Dejavu Menurut Sains: Begini Cara Otak Memainkannya Secara Ilmiah

Dejavu adalah fenomena psikologis yang membuat seseorang merasa pernah mengalami atau melihat suatu peristiwa meskipun hal itu baru terjadi untuk pertama kali. Sensasi singkat namun kuat ini dialami oleh sekitar 60% hingga 70% orang dengan kondisi kesehatan normal, menurut data dari WebMD. Dejavu bukan merupakan gangguan medis, melainkan merupakan pengalaman biasa yang sering muncul secara tiba-tiba, tanpa sebab yang jelas.

Fenomena ini paling sering terjadi pada usia 15 hingga 25 tahun, periode ketika otak sedang aktif memproses dan membentuk memori baru. Hubungan antara dejavu dengan fungsi otak ini menjadi fokus penelitian dalam bidang psikologi dan neurologi modern. Berbagai penjelasan ilmiah telah dikembangkan untuk memahami bagaimana otak dapat “memainkan” sensasi seolah-olah pengalaman baru tersebut sudah pernah dialami sebelumnya.

Penyebab Dejavu Menurut Sains

  1. Split perception (Pemrosesan Terpisah)
    Teori ini menjelaskan bahwa dejavu terjadi ketika informasi visual diproses oleh otak dalam dua kali kesempatan secara cepat. Pada pandangan pertama, perhatian yang kurang fokus membuat otak hanya mengolah sebagian informasi. Saat pandangan kedua, otak mengenali data tersebut sebagai pengalaman yang familiar, sehingga menimbulkan sensasi seolah-olah peristiwa itu sudah pernah dialami.

  2. Memory call (Panggilan Memori)
    Menurut teori ini, dejavu muncul saat otak secara tidak sengaja mengaktifkan memori lama yang mirip dengan keadaan sekarang. Kesamaan konteks antara pengalaman baru dan memori lama menyebabkan otak salah mengartikan situasi baru tersebut sebagai kenangan, sehingga muncul rasa akrab.

  3. Gangguan sirkulasi otak dalam memori
    Dejavu juga dapat disebabkan oleh gangguan pada proses penyimpanan memori. Secara normal, pengalaman baru disimpan dulu dalam memori jangka pendek sebelum dialihkan ke memori jangka panjang. Jika terjadi kesalahan pengolahan sehingga pengalaman langsung tersimpan dalam memori jangka panjang, otak memberikan sinyal bahwa kejadian itu sudah familiar.

  4. Aktivitas abnormal di lobus temporal
    Lobus temporal otak berperan penting dalam pengenalan pola dan pemrosesan memori. Gangguan atau aktivitas listrik tidak normal pada area ini, terutama pada pasien epilepsi lobus temporal, dapat menyebabkan pengalaman baru salah ditafsirkan sebagai pengalaman lama.
    Riset terbaru oleh A Hadzic dkk. (2024), dipublikasikan di Frontiers in Human Neuroscience, menunjukkan dejavu bisa terjadi asalkan ada aktivitas simultan pada hippocampus dan lobus temporal — dua pusat utama penyimpanan dan pengenalan memori.

Dejavu dan Kondisi Kesehatan

Secara umum, dejavu adalah fenomena normal dan tidak berbahaya. Namun, bila sensasi dejavu muncul terlalu sering atau disertai gejala lain seperti kejang, kebingungan, sakit kepala berat, atau kehilangan kesadaran, hal ini bisa mengindikasikan gangguan neurologis seperti epilepsi. Kondisi tersebut perlu pemeriksaan medis oleh dokter spesialis saraf untuk diagnosis dan penanganan lebih lanjut.

Fenomena dejavu juga kerap ditafsirkan secara mistis atau sebagai tanda intuisi khusus. Namun, pemahaman ilmiah menunjukkan bahwa dejavu hanyalah hasil dari mekanisme kompleks otak dalam memproses dan menyimpan pengalaman baru. Kesalahan sesaat dalam sinyal memori dan aktivitas listrik otak membuat otak menghaluskan batas antara kenangan dan realitas terkini.

Pemahaman ini membantu menghilangkan stigma dari sensasi dejavu dan menempatkannya sebagai bagian alami dari fungsi kognitif manusia. Jadi, meskipun dejavu terasa misterius, ia sebenarnya adalah bukti betapa unik dan rumitnya cara kerja otak dalam membentuk pengalaman keseharian.

Dejavu adalah cermin kinerja sumber daya dan jaringan memori otak, yang secara singkat mempermainkan ingatan dan persepsi waktu. Dengan perkembangan ilmu saraf yang terus maju, penelitian di masa depan diharapkan bisa memaparkan lebih detil lagi proses biologis di balik fenomena ini.

Source: www.beritasatu.com

Exit mobile version