Tron: Legacy Ternyata Lebih Masuk Akal Secara Sains, Jauh Lebih Dekat dari Dugaan Banyak Orang

Saat Tron: Legacy tayang pada 2010, banyak penonton melihatnya sebagai fantasi visual tentang manusia yang tersedot ke dunia digital. Namun, di balik tampilan neon dan musik Daft Punk, film ini ternyata bertumpu pada beberapa gagasan sains yang lebih dekat ke kenyataan daripada yang terlihat.

Salah satu detail yang paling mencolok adalah laser yang memindai Sam Flynn ke dunia digital. Itu memang bukan teknologi untuk “mengunggah” manusia ke dalam video musik panjang, tetapi konsep dasarnya mengambil inspirasi dari sains nyata yang sedang dibahas para ilmuwan saat film itu dibuat.

Sains di balik dunia digital Tron

Joseph Kosinski, sang sutradara, mengatakan kepada USA Today saat peluncuran film bahwa begitu diskusi bergeser dari pertanyaan “bagaimana caranya,” para ilmuwan justru memberi banyak ide. Ia juga menyebut tim produksi harus memastikan film itu tetap cukup akurat agar penonton tidak langsung menyadari kelemahannya.

Kosinski kemudian menjelaskan hal serupa kepada Scientific American. Ia menggali gagasan dari berbagai ilmuwan untuk membangun fondasi yang kuat bagi elemen-elemen fantastis di film itu.

Di antara ilmuwan yang diajak berdiskusi ada Sean Carroll, fisikawan dari California Institute of Technology, dan John Dick, fisikawan pensiunan yang pernah bekerja di Jet Propulsion Laboratory. Masukan mereka mencakup komputasi kuantum dan pertanyaan tentang bagaimana program komputer akan bereaksi jika bergerak “melampaui apa yang awalnya diinginkan para programmer.”

Kosinski sendiri punya latar belakang teknis yang relevan. Ia memegang gelar dari Stanford di bidang teknik mesin.

Bagian yang paling cepat mendekati kenyataan

Perkembangan komputasi kuantum dan teleportasi kuantum sudah berlangsung bertahun-tahun, meski tidak bekerja seperti di film. Caltech bahkan sudah mencapai bentuk awal dari konsep itu pada 1998, ketika mereka memindahkan keadaan kuantum cahaya dari satu sisi meja optik ke sisi lain tanpa melewati medium fisik di antaranya.

Sejak itu, kemajuannya terus berlanjut. Dalam beberapa tahun terakhir, para ilmuwan juga berhasil memindahkan informasi antarpartikel, lalu pada 2024 melakukan percobaan serupa melalui internet.

Eksperimen tersebut memindahkan sebuah foton lewat infrastruktur jaringan sambil meminimalkan gangguan sebanyak mungkin. Hasilnya, foton itu diterima dalam kondisi yang sama seperti saat dikirim.

Kenapa film itu terasa lebih masuk akal dari yang disangka

Daya tarik Tron: Legacy tidak hanya terletak pada visual dan musiknya. Film ini juga menarik karena mengambil lompatan dari ide-ide ilmiah yang memang sedang berkembang, lalu membungkusnya menjadi fiksi yang terasa meyakinkan.

Gagasan tentang program yang bertindak di luar niat awal pembuatnya juga kini terdengar semakin relevan. Pada 2026, model bahasa besar mulai dipakai untuk menulis kode, termasuk dalam praktik yang disebut vibe coding, ketika pengguna tidak sepenuhnya memahami apa yang dihasilkan program.

Anthropic, perusahaan yang mengoperasikan Claude, bahkan mengklaim bahwa sistemnya menulis sebagian besar kodenya sendiri. Perkembangan ini membuat premis tentang program yang bergerak melewati batas awal desainnya terasa tidak lagi sepenuhnya imajinatif.

Karena itu, Tron: Legacy kini terlihat sedikit lebih masuk akal secara ilmiah daripada yang mungkin diingat banyak orang. Film itu memang tetap fiksi, tetapi fondasinya dibangun dari pertanyaan nyata yang juga sedang dikejar sains modern.

Exit mobile version