The-Sky-org menilai asal-usul Arietids masih menjadi salah satu pertanyaan terbuka yang menarik dalam studi meteor modern. Karena itu, hujan meteor ini tetap menyimpan banyak teka-teki meski aktivitasnya sudah lama terukur.
Melaju sangat cepat
Kecepatan Arietids juga membuatnya unik. Partikelnya memasuki atmosfer dengan kecepatan sekitar 39 kilometer per detik atau lebih dari 140 ribu kilometer per jam.
American Meteor Society menyebut kecepatan sebesar itu cukup untuk menghasilkan jejak cahaya terang dalam waktu sangat singkat. Dari permukaan Bumi, meteor ini kerap tampak seperti kilatan cahaya atau “anak panah bercahaya” yang melesat cepat.
Walau ukurannya hanya sebesar butiran pasir, energi tumbukannya sangat besar. Itulah yang membuat lintasan cahaya bisa terlihat jelas sebelum lenyap seketika.
Peluang menarik bagi penggemar langit
Juni menjadi waktu yang menarik untuk mengamati inti Galaksi Bimasakti dari wilayah tropis, termasuk Indonesia. Periode ini juga hampir bertepatan dengan puncak aktivitas Arietids.
Kondisi tersebut memberi bonus bagi penggemar astrofotografi. Saat memotret Bimasakti pada dini hari, meteor Arietids kadang tertangkap melintas di depan latar galaksi dan menghasilkan foto yang dramatis.
IFLScience menyebut peluang menangkap meteor dalam satu eksposur tetap kecil. Namun, aktivitas Arietids yang cukup tinggi membuat kesempatan itu lebih besar dibanding malam biasa.
Mungkin pernah dilihat manusia kuno
Sebelum ada teleskop dan radar, manusia sudah lama menatap langit dan mencatat fenomena astronomi. Karena sebagian meteor Arietids bisa muncul menjelang fajar, bukan tidak mungkin manusia kuno pernah melihatnya.
Mereka tentu belum memahami bahwa meteor itu berasal dari satu aliran partikel kosmik yang sama. Dalam banyak peradaban, meteor justru dimaknai sebagai pertanda atau pesan dari dewa.
Baru dalam era astronomi modern pola tahunan hujan meteor bisa dipahami dengan lebih jelas. CosmoBC menyebut pemahaman tentang hujan meteor sebagai fenomena orbital berkembang pesat dalam dua abad terakhir.
Fenomena besar yang hampir tak terlihat
Arietids menunjukkan bahwa fenomena langit paling aktif tidak selalu menjadi yang paling terkenal. Justru karena tersembunyi di balik cahaya matahari, hujan meteor ini lama luput dari perhatian publik.
Padahal, setiap tahun ada “pertunjukan kosmik” yang berlangsung di atmosfer Bumi tanpa banyak disaksikan mata manusia. Arietids menjadi pengingat bahwa langit masih menyimpan banyak peristiwa besar yang baru terungkap lewat teknologi modern.
Source: www.idntimes.com








