Setiap satelit tidak hanya berbeda dari sisi teknologi, tetapi juga dari orbit yang dipilih untuk menjalankan misinya. Penentuan orbit menjadi kunci karena satelit komunikasi, navigasi, dan pengamatan Bumi membutuhkan karakter lintasan yang berbeda.
Menurut Perekayasa Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Nurul Muhtadin, ada 3 jenis orbit satelit yang paling banyak dimanfaatkan, yaitu Geostationary Earth Orbit (GEO), Medium Earth Orbit (MEO), dan Low Earth Orbit (LEO). Masing-masing punya keunggulan sekaligus keterbatasan yang memengaruhi efektivitas misi satelit.
| Jenis Orbit | Fungsi Utama | Keunggulan | Keterbatasan |
|---|---|---|---|
| GEO | Komunikasi | Cakupan wilayah luas, layanan berlangsung kontinu | Latensi lebih tinggi |
| MEO | Navigasi | Akurasi penentuan posisi baik, cakupan luas | Tidak disebutkan secara rinci |
| LEO | Observasi Bumi | Citra beresolusi tinggi, latensi rendah | Jangkauan ke stasiun bumi terbatas, perlu sistem pelacakan antena |
Satelit GEO berada pada ketinggian sekitar 36.000 kilometer dari permukaan Bumi dan bergerak dengan kecepatan yang hampir sama dengan rotasi Bumi. Karena itu, satelit tampak diam jika diamati dari permukaan Bumi dan cocok untuk komunikasi yang menuntut koneksi terus-menerus.
“Satelit GEO biasanya digunakan untuk komunikasi. Kecepatannya hampir sama dengan rotasi Bumi sehingga posisinya tampak tetap terhadap suatu wilayah di permukaan bumi,” kata Nurul Muhtadin di hadapan mahasiswa Universitas Hang Tuah Surabaya di Pusat Riset Teknologi Satelit, Kawasan Sains Ibnoe Soebroto Bogor, Rabu (8/7/2026), dikutip BRIN.
Di sisi lain, orbit MEO banyak dipakai untuk sistem navigasi. Orbit ini dinilai mampu memberi akurasi posisi yang baik dengan cakupan wilayah yang luas, sehingga mendukung layanan penentuan lokasi secara lebih presisi.
Sementara itu, LEO berada lebih dekat ke permukaan Bumi. Orbit ini cocok untuk observasi karena mampu menghasilkan citra beresolusi tinggi dengan latensi rendah, tetapi satelit bergerak cepat dan hanya berada dalam jangkauan stasiun bumi dalam waktu terbatas.
Lintasan Ekuatorial dan Polar
Selain dibedakan berdasarkan ketinggian, satelit juga dapat dibedakan dari lintasan orbitnya, yaitu ekuatorial dan polar. Penentuan lintasan disesuaikan dengan tujuan misi satelit.
Nurul menjelaskan, LAPAN-A2 menggunakan orbit ekuatorial dan mampu melintasi wilayah Indonesia sekitar 14 kali setiap hari. Satelit ini menjalankan misi pengamatan Bumi sekaligus membawa misi komunikasi radio amatir.
Sementara itu, LAPAN-A3 menggunakan orbit polar yang melintasi Indonesia sekitar 6 kali setiap hari. Satelit ini dilengkapi kamera multispektral untuk berbagai kebutuhan pengamatan Bumi, termasuk analisis vegetasi.
| Satelit | Jenis Lintasan | Frekuensi Melintasi Indonesia | Misi Utama |
|---|---|---|---|
| LAPAN-A2 | Ekuatorial | Sekitar 14 kali setiap hari | Pengamatan Bumi dan komunikasi radio amatir |
| LAPAN-A3 | Polar | Sekitar 6 kali setiap hari | Pengamatan Bumi dengan kamera multispektral |
BRIN menilai kemampuan membangun satelit secara mandiri sebagai langkah strategis untuk mendukung kebutuhan nasional dan memperkuat kemandirian teknologi antariksa. Nurul menyebut Indonesia sudah membuktikan kemampuan itu lewat LAPAN-A1, LAPAN-A2, dan LAPAN-A3 yang telah mengorbit.
“Indonesia sudah mampu membuat satelit sendiri. Satelit A1 diluncurkan pada 2007, A2 pada 2015, dan A3 pada 2016. Ketiganya diluncurkan menggunakan roket India,” ujarnya. Ia menambahkan, pengembangan terus berlanjut melalui Nusantara Earth Observation-1 (NEO-1) yang dilengkapi kamera multispektral beresolusi tinggi, sensor magnetometer, dan sistem komunikasi data.
BRIN juga mengembangkan Nusantara Equatorial IoT (NEI) untuk mendukung peringatan dini bencana melalui pengumpulan data sensor. Sistem ini ditujukan untuk kebutuhan seperti peringatan tsunami, cuaca, dan gempa, sekaligus mendukung komunikasi kebencanaan serta pemantauan aktivitas maritim dan penerbangan.







