Asteroid Bukan Penyebab Utama Tuna Berdarah Panas, Studi Baru Ubah Narasinya

Gagasan bahwa hantaman asteroid memicu tuna menjadi ikan besar berdarah panas kini dipertanyakan oleh studi baru. Analisis evolusi terbaru menunjukkan perubahan penting pada kelompok tuna berlangsung jauh lebih bertahap daripada narasi yang selama ini populer.

Sifat berdarah panas pada kerabat tuna ternyata tidak muncul sekali sebagai respons langsung terhadap kepunahan dinosaurus. Karakter tersebut berkembang secara terpisah setidaknya tiga kali dalam keluarga ikan Scombridae.

Tuna termasuk famili ikan predator bernama Scombridae, yang juga mencakup tenggiri dan cakalang. Kelompok ini menyumbang sekitar separuh spesies ikan bersirip kipas yang mampu mempertahankan suhu tubuh lebih hangat, atau endoterm.

Selama ini, nenek moyang tuna sering digambarkan segera mengisi kekosongan ekologi setelah ikan raksasa dan reptil laut Zaman Kapur lenyap akibat hantaman asteroid. Dalam gambaran tersebut, tubuh besar dan kemampuan menghasilkan panas dianggap berkembang cepat sesudah peristiwa itu.

Namun, tim yang dipimpin Chase Brownstein dari Yale University menemukan pola waktu yang berbeda. Mereka menggabungkan data genetik dari 50 spesies Scombridae dengan bukti fosil untuk menyusun kembali pohon evolusi kelompok tersebut.

Perubahan Tidak Terjadi Seketika

Hasil analisis tetap memperkirakan asal-usul Scombridae sekitar 68 juta tahun lalu, mendekati akhir Zaman Kapur. Akan tetapi, diversifikasi keluarga ikan ini berlanjut selama sekitar 40 juta tahun berikutnya, bukan berupa ledakan perubahan segera setelah asteroid.

Peristiwa evolusiPerkiraan waktuMakna temuan
Asal-usul ScombridaeSekitar 68 juta tahun laluMendekati akhir Zaman Kapur
Munculnya endotermiTiga kali secara terpisahSetidaknya dua kali terjadi 10–15 juta tahun setelah asteroid
Ukuran tubuh raksasa pada tunaDalam 10 juta tahun terakhirMuncul jauh setelah peristiwa asteroid

Menurut studi tersebut, setidaknya dua kemunculan sifat berdarah panas terjadi 10 hingga 15 juta tahun setelah hantaman asteroid. Sementara itu, ukuran tubuh raksasa pada tuna baru benar-benar terlihat dalam 10 juta tahun terakhir.

Urutan waktu itu menjadi alasan utama mengapa asteroid tidak dapat diposisikan sebagai penyebab langsung bagi dua ciri tersebut. Brownstein menilai ukuran besar dan kemampuan berdarah panas berkembang terpisah, baik satu sama lain maupun dari peristiwa kepunahan massal.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B, Biological Sciences. Temuan itu juga menunjukkan bahwa sejarah evolusi Scombridae tidak bisa diringkas hanya dengan satu peristiwa besar di masa lampau.

Kemungkinan Sifat Lama yang Mendapat Fungsi Baru

Brownstein mengaitkan kemungkinan tersebut dengan konsep eksaptasi, yaitu sifat yang mula-mula berevolusi untuk suatu fungsi lalu dimanfaatkan untuk fungsi lain. Dalam kerangka ini, sifat berdarah panas dan tubuh besar tidak harus lahir sebagai paket adaptasi yang sama.

“Dalam upaya menjelaskan bagaimana setiap sifat biologis berevolusi, kami para ahli biologi kerap terjebak membuat cerita yang terlalu disederhanakan tentang asal-usulnya,” kata Brownstein kepada IFLScience. Pernyataan itu menyoroti risiko menghubungkan satu perubahan biologis dengan satu pemicu tunggal tanpa bukti fosil yang lengkap.

Brownstein juga menanggapi hipotesis yang mengaitkan sifat berdarah panas pada tuna dengan persaingan melawan paus dan lumba-lumba purba. Kelompok cetacea memang mulai muncul dalam catatan fosil pada masa yang sama, tetapi ia menilai hubungan sebab-akibat tersebut sulit dibuktikan.

“Sejujurnya, itu cuma karangan,” kata Brownstein mengenai klaim persaingan tersebut. Menurutnya, catatan fosil yang benar-benar lengkap dibutuhkan sebelum hipotesis semacam itu dapat diuji dengan kuat.

Perdebatan tentang Peran Cetacea Masih Berlanjut

Dahiana Arcila dari University of California, San Diego, tidak sepenuhnya sepakat bahwa hasil baru ini melemahkan hipotesis peran cetacea. Ia mencatat bahwa studi Brownstein masih menempatkan asal-usul sifat berdarah panas pada Zaman Eosen, saat kelompok paus mulai berdiversifikasi.

Arcila sebelumnya terlibat penelitian yang mencakup lebih dari 1.051 spesies ikan dari famili yang lebih luas. Menurutnya, kajian terbaru ini bukan bantahan langsung, melainkan peninjauan yang lebih rinci khusus pada Scombridae.

Perbedaan pandangan tersebut memperlihatkan bahwa asal-usul Tuna Berdarah Panas masih menjadi pertanyaan evolusi yang terbuka. Data baru memperjelas garis waktu, tetapi hubungan antara perubahan biologis, lingkungan, dan persaingan antarkelompok hewan masih terus diperdebatkan.

Terkait