Kenapa Pesawat Perang Dunia I Punya Tiga Sayap, Ternyata Ini Kelebihan dan Kelemahannya

Perang Dunia I menjadi masa uji coba besar bagi desain pesawat tempur. Salah satu eksperimen paling mencolok adalah triplane, pesawat dengan tiga sayap yang sempat memberi keunggulan nyata di udara sebelum akhirnya menghilang dari medan perang.

Pertanyaan mengapa beberapa pesawat Perang Dunia I memakai tiga sayap terjawab oleh kebutuhan sederhana: pilot butuh pandangan lebih luas, tetapi pesawat juga tetap harus menghasilkan daya angkat yang cukup. Pada era itu, mesin masih lemah, sementara sayap biplane yang besar kerap menghalangi pandangan ke depan.

Solusi di balik sayap ketiga

Gagasan tiga sayap sebenarnya sudah muncul sebelum perang besar dimulai. Pada 1909, Alliot Verdon Roe menjadi pilot Inggris pertama yang terbang dengan pesawat sepenuhnya buatan Inggris, dan pesawat itu adalah triplane.

Triplane mulai benar-benar menarik perhatian setelah Sopwith Triplane muncul. Sopwith Aviation Company menumpuk satu sayap tambahan untuk mengatasi masalah sayap besar pada biplane tanpa mengorbankan daya angkat secara drastis.

Hasilnya, pesawat ini mampu memberi pilot bidang pandang yang lebih baik dan tetap menghasilkan lift yang memadai. Triplane juga lebih mudah bermanuver dan dapat naik ke ketinggian lebih besar.

Mengapa sempat begitu mematikan

Keunggulan itu membuat triplane langsung populer saat pertama kali terbang pada 1916. Royal Naval Air Service mengadopsinya, dan unit No.10 Naval Squadron yang dikenal sebagai “Black Flight” memakainya untuk menekan lawan di udara.

Dalam pertempuran, triplane terbukti efektif. Pesawat-pesawat itu dikaitkan dengan 87 kemenangan atas pesawat Jerman, sebuah angka yang menunjukkan betapa berbahayanya desain tiga sayap saat pertama kali muncul.

Salah satu nama paling terkenal yang menyukainya adalah Manfred von Richthofen, atau Red Baron. Ia memenangkan 80 duel udara sepanjang kariernya dan menjadi sosok paling lekat dengan era triplane.

Di pihak Jerman, responsnya adalah Fokker Dr.I. Pesawat ini juga segera mencetak sukses setelah debutnya pada 1917 dan menjadi ikon karena hubungannya dengan Richthofen.

Flying Circus Squadron yang dipimpin Richthofen mengecat triplane itu dengan warna merah dan kuning cerah. Menurut catatan yang ada, Jerman membangun total 320 unit Dr.I, dan pesawat tersebut memenangkan lebih dari 600 dogfight selama masa pakainya.

Mengapa tiga sayap akhirnya ditinggalkan

Meski menawarkan lift tambahan, triplane membawa masalah besar: hambatan udara. Sayap ketiga membuat pesawat lebih lambat dibanding biplane, padahal kecepatan menjadi faktor penting dalam duel udara.

Perbandingannya sederhana. Semakin besar hambatan udara, semakin sulit pesawat melaju cepat, dan triplane membayar manfaat manuver dengan penurunan kecepatan. Saat biplane yang lebih baik seperti Sopwith Camel hadir, keunggulan triplane mulai hilang.

Sopwith Camel mampu mengungguli triplane dalam kecepatan, tetapi tetap lincah di udara. Kombinasi itu membuat triplane makin tidak relevan dan pada akhir 1918 mulai tersingkir dari garis depan.

Ada juga masalah struktur. Sayap Sopwith Triplane kadang patah saat tekanan tinggi, seperti ketika melakukan penyelaman tajam, karena penguat kawat yang lebih lemah.

Fokker Dr.I juga mengalami persoalan serupa. Setidaknya ada dua laporan sayapnya terlepas, hingga pesawat itu sempat di-grounding sementara.

Kerumitan perawatan dan perbaikan ikut mempercepat kemunduran desain ini. Triplane pun tinggal menjadi fase singkat dalam sejarah penerbangan tempur, ketika tiga sayap sempat dianggap jawaban terbaik untuk perang udara yang masih sangat muda.

Terkait