Akamai Genjot Lini Komputasi Awan, Tawarkan Produk Terjangkau Saingi Alibaba

Akamai Technologies, perusahaan global terkemuka di bidang komputasi awan dan keamanan siber, bertekad untuk memperkuat lini bisnis komputasi awan di Indonesia dan Asia Tenggara. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya kebutuhan efisiensi biaya dan keamanan, terutama di era kecerdasan buatan (AI). Akamai ingin menghadirkan layanan cloud yang lebih terjangkau, memungkinkan perusahaan dapat bersaing melawan raksasa teknologi seperti Alibaba dan penyedia cloud besar lainnya.

Jay Jenkins, Chief Technology Officer (CTO) Cloud Computing Akamai, menekankan bahwa meskipun Akamai tergolong baru di sektor cloud, perusahaan mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Fokus utama Akamai adalah memperkuat kapabilitas jaringan distribusi global dan kemampuan keamanan, sambil menjaga biaya layanan tetap rendah. “Kami ingin memastikan bahwa organisasi tidak perlu kembali ke sistem on-premise hanya untuk efisiensi biaya,” kata Jay dalam sebuah diskusi virtual.

Salah satu keunggulan yang ditawarkan Akamai adalah biaya transfer data (egress) yang jauh lebih murah dibandingkan dengan provider besar. Akamai mematok harga sebesar 0,5 sen per gigabyte, sepuluh kali lebih murah dari rata-rata harga yang ditawarkan oleh penyedia cloud besar. Ini memberikan peluang bagi banyak perusahaan untuk memanfaatkan layanan cloud tanpa terbebani biaya tinggi.

Dalam konteks keamanan, Jay Jenkins menyoroti pentingnya pendekatan zero trust. Ia menjelaskan bahwa dengan munculnya AI, paradigma keamanan tradisional seperti firewall tidak lagi cukup. Untuk menghadapi ancaman yang semakin kompleks—seperti serangan impersonasi suara dan malware yang terus beradaptasi—organisasi harus mengadopsi pendekatan zero trust dan micro-segmentation. Pendekatan ini bertujuan untuk tidak mempercayai satu titik pun dalam jaringan, sehingga meningkatkan keamanan secara menyeluruh.

Keduanya, efisiensi biaya dan keamanan, menjadi perhatian utama bagi banyak perusahaan di sektor ad tech, gaming, media, ritel, dan SaaS di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Jay mencatat bahwa mayoritas pelanggan menerapkan strategi multi-cloud, dengan tujuan mendekatkan aplikasi ke pengguna dan mengurangi latensi.

Terkait dengan isu konektivitas yang luas di Indonesia, Akamai telah menempatkan tujuh lokasi edge di seluruh negeri, tidak hanya di Jakarta. Ini bertujuan untuk memastikan aplikasi tetap responsif meskipun ada gangguan, seperti kabel bawah laut yang terputus. “Kami terbuka untuk bekerja sama dengan penyedia lokal guna menambah titik edge demi meningkatkan resilensi,” tambahnya.

Akamai juga memperhatikan fleksibilitas dalam operasional AI, memberikan opsi kepada perusahaan untuk menggunakan managed service di awal. Strategi ini memungkinkan organisasi untuk tetap memantau perkembangan teknologi open source dan mencegah potensi terjebak dalam masalah vendor lock-in. Portabilitas model AI menjadi sangat penting, terutama untuk industri-industri yang cepat mengadopsi teknologi edge cloud seperti gaming, media, Internet of Things (IoT), smart city, dan ritel.

Dengan berbagai inovasi dan pendekatan yang ditawarkan, Akamai tidak hanya berupaya untuk menjadi pemimpin dalam industri komputasi awan, tetapi juga berharap dapat memberikan solusi yang relevan bagi banyak organisasi di Indonesia dan Asia Tenggara. Ini menunjukkan bahwa meskipun persaingan terus meningkat, Akamai berkomitmen untuk membangun ekosistem komputasi awan yang lebih terjangkau dan aman, sejalan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar yang terus berubah.

Berita Terkait

Back to top button