Saksikan Bulan Purnama Paling Dramatis Tahun Ini Dini Hari Besok!

Fenomena bulan purnama paling dramatis tahun ini akan menghiasi langit pada dini hari Jumat, 11 Juli 2025, waktu Indonesia Barat. Purnama kali ini tidak hanya menarik perhatian karena tampilannya yang memukau, tetapi juga karena ukuran dan cahaya oranye yang tampak lebih besar. Para pengamat langit dan pecinta astronomi disarankan untuk tidak melewatkan momen ini, karena pemandangan yang ditawarkannya akan menjadi salah satu highlight langit malam.

Cahaya oranye yang terlihat di bulan purnama kali ini merupakan akibat dari efek visual yang disebut "Moon Illusion." Fenomena ini terjadi karena otak manusia secara alami membandingkan bulan dengan objek di sekitarnya, seperti pepohonan atau gedung. Hal ini menyebabkan bulan terlihat lebih besar saat terbit di dekat cakrawala. Penjelasan tersebut dilengkapi dengan informasi dari Dailymail yang menyarankan pengamat untuk melihat bulan melalui gulungan kertas atau tabung kecil untuk mengurangi efek latar belakang, sehingga ukuran bulan akan tampak mengecil kembali.

Menurut penjelasan NASA, warna oranye pada bulan purnama muncul akibat posisi bulan yang rendah di cakrawala. Ketika bulan berada di dekat cakrawala, cahaya biru dari atmosfer Bumi lebih banyak tersebar, sehingga hanya cahaya merah dan oranye yang dapat terlihat. Ini menyerupai warna langit saat senja, yang semakin menambah keindahan bulan purnama kali ini.

Menariknya, bulan purnama ini juga bertepatan dengan posisi bulan paling jauh dari matahari sepanjang tahun. Bulan berada sekitar 152 juta km dari matahari, tepat beberapa hari setelah Bumi mencapai titik aphelion. Fenomena ini menjadikan bulan tampak lebih besar dan mengesankan saat dipandang dari Bumi.

Siklus Lunisitas

Purnama kali ini juga dikaitkan dengan siklus 18,6 tahun yang dikenal sebagai lunisitas. Selama siklus ini, orbit bulan cenderung lebih miring, menyebabkan bulan terbit dan terbenam lebih jauh ke utara atau selatan dari biasanya. Akibatnya, bulan lebih mudah untuk diamati, bahkan di daerah perkotaan yang padat dengan bangunan tinggi.

Fenomena ini sering juga disebut sebagai "Buck Moon," sebuah istilah yang berasal dari suku asli Amerika karena bulan Juli adalah waktu ketika rusa jantan mulai menumbuhkan tanduk baru. Nama lain yang umum digunakan untuk purnama ini adalah "Thunder Moon," yang menyiratkan musim badai, serta "Salmon Moon" dan "Raspberry Moon," yang berkaitan dengan musim panen.

Melihat Purnama

Bulan purnama ini tidak memerlukan teleskop atau alat bantu khusus untuk menikmatinya. Masyarakat dapat menyaksikannya langsung dengan mata telanjang dari area terbuka seperti pesisir pantai, sawah, atau bukit yang menghadap ke arah tenggara. Yang diperlukan hanyalah langit yang cerah dan bebas dari polusi cahaya.

Bulan purnama kali ini adalah pengingat betapa menawannya langit malam. Ini merupakan pertunjukan alam yang dapat dinikmati oleh siapa pun, tanpa perlu tiket atau biaya masuk. Dalam kesederhanaannya, fenomena ini mampu menyatukan orang-orang untuk melihat ke atas dan merasakan keajaiban alam.

Para astronom amatir, pencinta fotografi, dan bahkan siapa saja yang hanya ingin menikmati keindahan langit malam disarankan untuk bersiap-siap malam ini. Dengan sangat sedikit persiapan, semua orang bisa berpartisipasi dalam momen magis ini yang akan berlangsung di langit.

Purnama ini tidak hanya menjadi ajang untuk mengagumi keindahan alami, tetapi juga kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang fenomena luar angkasa yang memengaruhi Bumi. Sehingga, mari nikmati dan apresiasi keindahan langit malam di tahun ini.

Berita Terkait

Back to top button