6 Fakta Kucing Siam, Bulunya Bisa Berubah Warna Saat Suhu Turun

Kucing siam bukan sekadar dikenal karena wajahnya yang kontras dan mata biru keabu-abuan yang tajam. Ras ini juga menarik perhatian karena bulunya bisa berubah warna mengikuti suhu lingkungan.

Perubahan warna itu terjadi karena kucing siam memiliki gen pengubah khusus yang menghambat perkembangan pigmen pada bulu. Saat suhu tubuh atau lingkungan berada di atas ambang tertentu, bagian tubuh yang lebih hangat cenderung tampak lebih terang, sedangkan bagian yang lebih dingin seperti wajah, telinga, kaki, dan ekor menjadi lebih gelap.

Warna bulu yang unik dan dipengaruhi suhu

Pola warna kucing siam bisa terlihat dalam beberapa kombinasi, mulai dari putih dengan motif cokelat gelap hingga krem dengan bagian ujung tubuh berwarna hitam. Ada juga variasi warna lain seperti oranye, cokelat, krem, biru, dan ungu.

Sebagian besar anak kucing siam lahir dengan bulu putih sempurna. Warna khasnya baru muncul setelah kelahiran karena kondisi di dalam kandungan terlalu hangat untuk memunculkan pigmen pada bulu.

Secara ilmiah, gen pengubah pada ras ini hanya aktif pada suhu tertentu. Kisaran yang disebutkan berada di sekitar 100-102,5 derajat Fahrenheit atau 37-29 derajat Celsius, lalu pigmen kembali muncul ketika suhu turun di bawah 100 derajat Fahrenheit atau lingkungan menjadi lebih dingin.

Salah satu ras kucing tertua di dunia

Kucing siam juga dikenal sebagai salah satu ras tertua dari trah kucing peliharaan di dunia. Tidak ada kepastian kapan pertama kali ia dibiakkan dan dijinakkan, tetapi banyak yang meyakini asalnya dari Thailand sekitar abad ke-14.

Keyakinan itu didukung oleh penyebutan kucing siam dalam manuskrip Thailand. Jejak tertulis ini memperkuat statusnya sebagai ras yang sudah lama hidup berdampingan dengan manusia.

Mitos mata juling dan ekor bengkok

Banyak kucing siam memang memiliki mata juling dan ekor bengkok. Secara sains, kondisi itu terkait faktor genetik tertentu, tetapi ada pula legenda yang melekat pada ras ini.

Cerita yang beredar menyebut sekelompok kucing siam pernah ditugaskan menjaga piala emas kerajaan. Mereka disebut menatap piala dengan sangat fokus, lalu melilitkan ekor di sekitarnya, sehingga mata dan ekor mereka berubah permanen.

Saat ini, kucing siam dengan mata juling tidak lagi banyak ditemui. Peternak disebut menyilangkan ras ini untuk menghasilkan keturunan yang lebih baik.

Kucing kerajaan di Thailand

Di Thailand, kucing siam mendapat posisi istimewa sebagai hewan yang dihormati keluarga kerajaan. Penampilannya yang khas, tidak biasa, dan indah membuatnya dianggap pantas berada dekat lingkungan kerajaan.

Keluarga kerajaan juga meyakini kucing siam akan menerima jiwa mereka ketika meninggal. Setelah itu, kucing tersebut dipercaya akan tinggal di kuil dan dimanjakan oleh para biarawan serta pendeta.

Kucing yang cerewet dan cerdas

Selain penampilannya, suara kucing siam juga sangat khas. Banyak pemilik menyebut ras ini suka “bicara” karena bisa bersuara saat melihat makanan, memperhatikan sesuatu dari jendela, atau sekadar memberi reaksi pada hal di sekitarnya.

Julukan “Meezer” juga muncul dari pencinta kucing di negara Barat karena mengeongnya terdengar keras, serak, dan seperti merengek. Kecenderungan vokalnya membuat kucing siam sering terasa seolah sedang mengomentari keadaan di sekitarnya.

Kucing ini juga terkenal cerdas dan mudah bersosialisasi. Saat ditinggal pemiliknya, ia bisa menghibur diri dengan menyalakan keran, membuka lemari, atau mencari tempat persembunyian baru yang sulit ditemukan.

Perawatan yang tetap perlu diperhatikan

Meski bulunya tidak terlalu panjang dan perawatannya relatif mudah, kucing siam tetap memerlukan perhatian khusus. Menyisir bulunya setiap minggu membantu menghilangkan rambut mati dan menyebarkan minyak alami, sementara giginya perlu disikat setidaknya seminggu sekali.

Beberapa masalah kesehatan yang umum pada ras ini meliputi amiloidosis, asma atau bronkial, dan cacat jantung bawaan seperti stenosis aorta. Karena sifatnya aktif dan suka mengeksplorasi, kucing siam juga lebih baik dipelihara di dalam rumah dan tetap bisa hidup rukun dengan hewan lain.

Source: www.idntimes.com

Terkait