
Helios Horizon mencatat tonggak penting ketika berhasil melakukan penerbangan pertama pesawat listrik yang dipiloti manusia dengan baterai solid-state. Perusahaan menyebut teknologi baru ini memberi dua kali lipat jangkauan dan waktu terbang dibanding baterai kendaraan listrik konvensional.
Pencapaian itu menempatkan Helios Horizon sebagai salah satu program paling menarik dalam pengembangan pesawat listrik jarak jauh. Di saat banyak proyek masih bergulat dengan keterbatasan daya, perusahaan ini justru mengklaim sudah menemukan kombinasi baterai dan sistem pesawat yang bisa mendekatkan penerbangan komersial listrik ke tahap yang lebih realistis.
Fokus pada efisiensi dan keamanan
Helios Horizon dibangun oleh pendiri sekaligus kepala pilot uji, Miguel Iturmendi, di atas rangka Pipistrel Taurus. Pesawat itu juga dilengkapi sistem khusus untuk penyaluran daya, manajemen baterai, propulsi, dan kontrol termodinamika.
Perubahan pada airframe tidak berhenti di sana. Helios juga menambahkan ekstensi sayap dan panel surya untuk mendukung karakter penerbangan yang dirancang perusahaan.
Menurut perusahaan, baterai solid-state yang dipakai berukuran lebih kecil dan memiliki densitas energi lebih tinggi daripada sel lithium-ion yang sebelumnya digunakan Helios Horizon dan hampir semua kendaraan listrik. Teknologi ini mengganti sebagian atau seluruh elektrolit cair dengan material padat, sehingga mengurangi risiko kebakaran dan memungkinkan lebih banyak energi disimpan dalam ruang yang sama.
Dalam pengujian internal, Helios mengatakan baterai solid-state juga menunjukkan ketahanan yang lebih baik terhadap kerusakan, panas berlebih, dan thermal runaway dibanding baterai lithium-ion konvensional. Hal ini menjadi poin penting karena keselamatan masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penerbangan listrik.
Lonjakan performa baterai
Sebelum pembaruan ini, baterai lithium-ion Helios Horizon menghasilkan 260 watt-jam per kilogram. Paket baterai solid-state yang baru naik ke 410 Wh/kg, peningkatan yang langsung berdampak pada potensi daya jelajah pesawat.
Perusahaan juga menyebut baterai solid-state dapat diisi dari hampir kosong hingga 80 persen dalam waktu kurang dari 15 menit. Kombinasi kepadatan energi yang lebih tinggi dan pengisian cepat menjadi bagian utama dari klaim Helios bahwa penerbangan listrik komersial bisa dibuat lebih masuk akal secara operasional.
Iturmendi menilai teknologi ini untuk pertama kalinya memberi baterai yang mampu menyediakan jarak tempuh dan waktu pengisian yang dibutuhkan penerbangan listrik komersial. Ia juga menekankan aspek keselamatan sebagai syarat yang menurutnya akan dituntut oleh publik.
Uji terbang untuk validasi konfigurasi baru
Penerbangan uji dilakukan di Zephyrhills Municipal Airport, Florida. Menurut perusahaan, uji itu dipakai untuk memvalidasi bobot dan keseimbangan pesawat setelah baterai baru dipasang.
Helios Horizon sendiri sudah memegang rekor ketinggian dunia untuk pesawat listrik di kelas bobotnya. Pesawat ini memang dirancang untuk terbang ke stratosfer dan sebelumnya sudah mencapai 24.000 kaki dalam penerbangan terdahulu.
Target berikutnya jauh lebih tinggi. Tim mengincar ketinggian di atas 40.000 kaki, yang berarti melampaui banyak pesawat penumpang.
Dengan sistem manajemen daya dan propulsi yang dimilikinya, Iturmendi memperkirakan Helios Horizon bisa menuntaskan penerbangan stratosfer dengan sekali pengisian daya. Perusahaan juga menyatakan masih akan melakukan lebih banyak penerbangan uji pada akhir tahun, seiring upaya mematangkan teknologi baterai solid-state untuk penerbangan listrik.









