Heimdall Ringan 6,4 Kg, Mendeteksi Shahed Dari 5 Km Tanpa Membocorkan Posisi Pasukan

Di Eurosatory 2026 di Paris, Ribri Acoustics & Optics memperlihatkan pendekatan yang berbeda untuk menghadapi ancaman drone di garis depan. Sistem bernama Heimdall ini bekerja pasif, sehingga tidak memancarkan sinyal radar, pulse jamming, atau tanda elektronik lain yang bisa membuka posisi prajurit.

Dengan bobot 6,4 kilogram atau 14 pon, Heimdall dirancang sebagai sensor portabel untuk infanteri yang bergerak turun dari kendaraan. Sistem ini memberi peringatan awal, arah kedatangan ancaman, dan konfirmasi visual sebelum kontak langsung terjadi.

Dua sensor, satu rantai deteksi

Heimdall mengambil nama dari dewa Nordik penjaga ambang Asgard, dan konsepnya mengikuti peran itu. Paket ini menggabungkan dua node berbeda, yaitu HUGIN untuk akustik dan MUNIN untuk elektro-optik serta inframerah, agar deteksi, klasifikasi, pelacakan, dan konfirmasi bisa berlangsung sebelum respons kinetik atau elektronik dimulai.

Pada tahap awal, HUGIN menangkap suara rotor, tanda mesin, dan pola akustik amunisi loitering. Node ini memakai array 48 sel mikrofon MEMS dan pemrosesan edge-AI untuk mendeteksi, mengklasifikasi, dan melacak drone sayap putar, mesin pembakaran, serta munisi loitering di lingkungan yang bising.

Secara praktis, sistem ini mengubah suara menjadi petunjuk arah sebelum operator melihat target. Kemampuan itu penting karena banyak drone FPV terbang rendah, bergerak cepat, dan tidak memancarkan transmisi radio sebelum serangan.

Menjangkau target yang sulit dideteksi

Ribri menyebut HUGIN mampu mendeteksi drone FPV atau Class 3 hingga 600 meter. Untuk target tipe Shahed-136, jaraknya disebut melampaui 5.000 meter, atau sekitar 16.400 kaki.

Cakupan itu membuat Heimdall relevan untuk ancaman udara yang sering lolos dari pendekatan konvensional. Sistem ini juga menyasar drone FPV bertenaga fiber-optik, yang semakin menyulitkan deteksi berbasis frekuensi radio karena tidak memancarkan sinyal RF.

Dalam skenario seperti itu, deteksi akustik tetap berjalan karena suara rotor tetap terdengar, terlepas dari cara sinyal kendali dikirim. Karena itu, sistem pasif seperti Heimdall menutup celah yang tidak bisa dijangkau oleh detektor RF tradisional.

Konfirmasi visual tanpa radar

Setelah HUGIN memberi bearing cue, MUNIN mengambil alih untuk verifikasi. Node ini memakai arsitektur kamera tri-mode elektro-optik dan inframerah untuk memberikan konfirmasi visual serta memperhalus lintasan target.

Pendekatan itu memungkinkan operator mengidentifikasi kontak udara tanpa menyalakan radar. Bagi satuan yang beroperasi di area yang diawasi, kemampuan ini penting karena sensor aktif sering justru menjadi petunjuk keberadaan pasukan.

Heimdall juga dirancang untuk bekerja lewat TCP/IP dan jaringan seluler dalam rumah perangkat yang memenuhi standar MIL-STD-810G. Kombinasi ini memungkinkan pengawasan perimeter yang tahan perang elektronik dan data bearing, klasifikasi, serta konfirmasi optik diteruskan ke jaringan komando yang lebih luas.

Dirancang untuk medan tempur yang bising dan keras

Klaim ketahanan MIL-STD-810G menempatkan sistem ini untuk menghadapi suhu ekstrem, kelembapan, getaran, dan guncangan di lingkungan garis depan. Dengan bobot yang masih setara perlengkapan regu, Heimdall dapat dibawa tanpa transportasi kendaraan khusus.

Peran utamanya juga jelas: deteksi dan peringatan, bukan penghancuran. Posisi itu membuat Heimdall menjadi lapisan sensor yang memberi data ke pencegat kinetik dan sistem peperangan elektronik di tahap berikutnya, bukan pengganti keduanya.

Terkait