Finland semakin dekat ke kemasan yang berbasis serat kayu, bukan plastik. Melalui proyek F3 – Films for Future, VTT Technical Research Centre dan LUT University melaporkan kemajuan pada film dan coating yang sepenuhnya berbahan selulosa untuk kemasan.
Arah pengembangannya jelas: mengurangi penggunaan plastik tanpa mengorbankan standar proses dan kinerja. Tim proyek menyebut material ini juga dirancang mengikuti tuntutan baru soal daur ulang, kandungan material, dan dampak siklus hidup yang semakin ketat di bawah aturan seperti EU Packaging and Packaging Waste Regulation (PPWR).
Selulosa diperlakukan sebagai polimer
Pendekatan utama proyek ini adalah mengolah selulosa sebagai polimer, bukan sekadar serat. Perubahan cara pandang itu membuka jalan bagi material film yang transparan, kuat, dan memiliki sifat penghalang yang mendekati kemasan plastik.
Pengembangan yang berbasis pada pelarutan dan regenerasi selulosa menjadi kunci dari capaian tersebut. Di tahap ini, proyek juga menunjukkan bahwa materialnya kompatibel dengan proses yang sudah ada, termasuk thermoforming.
Kinerja yang sudah mendekati plastik
Untuk film, hasil pengujian menunjukkan laju transmisi oksigen di bawah 1 cc/m²/hari pada 23°C dan 50% RH. Angka ini disebut sebanding dengan plastik konvensional, sehingga material tersebut tidak hanya tampil seperti film kemasan biasa, tetapi juga mendekati performanya.
Pada coating, hasilnya bahkan lebih rendah, dengan laju transmisi oksigen di bawah 0,2 cc/m²/hari. Di sistem kemasan berbasis serat yang bisa didaur ulang, performa penghalang lemaknya mencapai KIT 12.
Tetap selaras dengan akhir masa pakai
Salah satu nilai jual terbesar proyek ini adalah fleksibilitas pada akhir masa pakai. Film yang dikembangkan memang biodegradable secara desain, sementara material coating ditujukan untuk didaur ulang dalam sistem berbasis serat atau dibiodegradasi bila diperlukan.
Tim proyek menilai pendekatan ini mengurangi kompromi yang selama ini sering muncul pada banyak material berbasis hayati. Dalam banyak kasus, industri harus memilih antara performa teknis dan cara pengolahan akhir material, sementara platform F3 dirancang untuk mengatasi dua hal itu sekaligus.
Masih bisa dipakai di lini produksi yang ada
Selain cocok untuk sistem daur ulang atau biodegradasi sesuai kebutuhan, platform ini juga disebut dirancang agar bekerja dengan peralatan converting yang sudah digunakan industri. Artinya, adopsinya tidak harus bergantung pada perubahan besar di pabrik.
F3 juga tidak dibatasi pada pengganti plastik langsung. Teknologi ini dapat dipakai untuk coating penghalang, fitur antimikroba atau antioksidan, serta kemasan yang merespons kelembapan, komposisi gas, atau pH.
Aplikasi awal yang dibidik
Setelah demonstrasi produksi skala pilot pada beberapa aplikasi, tahap berikutnya difokuskan pada scale-up untuk penggunaan komersial. Aplikasi awal yang diidentifikasi mencakup kemasan makanan kering, produk bakery, dan kemasan berbasis serat yang membutuhkan lapisan penghalang transparan.
Fokus ini relevan karena kemasan plastik masih menjadi format yang sangat banyak dipakai, tetapi juga termasuk yang paling sulit didaur ulang. Ali Harlin, research professor di VTT sekaligus salah satu koordinator utama proyek F3, menyoroti bahwa plastik film adalah sumber polusi lingkungan persisten yang besar, sementara kebutuhan industri tetap menuntut perlindungan produk, umur simpan, dan efisiensi proses.
Ville Leminen, profesor teknologi kemasan di LUT University dan pemimpin subproyek LUT, menambahkan bahwa film dan coating selulosa tersebut sudah terbukti dapat diproses dalam berbagai proses converting kemasan. Dengan hasil itu, proyek F3 memberi sinyal bahwa kemasan berbahan selulosa mulai bergerak dari laboratorium menuju penggunaan yang lebih dekat dengan industri.
