Para astronom akhirnya menemukan planet yang selama lebih dari 11 tahun bersembunyi di dekat bintang muda Beta Pictoris. Objek ini istimewa karena menjadi planet paling redup yang pernah berhasil dicitrakan secara langsung dari Bumi.
Temuan ini membuka jendela baru untuk memahami pembentukan sistem planet di luar Tata Surya. Planet tersebut sempat luput dari pengamatan karena tertutup cahaya terang bintang induknya dan dua planet lain yang lebih dulu diketahui mengorbit sistem yang sama.
Ditemukan Dua Tim Secara Terpisah
Penemuan ini menjadi unik karena datang dari dua tim astronom yang bekerja secara independen menggunakan teleskop berbeda. Tim pertama dipimpin peneliti dari Skotlandia dan Jerman dengan Very Large Telescope milik European Southern Observatory di Chile.
Tim kedua yang dipimpin peneliti dari Universitas California San Diego menemukan objek yang sama lewat Teleskop Luar Angkasa James Webb milik NASA. Keduanya tidak saling mengetahui hasil riset masing-masing sampai akhirnya mencapai kesimpulan yang sama.
| Tim | Teleskop | Hasil Utama |
|---|---|---|
| Tim Skotlandia dan Jerman | Very Large Telescope milik ESO | Menemukan kandidat planet dan menelusuri arsip pengamatan |
| Tim Universitas California San Diego | Teleskop Luar Angkasa James Webb milik NASA | Mendeteksi objek yang sama secara terpisah |
Hasil penelitian ini dipublikasikan pada Rabu, 15/7/2026, di jurnal ilmiah Astrophysical Journal Letters. Menurut laporan www.beritasatu.com, kedua tim sengaja menjaga kerahasiaan riset agar analisis ilmiah mereka tidak saling memengaruhi.
Seperti Main Petak Umpet Selama 11 Tahun
Markus Bonse dari ESO mengatakan planet itu seperti terus bermain petak umpet selama 11 tahun. Selama periode itu, objeknya sebenarnya sudah terekam dalam data pengamatan, tetapi terlalu sulit dikenali karena posisinya sangat dekat dengan cahaya Beta Pictoris.
Objek tersebut juga tersamarkan oleh dua planet lain yang sudah lebih dulu ditemukan di sistem itu. Baru setelah teknologi pencitraan berkembang dan arsip lama dianalisis ulang, orbit planet ini bisa dipastikan.
Penemuan itu juga terjadi tanpa sengaja. Awalnya, para astronom sedang mempelajari salah satu planet yang sudah diketahui di sistem Beta Pictoris, lalu menemukan objek lain yang massanya lebih kecil dan tingkat kecerahannya sekitar 100 kali lebih redup.
Ukuran Lebih Besar dari Jupiter, Orbitnya 91 Tahun
Hasil analisis menunjukkan planet baru ini merupakan raksasa gas yang ukurannya sedikit lebih besar dari Jupiter. Planet ini membutuhkan sekitar 91 tahun untuk mengelilingi bintang induknya satu kali.
Karena jarak orbitnya cukup jauh, suhu planet tergolong dingin dan masuk kategori raksasa gas dingin. Keberadaan planet seperti ini penting karena membantu astronom memahami bagaimana planet-planet besar terbentuk di sistem yang masih muda.
| Fakta Planet | Detail |
|---|---|
| Jenis | Raksasa gas dingin |
| Ukuran | Sedikit lebih besar dari Jupiter |
| Periode orbit | Sekitar 91 tahun |
| Kecerahan | Sekitar 100 kali lebih redup dari planet yang sedang diamati |
Beta Pictoris Masih Sangat Muda
Beta Pictoris diperkirakan baru berusia sekitar 20 juta tahun, jauh lebih muda dibanding tata surya yang berusia sekitar 4,5 miliar tahun. Usia inilah yang membuat sistem tersebut menjadi laboratorium alami untuk mempelajari tahap awal pembentukan planet.
Aidan Gibbs dari Universitas California San Diego menjelaskan bahwa planet raksasa di sana kemungkinan sudah selesai terbentuk. Sementara itu, planet berbatu seperti Bumi masih mungkin terus berkembang di sistem yang sedang menuju stabilisasi tersebut.
Sistem Beta Pictoris juga dikenal aktif karena asteroid dan komet masih sering bergerak dan bertabrakan. Kondisi itu membuat para astronom melihatnya sebagai contoh penting dari sistem planet yang sedang memasuki fase stabil.
Salah Satu Sistem Paling Sering Dipelajari
Beta Pictoris berada di konstelasi selatan Pictor dan berjarak sekitar 63 tahun cahaya dari Bumi. Sejak pertama kali dipelajari pada dekade 1980-an, sistem ini terus menjadi target pengamatan karena memiliki piringan debu besar yang menandakan masih berlangsungnya pembentukan sistem planet.
NASA mencatat lebih dari 6.000 planet ekstrasurya sudah ditemukan. Namun, kurang dari 100 di antaranya berhasil ditemukan lewat pencitraan langsung seperti pada temuan terbaru ini.
Metode itu memang jauh lebih sulit karena astronom harus memisahkan cahaya planet yang sangat redup dari cahaya bintang yang jutaan kali lebih terang. Ben Sutlieff dari Universitas Edinburgh mengatakan citra langsung yang sudah diperoleh akan membuka jalan untuk meneliti atmosfer, komposisi, dan suhu planet tersebut secara lebih rinci.
Dengan kemampuan observasi dari JWST dan VLT, para astronom masih menaruh harapan besar bahwa ada banyak planet redup lain yang selama ini tersembunyi di balik cahaya bintang induknya dan menunggu ditemukan.
