Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa air hujan di Jakarta mengandung mikroplastik, menandai penyebaran polusi plastik yang semakin meluas hingga ke atmosfer dan siklus air yang digunakan manusia sehari-hari. Penemuan ini menunjukkan mikroplastik bukan hanya mencemari laut dan daratan, tetapi juga masuk ke elemen lingkungan vital seperti udara dan air hujan, yang selama ini dianggap relatif bersih.
Asal-usul Mikroplastik di Udara dan Air Hujan
Menurut penelitian yang dipublikasikan oleh Springer pada 2023, mikroplastik berukuran sangat kecil dapat terbawa oleh aliran udara hingga mencapai lapisan awan pada ketinggian lebih dari 3.000 meter. Mikroplastik ini kemudian turun bersama air hujan ke permukaan tanah, sehingga menjadi bagian dari siklus atmosfer dan air. Bagaimana mikroplastik bisa menyebar luas seperti ini?
Kajian Royal Society of Chemistry (RSC) menyebutkan sekitar 50%–60% mikroplastik di udara berasal dari aktivitas pembakaran terbuka sampah plastik. Pembakaran ini melepaskan partikel plastik halus yang mampu melayang di udara selama berjam-jam bahkan berhari-hari sebelum akhirnya mengendap. Selain itu, aktivitas lain seperti gesekan ban kendaraan di jalan, abrasi cat pada bangunan, serta penggunaan tekstil sintetis juga berkontribusi mengeluarkan mikroplastik ke lingkungan.
Selain sumber-sumber dari luar, berbagai produk rumah tangga juga menjadi penyebab utama. Pakaian berbahan polyester dan nylon, sabun cuci muka dengan kandungan microbeads, serta deterjen yang mengandung butiran sintetis menjadi pemasok mikroplastik primer. Ketika produk-produk ini dicuci, partikel mikroplastik yang sangat kecil sulit tersaring dalam instalasi pengolahan limbah sehingga berakhir mengalir ke sungai, laut, dan bahkan terangkat ke atmosfer.
Dampak Mikroplastik terhadap Kesehatan Manusia
Paparan mikroplastik bukan hanya masalah kualitas udara dan lingkungan, tetapi juga kesehatan manusia. Partikel mikroplastik dapat terhirup atau masuk ke dalam tubuh melalui makanan dan minuman, lalu menumpuk dalam jaringan tubuh yang berpotensi menimbulkan berbagai gangguan kesehatan serius.
Dampak kesehatan yang tercatat meliputi:
-
Reaksi alergi
Mikroplastik dapat memicu bersin, hidung gatal, mata merah, batuk, sesak napas, dan ruam kulit, yang bergantung pada tingkat paparan dan kondisi tubuh individu. -
Penyakit berbahaya
Beberapa bahan kimia plastik, seperti styrene, diketahui bersifat karsinogenik. Zat ini bisa merusak sistem saraf, imun, dan reproduksi, serta meningkatkan risiko kanker jika terakumulasi dalam tubuh. -
Kerusakan sel dan organ
Paparan jangka panjang terhadap mikroplastik dapat merusak dinding sel dan organ vital melalui gangguan hormon, yang memengaruhi fungsi tubuh secara keseluruhan. -
Gangguan metabolisme
Mikroplastik dapat mengacaukan sistem endokrin yang mengatur metabolisme, pertumbuhan, tekanan darah, dan fungsi reproduksi, sehingga berpotensi menyebabkan gangguan berat badan dan daya tahan tubuh menurun. - Gangguan hormon
Zat kimia dari mikroplastik yang masuk ke peredaran darah dapat mengganggu keseimbangan hormon, menimbulkan masalah kesuburan pada pria dan wanita secara jangka panjang.
Langkah Mengurangi Penyebaran Mikroplastik
Temuan mikroplastik di air hujan Jakarta menjadi peringatan bagi masyarakat bahwa pencemaran plastik telah masuk ke seluruh ekosistem. Pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dan pengelolaan sampah yang bertanggung jawab menjadi langkah utama dalam menekan penyebaran partikel mikroplastik. Selain itu, tindakan preventif lain yang bisa dilakukan antara lain:
- Menghindari pembakaran sampah plastik secara terbuka.
- Memakai pakaian berbahan alami sebagai pengganti tekstil sintetis.
- Memilih produk rumah tangga tanpa kandungan microbeads.
- Memilah dan mendaur ulang sampah plastik secara efektif.
Dengan kesadaran dan langkah bersama, penyebaran mikroplastik bisa dikendalikan agar dampaknya tidak semakin merugikan lingkungan dan kesehatan manusia di masa depan. Polusi mikroplastik bukan lagi masalah lokal, melainkan ancaman global yang perlu perhatian serius dari seluruh lapisan masyarakat.
Source: www.beritasatu.com
