Katak Semak Baru dari Lereng Merapi Terungkap, Habitatnya Sangat Terbatas

Author: Qoo Media

Lereng Gunung Merapi menyimpan temuan penting bagi keanekaragaman hayati Indonesia. Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional menemukan katak semak baru yang persebarannya sejauh ini diketahui sangat terbatas di kawasan tersebut.

Spesies itu diberi nama Philautus candrageni, katak endemik Pulau Jawa yang memiliki pembeda jelas dari kerabatnya. Keterbatasan habitatnya sekaligus membuat spesies ini rentan terhadap perubahan lingkungan pegunungan.

Terungkap lewat penelitian bertahun-tahun

Penelitian dipimpin Alamsyah Elang Nusa Herlambang dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN bersama sejumlah kolaborator. Tim melakukan survei lapangan serta analisis spesimen selama beberapa tahun sebelum memastikan bahwa katak tersebut merupakan spesies baru.

Survei intensif berlangsung sejak 2017 hingga 2025 di sejumlah kawasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Peneliti juga memeriksa koleksi spesimen yang tersimpan di Museum Zoologicum Bogoriense dan Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah BRIN.

Lokasi yang Dikaji Peran dalam Penelitian
Gunung Ungaran Lokasi survei lapangan
Pegunungan Menoreh Lokasi survei lapangan
Gunung Merapi Lokasi persebaran Philautus candrageni yang teridentifikasi

Hasil kajian menunjukkan Philautus candrageni hidup di kawasan perkebunan dan habitat pegunungan pada ketinggian menengah di lereng Merapi. Temuan itu menambah jumlah spesies dalam genus Philautus yang diketahui endemik di Jawa.

Tiga petunjuk yang membedakannya

Identifikasi spesies baru ini tidak hanya didasarkan pada penampilan fisik. Tim memakai pendekatan taksonomi integratif yang menggabungkan data morfologi, genetik, dan suara panggilan.

Dari sisi tubuh, katak ini berukuran sedang dengan struktur kepala khas. Area antara mata dan hidung, yang disebut canthus rostralis, tampak tegas, sementara tekstur kulit bagian punggungnya relatif halus.

Pembeda lain muncul ketika musim kawin. Katak semak ini memiliki pola panggilan unik yang terdiri dari tiga macam nada, berbeda dari spesies Philautus lain.

Alamsyah menjelaskan, “Philautus candrageni memiliki ukuran tubuh sedang. Struktur kepalanya memiliki canthus rostralis (area antara mata dengan hidung) yang tegas.”

Ia juga menyebut katak tersebut mempunyai tekstur kulit dorsal atau punggung yang relatif halus. “Ketika hendak kawin, katak ini punya pola panggilan unik yang terdiri dari tiga macam nada,” kata Alamsyah dalam keterangan BRIN yang diberitakan inet.detik.com.

DNA dan suara membuka keragaman tersembunyi

Analisis filogenetik molekuler dilakukan menggunakan DNA mitokondria, lalu dipadukan dengan kajian bioakustik terhadap suara panggilan katak. Kombinasi metode tersebut membantu peneliti membedakan hewan yang tampak serupa, tetapi sebenarnya berasal dari garis evolusi dan spesies berbeda.

Keragaman seperti ini dikenal sebagai cryptic diversity atau keragaman tersembunyi. Dalam kasus katak semak Jawa, pemeriksaan menyeluruh diperlukan agar perbedaan antarspesies tidak luput hanya karena bentuk luarnya mirip.

Penelitian yang sama juga memperjelas status taksonomi Philautus jacobsoni. Spesies itu berstatus terancam punah, memiliki persebaran sangat terbatas, dan sempat masuk kelompok lost species karena lama tidak ditemukan.

Habitat sempit menjadi perhatian konservasi

Persebaran yang hanya teridentifikasi di lereng Merapi membuat Philautus candrageni menghadapi risiko besar bila kondisi lingkungannya berubah. Penurunan kualitas habitat akibat aktivitas manusia serta perubahan ekosistem pegunungan dapat mengganggu kelangsungan populasinya.

BRIN menilai langkah konservasi yang lebih terarah diperlukan untuk menjaga habitat alami spesies endemik tersebut. Upaya itu penting agar populasi katak ini tetap bertahan di alam.

Temuan ini telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Zootaxa Volume 5768 edisi Maret 2026 melalui makalah berjudul Revisiting the Taxonomy of Javan Philautus (Anura: Rhacophoridae), with the Description of a New Species. Kajian tersebut menunjukkan kekayaan amfibi Indonesia, khususnya di Jawa, masih menyimpan keragaman yang belum sepenuhnya terungkap.

Terbaru