
Bukan hanya manusia yang bisa menunda kehamilan. Pada beberapa mamalia, ada mekanisme biologis yang membuat embrio berhenti berkembang sementara sebelum akhirnya menempel dan tumbuh lagi di rahim.
Fenomena ini disebut diapause embrionik atau implantasi tertunda. Strategi ini membantu induk menunggu waktu yang lebih aman agar kelahiran terjadi saat kondisi musim, makanan, dan lingkungan lebih mendukung.
Apa yang terjadi pada embrio
Dalam diapause embrionik, perkembangan embrio berhenti pada tahap blastokista. Penghentian ini bukan sekadar pelambatan biasa, karena pada beberapa spesies aktivitas seluler dapat berhenti sangat drastis.
Pada tikus dan beberapa marsupial, pembelahan sel, transkripsi, dan translasi bisa terhenti sepenuhnya. Sementara pada rusa roe, musang, beruang, dan cerpelai, embrio masih tumbuh tetapi sangat lambat.
Fenomena ini pertama kali dicatat pada rusa roe. Sejak itu, diapause embrionik telah diamati pada lebih dari 130 spesies dari berbagai kelompok mamalia.
Hewan yang dikenal menunda kehamilan
Beruang kutub termasuk hewan yang memanfaatkan mekanisme ini. Betina dapat menyimpan telur yang telah dibuahi sampai siap melanjutkan kehamilan, lalu melahirkan satu hingga tiga anak pada November atau Desember.
Pada beruang kutub, masa kehamilan berlangsung sekitar delapan bulan. Perilaku ini penting karena kondisi Arktik sangat keras dan tidak selalu menawarkan waktu ideal untuk mengandung dan membesarkan anak.
Anjing laut juga menggunakan diapause embrionik untuk mengatur waktu kelahiran. Sebagian besar spesies kawin beberapa minggu sebelum musim kawin, lalu menunda implantasi agar persalinan jatuh pada kondisi yang lebih optimal.
Durasi penundaan pada anjing laut dipengaruhi jenis spesies, habitat, dan kesehatan induk. Pada anjing laut abu-abu, suhu air juga menjadi faktor yang memengaruhi waktu implantasi embrio.
Hewan pengerat juga memanfaatkan mekanisme serupa saat kondisi alam liar berat. Embrio menunggu sampai tubuh induk punya cadangan makanan dan energi yang cukup, terutama ketika makanan langka, simpanan lemak kurang, atau masih ada anak lebih tua yang menyusu.
Armadillo sembilan pita dikenal mampu menunda perkembangan embrio hingga dua tahun sebagai respons terhadap tekanan lingkungan ekstrem. Implantasi di dinding rahim tertunda tiga sampai empat bulan, lalu masa pertumbuhan pesat berlangsung sekitar lima bulan.
Kelompok marsupial seperti kanguru dan walabi juga bisa menunda kehamilan. Pada hewan ini, periode kehamilan singkat dan masa menyusui panjang, tetapi diapause embrionik dapat memperpanjang total kehamilan hingga 11 bulan.
Mengapa mekanisme ini penting
Menurut The Conversation, keuntungan utama dari penundaan kehamilan adalah memisahkan perkawinan dan kelahiran. Dengan begitu, hewan dapat menyesuaikan waktu melahirkan agar anak lahir saat kondisi lebih aman.
Ada dua pola yang umum terjadi. Pola pertama adalah kawin segera setelah melahirkan, lalu kehamilan berikutnya tertahan selama masa menyusui sampai anak yang baru lahir tidak lagi bergantung penuh pada induk.
Pola kedua adalah menunda kehamilan sampai musim yang tepat. Pada cerpelai, misalnya, kawin terjadi sekitar awal Maret, tetapi pembentukan embrio ditunda hingga setelah ekuinoks musim semi ketika hari mulai lebih panjang di belahan bumi utara.
Kondisi ini memastikan anak lahir pada musim semi, saat lingkungan lebih bersahabat. Pada wallaby tammar, kombinasi menyusui dan perubahan panjang hari membuat hewan ini dapat beristirahat hampir setahun lalu melahirkan pada Januari.
Di wilayah yang ekstrem, penundaan kehamilan memberi peluang hidup lebih besar bagi anak. Pada anjing laut, mekanisme ini membantu kelahiran tidak terjadi saat kelaparan atau cuaca buruk, sedangkan pada beruang kutub dan armadillo, strategi ini mendukung kelangsungan hidup keturunan di habitat yang sulit.
Source: www.idntimes.com








