Mimpi yang sangat jelas kerap membuat seseorang merasa sedang berada di tempat lain, bertemu orang yang nyata, atau mengalami peristiwa di luar logika. Namun, rasa nyata itu belum menjadi bukti bahwa manusia mengakses dunia paralel saat tidur.
Guru Besar Fisika Teori IPB University, Prof Husin Alatas, menegaskan belum ada bukti ilmiah yang menghubungkan mimpi dengan realitas lain. Dalam pemahaman sains saat ini, mimpi lebih dekat dengan aktivitas kompleks otak yang tetap berlangsung selama tidur.
Otak manusia terdiri atas miliaran neuron yang saling berkomunikasi melalui sinyal listrik dan zat kimia bernama neurotransmiter. Saat terjaga, jaringan ini menerima serta mengolah informasi dari lingkungan untuk membentuk persepsi tentang realitas.
Proses tersebut tidak berhenti sepenuhnya ketika seseorang tertidur. Otak tetap aktif, terutama pada fase rapid eye movement atau REM, ketika mimpi paling sering muncul dengan gambaran yang kuat dan rinci.
Aktivitas otak saat fase REM
Pada fase REM, aktivitas sejumlah wilayah otak dapat mendekati kondisi ketika seseorang terjaga. Kondisi ini membantu menjelaskan mengapa jalan cerita, emosi, dan suasana dalam mimpi kadang terasa begitu meyakinkan.
Menurut Prof Husin, otak pada saat tidur memproses kembali pengalaman, emosi, dan ingatan yang diperoleh ketika terjaga. Hipokampus bersama jaringan korteks ikut berperan dalam konsolidasi memori tersebut.
Karena itu, wajah orang yang pernah ditemui, tempat yang pernah dikunjungi, atau kejadian lama dapat muncul kembali dalam mimpi. Otak juga dapat merangkai fragmen-fragmen memori itu dengan imajinasi secara kreatif.
Rangkaian yang terbentuk tidak selalu tunduk pada logika kehidupan sehari-hari. Aktivasi spontan di berbagai jaringan otak selama REM dapat membuat perpindahan tempat, waktu, hingga peristiwa dalam mimpi terasa ganjil tetapi tetap nyata bagi yang mengalaminya.
Penjelasan dari neurosains memandang pengalaman tersebut sebagai konstruksi internal otak. Konstruksi inilah yang dapat memberi kesan seolah mimpi berasal dari realitas yang berbeda.
Teori alam semesta paralel belum menjadi bukti
Fisika modern memang mengenal gagasan tentang kemungkinan adanya alam semesta lain. Salah satunya adalah interpretasi Many-Worlds dalam mekanika kuantum, yang mengusulkan setiap kemungkinan hasil pengukuran kuantum dapat terealisasi pada cabang alam semesta berbeda.
Selain itu, ada hipotesis multiverse dalam kosmologi yang berkembang dari teori inflasi kosmik. Meski demikian, kedua gagasan tersebut masih bersifat teoretis dan belum memiliki bukti observasional langsung.
Seperti dilaporkan www.kompas.com, Prof Husin menekankan belum ada teori fisika yang mengaitkan aktivitas otak ketika bermimpi dengan akses menuju alam semesta paralel. Klaim bahwa mimpi adalah bukti dunia paralel karena itu lebih tepat ditempatkan sebagai spekulasi filosofis atau interpretasi metafisis.
Penelitian mengenai mekanisme mimpi masih terus berkembang dan belum menjawab seluruh pertanyaan tentang pengalaman tidur manusia. Akan tetapi, pengetahuan ilmiah yang tersedia saat ini menempatkan mimpi sebagai hasil interaksi ingatan, emosi, persepsi, dan imajinasi di dalam otak.







