Apa Itu Peluru Karet? Sejarah, Fungsi, dan Bahaya Jika Terkena Langsung

Peluru karet sering menjadi sorotan publik, khususnya saat digunakan aparat keamanan untuk mengendalikan kerusuhan atau demonstrasi. Peluru ini diklaim sebagai alternatif amunisi tidak mematikan yang diperuntukkan mengurangi risiko cedera fatal dibandingkan peluru logam konvensional. Namun, apa sebenarnya peluru karet itu, bagaimana sejarahnya, apa fungsi utama, serta risiko bahaya yang bisa timbul jika terkena peluru ini? Berikut penjelasannya secara lengkap berdasarkan berbagai sumber kredibel.

Apa Itu Peluru Karet?
Peluru karet bukanlah peluru yang sepenuhnya terbuat dari karet. Biasanya, peluru ini memiliki inti logam yang dilapisi lapisan karet atau merupakan campuran homogen dengan karet sebagai bahan minoritas. Bentuknya dirancang untuk memiliki dampak fisik namun minim risiko kematian secara langsung. Meskipun begitu, peluru karet tetap dapat menyebabkan cedera serius seperti patah tulang, kebutaan, hingga kematian apabila mengenai organ vital atau ditembakkan dari jarak sangat dekat. Selain digunakan untuk pengendalian massa, peluru jenis ini juga dapat dipakai untuk latihan tembak jarak pendek dan pengendalian hewan.

Sejarah Peluru Karet
Peluru karet pertama kali dikembangkan oleh Kementerian Pertahanan Inggris pada awal 1970-an dan digunakan untuk mengendalikan kerusuhan di Irlandia Utara saat periode ‘Troubles’. Awalnya, peluru ini menjadi solusi alternatif di tengah meningkatnya kerusuhan sosial di beberapa negara, termasuk Amerika Serikat. Pada masa itu, aparat kepolisian dan militer tengah mencari senjata tidak mematikan yang bisa menghentikan massa tanpa menimbulkan luka fatal. Ide peluru karet berasal dari penemuan bahwa benturan bola golf pada seseorang umumnya tidak berbahaya, sehingga dikembangkan bola balistik dengan lapisan karet untuk meminimalkan dampak serius.

Fungsi Peluru Karet dalam Pengendalian Massa
Di Indonesia, penggunaan peluru karet sering dikaitkan dengan upaya aparat keamanan menjaga ketertiban saat demonstrasi atau kerusuhan. Kepolisian Daerah Metro Jaya menyatakan bahwa penggunaan peluru karet selalu mengacu pada standar operasi prosedur (SOP) kepolisian yang berlaku. Peluru karet dirancang untuk ditembakkan ke bagian tubuh bawah seperti paha, yang memiliki lapisan otot dan lemak cukup tebal agar dampaknya dapat dikurangi. Bila ditembakkan dengan jarak dan teknik yang tepat, peluru ini hanya menimbulkan luka memar atau lecet seperti terkena bola cat, sehingga dianggap sebagai metode pengendalian massa yang relatif aman.

Risiko dan Bahaya Peluru Karet
Menurut Dr. Jose Torradas, juru bicara American College of Emergency Physicians, peluru karet tetap menimbulkan risiko cedera berat hingga kematian. Jika peluru karet ditembakkan dari jarak dekat atau mengenai bagian tubuh yang vital seperti kepala, dada, atau organ dalam, dampaknya bisa fatal. Cedera yang mungkin timbul meliputi patah tulang, luka robek, kebutaan permanen, hingga komplikasi medis serius lainnya. Karena itu, penggunaan peluru karet harus diatur ketat dan dilakukan oleh personel terlatih untuk meminimalkan risiko tersebut.

Penggunaan dan Pengawasan di Indonesia
Isu penggunaan peluru karet dalam pengamanan demo sempat ramai diperbincangkan di Jakarta. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Polisi Ade Ary Syam Indradi mengonfirmasi bahwa tindakan aparat selalu mengikuti SOP standar, meskipun tidak menjelaskan detail teknis mengenai penggunaannya. Hal ini menjadi penting sebagai upaya transparansi sekaligus memastikan bahwa penggunaan peluru karet tidak disalahgunakan atau menimbulkan pelanggaran hak asasi manusia.

Dengan melihat sejarah, fungsi, dan potensi bahaya peluru karet, penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa meskipun dimaksudkan sebagai alat pengendali situasi yang relatif aman, peluru karet tidak boleh dianggap remeh. Kepolisian sebagai aparat penegak hukum harus mengedepankan prinsip kehati-hatian dan profesionalisme mengingat dampak serius yang bisa terjadi. Penggunaan peluru karet secara tepat dapat membantu mengurangi eskalasi kekerasan, namun ketidakhati-hatian dalam penggunaannya justru dapat menimbulkan korban yang tidak diinginkan.

Berita Terkait

Back to top button