Mengapa Ada Suhu Panas dan Hujan Angin Bulan Ini? Penjelasan BRIN-BMKG

Pada bulan ini, masyarakat Indonesia mengalami suhu panas yang cukup ekstrem di siang hari disertai fenomena hujan deras dan angin kencang pada malam hari. Fenomena cuaca yang beragam ini memicu pertanyaan mengapa kondisi tersebut terjadi secara simultan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan penjelasan yang jelas terkait penyebab utama dari suhu panas serta hujan angin yang dialami.

Pergeseran Semu Matahari dan Minimnya Awan Hujan

Menurut Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, penyebab utama suhu panas yang meningkat adalah pergeseran posisi semu matahari ke arah selatan ekuator. Kondisi ini menyebabkan sinar matahari jatuh lebih tegak di wilayah Indonesia bagian selatan dan sekitarnya. Efeknya, suhu siang hari menjadi lebih tinggi karena sinar matahari yang menyinari permukaan bumi dalam sudut yang lebih langsung.

Selain itu, pergeseran ini juga berdampak pada turunnya pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah, terutama di kawasan selatan Indonesia. Karena berkurangnya awan yang biasanya berfungsi sebagai peneduh dan media pembentukan hujan, permukaan tanah dan udara menjadi lebih panas menyengat pada siang hari.

Kombinasi Cuaca Panas dan Hujan Deras Sporadis

Profesor Riset Klimatologi dan Perubahan Iklim dari BRIN, Prof. Dr. Erma Yulihastin, menjelaskan bahwa pola cuaca yang terjadi belakangan ini merupakan kombinasi dari suhu panas yang terjadi pada siang hari yang kemudian berubah dengan cepat menjadi hujan deras yang singkat dan sporadis pada malam harinya. Ia mencontohkan bahwa pada dasarian ketiga bulan Oktober, yakni tanggal 21 hingga 30, pola ini akan konsisten terjadi di berbagai wilayah.

Fenomena ini mencerminkan pola dinamika atmosfer yang cepat berubah, di mana panas siang hari dapat memicu pembentukan awan konvektif lokal yang intens dan hujan deras menjelang malam hari. Situasi ini juga sering diiringi oleh angin kencang yang mampu menyebabkan beberapa kejadian kerusakan seperti pohon tumbang dan kerusakan lain di beberapa daerah.

Data Suhu dan Curah Hujan

Data dari BMKG menunjukkan sejumlah wilayah mengalami suhu udara yang cukup panas pada pertengahan Oktober 2025, antara lain:

  1. Karanganyar, Jawa Tengah mencapai 38.2°C
  2. Majalengka, Jawa Barat 37.6°C
  3. Boven Digoel, Papua 37.3°C
  4. Surabaya, Jawa Timur 37.0°C

Sementara itu, daerah yang mengalami hujan dengan intensitas tinggi tercatat sebagai berikut:

  1. Belawan, Sumatera Utara menerima curah hujan sebesar 117.6 mm/hari
  2. Deli Serdang, Sumatera Utara 110.4 mm/hari
  3. Kapuas Hulu, Kalimantan Barat 88.4 mm/hari

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem tersebut, terutama hujan lebat yang bisa disertai petir dan angin kencang.

Potensi Cuaca Ekstrem di Minggu Mendatang

BMKG memprediksi kondisi cuaca antara tanggal 19 hingga 23 Oktober 2025 didominasi oleh awan dan hujan ringan di sebagian besar wilayah Indonesia. Namun, beberapa daerah diperkirakan akan mengalami cuaca ekstrem berupa hujan lebat dan angin kencang. Berikut daftar wilayah yang perlu waspada:

  1. Siaga hujan lebat hingga sangat lebat: Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Barat.
  2. Potensi angin kencang: Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Nusa Tenggara Timur, dan Papua Selatan.

Faktor Pendukung Lainnya

Selain pergeseran matahari dan dinamika atmosfer lokal, fenomena pembentukan bibit siklon tropis di Laut Filipina (dikenal dengan kode 96W) juga berkontribusi terhadap konsentrasi awan di belahan bumi utara, sehingga wilayah selatan ekuator, termasuk Indonesia, mengalami langit relatif cerah dan panas.

Faktor tambahan yang turut memperparah suhu panas adalah perubahan iklim global, aktivitas manusia, dan semakin berkurangnya ruang hijau di perkotaan. Hal ini memicu efek pulau panas perkotaan (urban heat island) yang menaikkan suhu udara di kota-kota besar secara signifikan.

Perkiraan Durasi Fenomena Suhu Panas

BRIN memperkirakan suhu panas yang dirasakan di berbagai wilayah Indonesia akan bertahan hingga akhir Oktober atau bahkan awal November 2025. Apabila hujan belum turun secara merata selama periode ini, suhu tinggi berpotensi berlanjut hingga bulan berikutnya.

Pemahaman tentang pola cuaca panas sekaligus hujan angin ini penting agar masyarakat dapat bersiap dan mengambil langkah antisipasi guna mengurangi risiko terdampak cuaca ekstrem. BMKG dan BRIN secara aktif melakukan pemantauan serta penginformasian untuk memastikan keselamatan masyarakat tetap terjaga.

Source: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button