Sejak lama, kepercayaan bahwa hari lahir seseorang bisa menentukan nasib dan kepribadian mereka telah berakar dalam berbagai budaya. Misalnya, di Inggris, lagu tradisional “Monday’s Child” menarik perhatian dengan menjelaskan sifat karakter berdasarkan hari kelahiran. Di Indonesia, masyarakat Jawa memiliki sistem yang dikenal dengan weton untuk meramalkan kehidupan seseorang berdasarkan hari dan pasaran saat lahir. Namun, benarkah lahir pada hari Rabu atau memiliki weton tertentu berarti nasib seseorang sudah ditentukan? Sebuah studi terbaru dari University of York menghadirkan jawaban mengejutkan.
Studi ini melibatkan analisis terhadap lebih dari 2.000 anak dari 1.100 keluarga, yang dipantau sejak usia 5 tahun hingga 18 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti hubungan antara hari lahir dan karakter anak sesuai dengan ramalan dalam lagu “Monday’s Child”. Dalam lagu tersebut, terdapat penilaian karakter seperti Senin yang digambarkan sebagai ‘rupawan’ dan Rabu yang disebut ‘penuh duka’. Namun, hasil penelitian menunjukkan hal sebaliknya. Peneliti menemukan tidak ada bukti ilmiah bahwa hari lahir memiliki dampak signifikan terhadap sifat, keberuntungan, atau kesuksesan seseorang.
Faktor yang Berpengaruh Lebih Besar
Menurut Profesor Sophie von Stumm, penulis utama studi tersebut, faktor utama yang mempengaruhi perkembangan anak bukanlah hari lahir, tetapi kondisi ekonomi, pola asuh, dan lingkungan sosial. “Tidak ada bukti bahwa nasib ditentukan oleh tanggal lahir. Namun, keyakinan yang diwariskan orang tua dapat memengaruhi perilaku anak,” ujarnya. Ini menunjukkan bahwa sugesti yang diterima anak mengenai hari lahir mereka bisa memiliki dampak psikologis, meskipun tidak berdasarkan fakta ilmiah.
Kondisi ini mendorong pemikiran bahwa kepercayaan terkait weton dan ramalan hari lahir lebih merupakan budaya yang diwariskan daripada kebenaran ilmiah. Di Indonesia sendiri, weton masih sering digunakan untuk berbagai peruntukan, mulai dari penilaian kecocokan pernikahan hingga memilih hari baik untuk sejumlah acara. Walaupun pola pikir ini tidak memiliki dasar ilmiah, makna budaya dan spiritual dari tradisi ini sangat kuat.
Mitos vs. Realitas
Ketika kita melihat lebih dalam, kita tidak bisa mengabaikan nilai sosial dari tradisi seperti weton. Meskipun tidak terbukti secara ilmiah, praktik ini berfungsi untuk mempertahankan keterikatan antaranggota keluarga dan memberikan ruang untuk ritual adat. Dalam konteks ini, kepercayaan pada weton menjelma menjadi pedoman harmoni dan doa bagi banyak orang.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, bagi mereka yang lahir pada hari Rabu dan mengkhawatirkan bahwa nasib mereka telah ditentukan, seharusnya bisa bernapas lega. Studi ini menunjukkan bahwa nasib kita bukanlah hasil dari tanggal lahir, tetapi lebih pada upaya dan keputusan yang kita buat selama hidup.
Kesimpulan yang Konstruktif
Secara keseluruhan, ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa tidak ada bukti yang mendukung klaim bahwa hari lahir berpengaruh pada takdir seseorang. Tradisi-tradisi seperti weton membawa makna budaya yang penting, tetapi nasib tetap berada di tangan individu. Dengan memahami bahwa perpaduan antara faktor eksternal dan keputusan pribadi mendefinisikan jalan hidup, kita bisa fokus pada upaya dan potensi diri masing-masing, terlepas dari hari lahir atau kepercayaan yang ada di sekitarnya.





