Indonesia dan Inggris baru saja melanjutkan kerja sama dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan ekosistem digital. Pertemuan bilateral ini berlangsung di London Tech Week, yang melibatkan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Indonesia, Nezar Patria, dan Menteri Inggris untuk Indo-Pasifik, Chaterine West. Diskusi ini berfokus pada penyusunan peta jalan AI, yang diharapkan menjadi fondasi dalam memanfaatkan AI sebagai akselerator ekonomi digital di Indonesia.
Nezar Patria mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia tengah berupaya mendorong tata kelola AI yang lebih kuat. Dalam keterangan resminya, ia mengatakan, “Peta Jalan AI Indonesia diharapkan menjadi dasar untuk strategi nasional dalam pengembangan ekonomi digital.” Komitmen ini juga termasuk menciptakan ekosistem digital yang inklusif dan berkelanjutan, serta menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
Chaterine West menambahkan bahwa kerja sama ini akan dikelola melalui kantor kedutaan besar Inggris di Jakarta dan British Council. Program Digital Access menjadi salah satu inisiatif yang bertujuan mendukung transformasi digital yang inklusif di Indonesia. “Kami ingin memperbesar manfaat ekonomi digital, membantu startup lokal dalam mengakses pendanaan, serta membuka kesempatan kolaborasi dengan perusahaan teknologi Inggris dan akses pasar industri digital Eropa,” ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, delegasi Indonesia membahas beberapa poin kunci terkait pengembangan AI dengan Departemen Ilmu Pengetahuan, Inovasi, dan Teknologi (DSIT) Inggris. Salah satunya adalah pembangunan infrastruktur AI yang kokoh. Inggris telah menginvestasikan lebih dari £1 miliar atau sekitar Rp21,9 triliun dalam empat tahun terakhir untuk memperkuat riset di bidang AI dan pengembangan pusat data berskala besar. Indonesia, di sisi lain, menekankan pentingnya membangun pusat data nasional, pengembangan chip AI, dan peningkatan daya komputasi melalui kemitraan lintas sektor.
Selain infrastruktur, delegasi Indonesia juga membahas kebutuhan akan talenta digital. Diperkirakan Indonesia akan membutuhkan sekitar 9 juta talenta digital hingga tahun 2030. Hal ini mendesak untuk mengantisipasi pertumbuhan sektor digital yang pesat, sehingga pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia menjadi prioritas.
Aspek tata kelola AI juga menjadi perhatian penting. Indonesia telah menerbitkan Surat Edaran Menteri tentang Etika AI dan tengah menyiapkan regulasi komprehensif sebagai pedoman pengembangan AI yang aman dan etis. Inggris, di sisi lain, mengembangkan pendekatan regulasi berbasis sektor, didukung oleh lembaga seperti AI Security Institute, yang berfungsi untuk mengkaji risiko AI canggih secara global. Mereka turut melibatkan Indonesia dalam panel internasional untuk mengidentifikasi dan memitigasi risiko yang mungkin muncul.
Kerja sama ini diharapkan dapat mendorong kolaborasi lebih lanjut dalam berbagai aspek, mulai dari riset dan pengembangan hingga regulasi. Dengan berkolaborasi, kedua negara tidak hanya bisa lebih cepat beradaptasi dengan perkembangan teknologi tetapi juga memastikan bahwa penggunaan AI dapat mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.
Melalui kolaborasi ini, baik Indonesia maupun Inggris memiliki harapan besar dalam memanfaatkan teknologi untuk kemajuan ekonomi dan sosial. Kerja sama erat dalam bidang AI dapat menjadi contoh bagi negara lain di kawasan Asia Tenggara.
Selanjutnya, Indonesia diharapkan bisa memanfaatkan berbagai pengalaman dan praktik terbaik dari Inggris, guna memperkuat ekosistem digital yang ada saat ini dan mendatang. Dengan pendekatan yang komprehensif dan inklusif, potensi untuk meningkatkan daya saing Indonesia di panggung internasional semakin terbuka lebar.





