NASA bersiap menjalankan misi penyelamatan yang tidak biasa untuk menyelamatkan sebuah teleskop antariksa yang sedang turun perlahan ke Bumi. Alih-alih memakai roket peluncur darat, misi ini akan mengandalkan Lockheed L-1011 TriStar bernama Stargazer, satu-satunya pesawat di dunia yang masih bisa meluncurkan roket orbital dari udara.
Pesawat tua itu dijadwalkan lepas landas pada 27 Juni 2026 membawa muatan khusus untuk bertemu dengan Neil Gehrels Swift Observatory. Targetnya jelas: mendorong observatorium yang kehilangan energi itu ke orbit yang lebih tinggi dan lebih stabil sebelum hancur saat masuk kembali ke atmosfer.
Misi darurat untuk teleskop yang kehabisan waktu
Swift Observatory diluncurkan pada 20 November 2004 untuk mempelajari ledakan gamma. Setelah bertahun-tahun mengumpulkan data, satelit itu kehilangan energi akibat hambatan atmosfer dan kini terus turun mendekati Bumi.
Telemetry orbit menunjukkan ada peluang 50 persen terjadinya reentry atmosfer yang tak terkendali dan merusak pada pertengahan 2026 jika tidak ada intervensi. Karena itu, NASA memilih langkah yang bisa memberi teleskop itu dorongan mekanis yang dibutuhkan untuk bertahan lebih lama.
Rencana penyelamatan ini memanfaatkan sistem air-launch yang jarang digunakan. Di bawah badan Stargazer, terdapat roket Pegasus XL milik Northrop Grumman yang membawa wahana servis LINK buatan Katalyst Space, perusahaan rintisan asal Arizona.
Mengapa Stargazer jadi sangat penting
Stargazer kini menjadi satu-satunya pesawat di dunia yang mampu meluncurkan roket orbital dari udara. Status itu membuatnya menjadi bagian penting dari strategi darurat NASA untuk menyelamatkan satelit yang masih bernilai ilmiah.
Pesawat ini pertama kali dibuat pada 1974 sebagai pesawat penumpang berbadan lebar. Saat itu, ia termasuk salah satu jet komersial pertama dengan dua lorong kabin, yang memungkinkan kapasitas penumpang lebih besar.
Pada 1994, Orbital Sciences Corporation milik Northrop Grumman meminta Marshall Aerospace membangun ulang pesawat itu sepenuhnya. Perombakan tersebut mengubahnya dari jet penumpang menjadi platform peluncuran udara khusus.
Selama 32 tahun masa operasi khususnya, tri-jet vintage yang sudah dimodifikasi itu telah menyelesaikan hampir 50 peluncuran orbital dengan konfigurasi Pegasus XL. Rekam jejak itu menjadi salah satu alasan pesawat ini kembali dipilih untuk misi yang menuntut presisi tinggi.
Cara kerja penyelamatan di ketinggian
Dalam misi ini, Stargazer akan terbang hingga ketinggian 40.000 kaki atau sekitar 12.000 meter sebelum melepaskan Pegasus XL dari bawah badannya. Setelah dilepas, roket akan meluncur bebas selama lima detik agar menjauh dari pesawat, lalu menyalakan mesin tahap pertamanya.
Peluncuran dari udara memberi keuntungan penting bagi misi ini. Roket bisa lebih cepat mencapai orbit rendah Bumi dan tidak harus melewati bagian atmosfer paling tebal yang menjadi tantangan utama bagi peluncuran dari darat.
NASA memilih Pegasus XL karena tuntutan orbit Swift sangat spesifik dan anggarannya ketat. Orbit Swift berada pada kemiringan 20,6 derajat, yang sengaja dipilih untuk menghindari South Atlantic Anomaly.
Orbit khusus, biaya khusus
South Atlantic Anomaly adalah area lemah yang besar dan tidak stabil dalam medan magnet Bumi. Wilayah ini sering membuat satelit terpapar radiasi kuat yang berbahaya.
Memenuhi bidang orbit 20,6 derajat itu dari landasan peluncuran biasa akan membutuhkan propelan dalam jumlah sangat besar. Akibatnya, bobot kendaraan dan biaya akan meningkat tajam.
Karena Stargazer bisa terbang langsung ke titik peluncuran terbaik, Pegasus menjadi satu-satunya roket yang dapat menyesuaikan orbit Swift sekaligus tetap sesuai anggaran NASA. Jika misi ini berhasil, pendekatan tersebut bisa menjadi contoh baru yang lebih terjangkau untuk memakai robot guna menjaga satelit sains lama tetap berfungsi.
Wahana LINK yang dibawa Pegasus XL akan bertemu secara otomatis dengan Swift Observatory yang sedang turun. Setelah rendezvous, LINK akan mendorong teleskop itu ke orbit yang jauh lebih tinggi agar terlindung dari hambatan atmosfer dan terhindar dari burn-up saat reentry.
