Gambaran alien yang paling sering muncul di internet ternyata bukan lahir dari satu sumber tunggal. Citra makhluk kecil berkulit abu-abu, berkepala besar, bermata hitam, dan berwajah minim ekspresi itu terbentuk dari rangkaian kejadian, cerita, film, dan budaya populer yang saling menguatkan.
Jejak awalnya kerap dikaitkan dengan gelombang antusiasme UFO di Amerika Serikat setelah 1947. Dari situ, istilah “piring terbang” mulai menyebar, lalu membangun imajinasi publik tentang benda asing di langit dan sosok yang dianggap datang bersama benda itu.
Roswell dan lahirnya mitos modern
Salah satu titik paling penting adalah insiden Roswell, New Mexico. Dugaan jatuhnya benda asing di sana tidak pernah memberi bukti tentang alien, tetapi justru menjadi pilar utama mitos UFO modern dan ikut mengarahkan bayangan publik pada alien abu-abu.
Cerita tentang peristiwa itu terus diulang dari mulut ke mulut, terutama di masyarakat Amerika Serikat. Dalam laporan lama, kisah ini juga disebut pertama kali muncul di media pada 24 Juni 1947 lewat pemberitaan tentang pilot Kenneth Arnold yang melihat sembilan benda berbentuk bulan sabit misterius.
Arnold mengatakan benda-benda itu bergerak aneh, seolah dilemparkan di atas air. Dari situlah surat kabar mulai memakai istilah “piring terbang”, yang kemudian menjadi label populer untuk dugaan pesawat asing.
Beberapa minggu kemudian, peternak New Mexico WW Brazel mengaku menemukan puing logam di lahannya. Roswell Daily Record menulis bahwa ia menemukan piring terbang yang jatuh, tetapi catatan resmi FBI menyebut objek itu hanya cakram heksagonal yang digantung dengan tali dari balon cuaca.
Hollywood ikut membakukan wajah alien
Mitos itu tidak berhenti di berita dan cerita lisan. Hollywood lalu memproduksi sejumlah film yang menggambarkan kontak alien sebagai pertempuran militer, sejalan dengan suasana awal Perang Dingin dan ketakutan terhadap kekuatan asing.
Judul seperti The Thing from Another World (1951), The War of the Worlds (1953), dan Earth vs. The Flying Saucers (1955) memperkuat kesan bahwa alien adalah ancaman dari luar. Di antara semuanya, The Day the Earth Stood Still (1951) menonjol karena menampilkan banyak unsur abu-abu, mulai dari alien humanoid Klaatu hingga robot Gort dan piring terbangnya.
Sebelum era film itu, HG Wells lewat cerita pendek “Man of the Year Million” (1893) sudah memberi bayangan tentang makhluk masa depan dengan tubuh kecil, kepala besar, wajah mirip bulan purnama, mulut kecil, dan mata besar berkilau. Gambaran itu kemudian menemukan bentuk visual yang lebih kuat di layar lebar.
Kisah penculikan yang membuat alien abu-abu makin dikenal
Pada 1961, pasangan Betty dan Barney Hill membawa cerita penculikan alien ke arus utama. Kisah mereka memuat elemen yang kemudian menjadi pola baku: berkendara malam di jalan pedesaan, melihat cahaya aneh, lalu merasa dibawa ke pesawat ruang angkasa dan berhadapan dengan penculik berkulit abu-abu.
Awalnya, Barney menggambarkan sosok itu seperti Nazi, sementara Betty menyebutnya berhidung besar. Betty juga mengaku ditunjukkan peta bintang dari Zeta Reticuli, sistem bintang nyata yang berjarak 39,2 tahun cahaya dari Bumi.
Cerita pasangan Hill membuat banyak kisah penculikan berikutnya mengikuti alur serupa. Menurut Christopher Bader dari Universitas Chapman, deskripsi alien pada masa itu masih beragam, termasuk sosok tinggi berambut pirang, alien Arya, hingga makhluk hitam tanpa kepala dengan kaki berselaput.
Dari film ke budaya internet
Citra alien abu-abu akhirnya makin terkunci setelah Close Encounters of the Third Kind. Film Steven Spielberg itu dianggap secara permanen mengukuhkan gambaran alien abu-abu di benak publik, terutama lewat adegan penutup yang ikonik.
Setelah itu, film dan serial lain terus mempertebal bentuk yang sama. E.T. the Extra-Terrestrial (1982), Communion (1989), Fire in the Sky (1993), dan serial The X-Files yang tayang dari 1993 hingga 2002 ikut menjaga gambaran itu tetap hidup.
Kini, menurut laporan yang dikutip dari Today I Found Out, 43 persen korban dugaan penculikan alien di AS menggambarkan penculik mereka sebagai manusia kecil abu-abu. Angkanya lebih tinggi di Australia, mencapai 50 persen, dan di Kanada mencapai 90 persen.
Kepercayaan terhadap alien juga tetap bertahan di level yang lebih luas. YouGov mencatat 34 persen orang yang pernah melihat UFO percaya itu adalah pesawat ruang angkasa alien, sementara pemerintah AS merilis 1.500 halaman dokumen terkait UFO pada 2022 dan mulai memakai istilah UAP untuk fenomena anomali tak dikenal.
Di tengah semua itu, citra alien abu-abu di internet tampaknya bukan sekadar hasil imajinasi acak. Gambaran itu lahir dari kombinasi rumor Roswell, bahasa media, film fiksi ilmiah, kisah penculikan, dan kebiasaan budaya populer yang terus mengulang bentuk yang sama.
Source: www.idntimes.com