Guncangan Besar: Sejarah Gempa Mematikan Nabire dan Dampaknya

Wilayah Nabire kembali mengalami guncangan gempa bumi tektonik dengan kekuatan magnitude 6,6 pada Jumat dini hari, 19 September 2025. Gempa ini menambah catatan panjang bencana seismik yang pernah melanda kawasan tersebut. Nabire dikenal sebagai daerah rawan gempa di Tanah Papua karena posisinya yang berada di zona pertemuan lempeng aktif.

Sejarah gempa besar di Nabire mencatat setidaknya tiga kejadian mematikan dalam kurun dua dekade terakhir. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menyebutkan bahwa gempa pertama yang tercatat signifikan terjadi pada 5 Februari 2004. Saat itu gempa berkekuatan magnitude 7,0 mengguncang wilayah Nabire dan menyebabkan kerusakan parah pada ratusan bangunan serta menewaskan 37 orang.

Hanya tiga hari setelah gempa utama tersebut, tepatnya pada 8 Februari 2004, gempa susulan dengan kekuatan magnitude 6,7 kembali mengguncang kawasan yang sama. Peristiwa ini menambah daftar korban jiwa dengan dua orang meninggal dunia akibat dampak guncangan gempa susulan. Sebagai sebuah wilayah di jalur seismik aktif, peristiwa ini menjadi tanda peringatan akan betapa rawannya Nabire terhadap bencana gempa bumi.

Tidak berselang lama dari kejadian tersebut, pada 26 November 2004 Nabire kembali diterjang gempa kuat dengan magnitude 7,1. Gempa ini menyebabkan kerusakan besar pada berbagai infrastruktur dan menewaskan 32 orang. Rangkaian gempa sejak awal tahun 2004 tersebut mencerminkan potensi bahaya yang signifikan di daerah ini dan kebutuhan akan mitigasi bencana yang lebih baik.

Menurut para ahli, posisi Nabire yang terletak di persimpangan lempeng tektonik menjadikan wilayah ini sangat rentan terhadap aktivitas gempa. Untuk mengurangi risiko bencana, selain memperkuat infrastruktur tahan gempa, peningkatan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat juga menjadi fokus utama upaya mitigasi yang harus dilakukan.

Berikut catatan gempa besar di Nabire dalam rentang 2004 hingga 2025:

1. 5 Februari 2004 – Gempa M 7,0, kerusakan parah, 37 korban meninggal.
2. 8 Februari 2004 – Gempa susulan M 6,7, 2 korban meninggal.
3. 26 November 2004 – Gempa M 7,1, kerusakan besar, 32 korban meninggal.
4. 19 September 2025 – Gempa M 6,6, informasi korban dan kerusakan masih dalam penanganan.

Pascagempa, wilayah Nabire juga dilaporkan mengalami puluhan gempa susulan dengan intensitas dan skala yang bervariasi. Catatan ini memperkuat fakta bahwa gempa susulan merupakan fenomena umum setelah gempa besar dan berpotensi menambah kerusakan.

Pemantauan aktif oleh BMKG dan instansi terkait terus dilakukan untuk memberi informasi dini dan memperingatkan masyarakat mengenai potensi gempa dan tsunami yang mungkin saja terjadi. Upaya kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga mitigasi bencana, dan komunitas sangat penting untuk meningkatkan sistem tanggap darurat.

Selain itu, edukasi berkelanjutan tentang kesiapsiagaan gempa dan pelatihan mitigasi dasar di tingkat komunitas menjadi langkah vital dalam membangun ketahanan wilayah rawan bencana seperti Nabire. Pemerintah juga didorong untuk memperhatikan penguatan pembangunan infrastruktur publik agar mampu menahan dampak gempa besar di masa depan.

Seiring dengan perkembangan teknologi dan ilmu kebumian, diharapkan sistem deteksi dini serta respons gempa bumi di Papua dapat terus ditingkatkan agar mampu memberikan peringatan dan mitigasi yang lebih efektif demi keselamatan masyarakat. Guncangan besar yang kerap melanda kawasan Nabire mengingatkan pada pentingnya pemahaman sejarah gempa sebagai dasar untuk langkah preventif yang terpadu dan berkesinambungan.

Berita Terkait

Back to top button