China Salip Elon Musk, Chip Otak Pertama Dunia Ini Lolos Jual Komersial

China mengambil langkah lebih dulu dalam perlombaan brain chip global yang selama ini identik dengan nama Elon Musk. Otoritas obat dan kesehatan China, National Medical Products Administration, telah menyetujui NEO sebagai invasive brain-computer interface pertama di dunia yang boleh dijual secara komersial.

Kabar ini menandai titik balik penting dalam teknologi antarmuka otak-komputer. Saat Neuralink milik Musk masih menjalani uji dan menunggu izin lebih luas, sistem kesehatan yang didukung negara di China sudah bersiap menuju produksi massal.

Kenapa NEO sampai ke pasar lebih cepat

Neuralink selama bertahun-tahun menyita perhatian lewat janji masa depan ketika manusia bisa mengendalikan perangkat digital hanya dengan pikiran. Namun, meski sudah memulai uji coba pada manusia, prototipe N1 milik Musk belum lolos hambatan regulasi yang dibutuhkan untuk penjualan publik.

Perusahaan itu memulai uji coba manusia pada 2024 dan kini menguji implan N1 pada sembilan pasien. Di sisi lain, para ahli neuroteknologi menilai kunci kemenangan regulasi China ada pada pilihan teknis yang lebih aman.

Neuralink N1 membutuhkan robot bedah untuk menanamkan elektroda mikro langsung ke korteks serebral. Artinya, perangkat itu menembus lapisan luar otak untuk membaca neuron secara individual.

NEO memakai pendekatan yang jauh lebih minim invasif. Perangkat seukuran koin itu dikembangkan oleh startup Neuracle Technology yang berbasis di Shanghai bersama peneliti dari Tsinghua University, lalu menempatkan delapan sensornya sepenuhnya di luar jaringan otak pada dura mater, membran pelindung luar otak.

Avinash Singh, peneliti brain-chip dari University of Technology Sydney, mengatakan kepada MIT Technology Review bahwa pendekatan inilah yang hampir pasti membuat NEO lebih dulu mencapai garis akhir. Dengan menghindari penetrasi otak yang dalam, risiko penolakan imun berat, perdarahan, jaringan parut jangka panjang, dan kerusakan jaringan dapat ditekan jauh lebih rendah.

Masih banyak risiko pada implan otak

Meski kemajuannya cepat, tantangan besar tetap ada. Tubuh manusia secara alami bereaksi terhadap benda asing dan bisa membentuk jaringan parut di sekitar implan, atau bahkan menolak perangkat tersebut.

Setiap prosedur otak juga membawa risiko bedah. Dr. David Tuffley dari Griffith University mengatakan kepada New York Post bahwa setiap jenis implan otak dapat menimbulkan kerusakan fisik yang memengaruhi cara kerja area otak di sekitarnya.

Ia juga mencontohkan, jika terjadi perdarahan di bagian otak yang mengendalikan bicara atau gerakan, gumpalan darah kecil saja dapat mengganggu fungsi tersebut. Infeksi otak memang jarang, tetapi bisa memicu pembengkakan dan komplikasi lanjutan bila tidak segera ditangani.

Kekhawatiran seperti ini ikut membentuk cara regulator menilai teknologi brain-computer yang terus bermunculan. Di tengah manfaat medis yang menjanjikan, risiko klinis dan keamanan tetap menjadi alasan utama pengawasan ketat.

Fokus awal: rehabilitasi, bukan superhuman

Peluncuran awal NEO difokuskan sepenuhnya pada rehabilitasi. Implan ini membaca gelombang otak secara agregat dan mengirimkannya secara nirkabel ke hub pemrosesan terdekat, lalu menerjemahkannya menjadi perintah digital.

Dalam uji coba, pasien lumpuh memakai chip itu untuk mengendalikan sarung tangan robotik bertenaga pneumatik yang lembut. Dengan bantuan itu, mereka bisa melakukan tugas harian secara mandiri, termasuk makan, minum, dan menggenggam benda.

Target awal ini ditujukan bagi lebih dari 3 miliar orang di dunia yang hidup dengan gangguan neurologis dan gerak. Namun, kalangan teknologi di Silicon Valley dan negara China sama-sama melihat implan medis ini sebagai batu loncatan menuju masa depan cyborg.

Para pendukung membayangkan dunia ketika orang biasa memakai chip untuk telepati digital, telekinesis, dan produktivitas tinggi. Scott Phoenix, seorang venture capitalist, mengatakan dalam sebuah TED talk di Vancouver bahwa kemungkinan besar ada orang di sekitar yang akan mendapatkannya lebih dulu, lalu yang lain akan menyusul karena keuntungan integrasinya sulit dilawan.

Musk sendiri kerap berbicara besar soal perubahan ini. Dalam sebuah acara, ia menyebut pemulihan kontrol bagi penderita tetraplegia dan pemulihan penglihatan sebagai “Jesus-level technologies”.

Pasar besar, risiko privasi yang lebih besar

Future Market Insights memprediksi industri brain-implant akan tumbuh dari sektor niche menjadi pasar senilai 1,7 miliar dolar pada 2035. Pertumbuhan itu membuat kepentingan korporasi dan geopolitik di bidang ini semakin besar.

Namun, saat teknologi keluar dari laboratorium dan masuk ke dunia nyata, para pakar keamanan siber mulai mengajukan pertanyaan serius soal privasi dan kebebasan kognitif. Berbeda dari ponsel pintar atau smart speaker yang mengumpulkan lokasi fisik dan data suara, brain chip berpotensi menangkap pikiran paling intim yang tidak pernah diucapkan.

Data seperti itu menjadi aset yang sangat berharga bagi perusahaan iklan pengawas seperti Meta, Amazon, dan Google. Bagi rezim politik yang tertarik pada kepatuhan pikiran, data itu juga bisa menjadi alat yang sangat diinginkan.

Ancaman keamanannya bahkan lebih langsung. Dr. Tuffley memperingatkan bahwa implan otak secara teoretis dapat memberi peretas akses ke data saraf sensitif, termasuk pikiran dan memori pasien.

Ia juga mengatakan dampaknya tidak berhenti pada pencurian identitas. Peretasan dapat mengganggu fungsi kognitif seperti konsentrasi, atau bahkan memanipulasi sinyal motorik untuk memengaruhi cara seseorang bergerak.

Perlombaan brain-computer interface kini bergerak cepat, tetapi arah akhirnya masih penuh tanda tanya. Teknologi yang bisa memulihkan gerak bagi pasien lumpuh juga membuka risiko bahwa pikiran manusia menjadi data paling bernilai di pasar.

Exit mobile version