FIFA menjual potongan rumput asli dari lapangan final Piala Dunia 2026 sebagai suvenir koleksi bernama Piece of the Pitch. Harga paket termurahnya mencapai 450 dolar AS, atau sekitar Rp 8,1 juta berdasarkan informasi yang dipublikasikan FIFA.
Rumput tersebut akan digunakan di New York New Jersey Stadium atau MetLife Stadium untuk laga final antara Spanyol dan Argentina. Benda yang biasanya diinjak pemain kini diposisikan sebagai fragmen sejarah dari panggung terbesar sepak bola.
FIFA menyediakan empat edisi koleksi, dengan harga yang membentang dari paket Foundation hingga Hero. Namun, detail harga yang diumumkan secara terbuka memperlihatkan jarak besar antara edisi dasar dan paket paling lengkap.
| Edisi | Harga | Isi yang Disebutkan |
|---|---|---|
| Foundation | 450 dolar AS | Potongan rumput asli lapangan turnamen |
| Hero | 3.000 dolar AS | Potongan rumput, replika trofi kristal, dan bola final Adidas Trionda |
Dalam keterangan produknya, FIFA menyebut koleksi itu berisi fragmen asli lapangan turnamen yang diawetkan sebagai barang koleksi bersejarah. Dengan kata lain, nilai jualnya tidak hanya terletak pada material rumput, melainkan pada keterkaitannya dengan pertandingan final.
Rumput yang Sempat Dikeluhkan
Menariknya, rumput yang kini dijual sebagai memorabilia itu sempat menjadi bahan keluhan sejumlah pemain pada awal turnamen. Pemain dari Brasil dan Perancis menilai permukaannya kering serta sulit dimainkan.
Rumput tersebut didatangkan dari peternakan rumput di North Carolina dan dipasang pada awal Mei 2026. Penggunaan lapangan alami itu menjadi bagian dari upaya FIFA menjaga karakter permukaan pertandingan di stadion-stadion dengan kondisi yang sangat berbeda.
FIFA Piala Dunia 2026 mewajibkan pemakaian rumput alami di seluruh 16 stadion utama, termasuk venue yang dalam penggunaan sehari-hari memakai rumput sintetis untuk pertandingan klub-klub NFL. Kebijakan itu membuat persiapan lapangan tidak sekadar soal memasang hamparan hijau sebelum pertandingan.
FIFA dilaporkan menginvestasikan lebih dari 5 juta dolar AS untuk merekayasa rumput dengan kualitas yang konsisten di berbagai iklim. Strateginya mencakup campuran Kentucky bluegrass dan ryegrass abadi, pengangkutan sod di atas lembaran plastik, serta penggunaan rumput hybrid yang diperkuat serat sintetis pada struktur akar.
Tantangan Memasang Lapangan Alami
Di Lumen Field, Seattle, tim lapangan menanam rumput alami di atas lapisan pasir setebal enam inci yang ditempatkan di atas rumput sintetis lama. Pakar rumput FIFA, Trey Rogers, mengatakan kepada Seattle Times bahwa lapisan pasir tersebut membuat pemain tetap merasakan reaksi rumput alami.
Proses serupa juga membutuhkan logistik khusus di BC Place, Vancouver. Tim lapangan mengatakan kepada Canadian Geographic, “Peralatan sangat khusus digunakan untuk memanen rumput menjadi gulungan raksasa.”
Pengangkutan rumput di Vancouver melibatkan truk berpendingin dan mesin panen khusus. Detail ini menunjukkan bahwa lapangan pertandingan tidak dapat diperlakukan seperti rumput biasa yang cukup digelar sesaat sebelum laga.
Perdebatan Risiko Cedera
Pilihan antara Rumput Alami dan rumput sintetis juga berkaitan dengan perdebatan tentang cedera pemain. Bukti ilmiahnya belum sepenuhnya seragam karena hasil riset dapat berbeda menurut jenis olahraga maupun cedera yang diteliti.
Meta-analisis tahun 2021 dalam British Journal of Sports Medicine yang mencakup 11 studi dan lebih dari 8.000 player-season tidak menemukan perbedaan signifikan pada tingkat cedera keseluruhan. Kajian itu membandingkan rumput sintetis bersertifikasi FIFA dengan rumput alami.
Namun, studi terhadap pemain American football NCAA menemukan cedera ligamen lutut, termasuk ACL dan PCL, lebih sering terjadi di Rumput Sintetis. Temuan tersebut dikutip dari CapillaryFlow dalam laporan mengenai perbedaan permukaan lapangan.
Analisis Steadman Philippon Research Institute atas data NFL periode 2016 hingga 2021 juga menemukan hampir semua jenis cedera umum lebih sering terjadi di rumput sintetis. Selisihnya disebut berkisar 2 hingga 62 persen dibandingkan rumput alami, dari cedera pergelangan kaki sampai hamstring.
Ada pula riset yang mengaitkan rumput alami dengan risiko gegar otak yang lebih rendah daripada rumput sintetis. Di tengah perdebatan tersebut, FIFA tetap memilih lapangan alami dan bahkan menjadikan sebagian kecil permukaannya sebagai suvenir bernilai tinggi.







