Ancaman penipuan daring di Indonesia semakin meningkat dengan hadirnya teknologi kecerdasan buatan (AI) yang digunakan oleh pelaku kejahatan siber untuk membuat modus penipuan lebih canggih dan sulit terdeteksi. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mengungkapkan bahwa kombinasi teknik phishing klasik dan rekayasa sosial kini diperkuat oleh AI generasi terbaru sehingga tindakan manipulasi terhadap korban menjadi lebih halus dan meyakinkan.
Kepala BSSN, Nugroho Sulistyo Budi, menegaskan bahwa pelaku kejahatan siber tidak hanya menyerang sistem teknologi, tetapi juga mengeksploitasi kelemahan manusia dengan memanfaatkan kemampuan AI. “Modus phishing dengan teknologi AI yang sudah generasi terbaru mudah sekali memanipulasi perilaku target,” ujarnya usai menghadiri acara National Cyber Security 2025 di Jakarta. Contoh sederhana seperti kasus penipuan “Papa minta pulsa” yang masih memakan korban menunjukkan bahwa masyarakat masih rentan terhadap modus klasik yang kini ditingkatkan dengan teknologi AI canggih.
BSSN menekankan perlunya kesadaran dan budaya keamanan siber di masyarakat guna melawan ancaman ini. Tidak cukup hanya mengandalkan teknologi pertahanan seperti firewall, enkripsi, dan antivirus, tetapi juga diperlukan tata kelola keamanan yang kuat dan standar yang jelas. Nugroho menyebutkan bahwa BSSN menerapkan standar keamanan tersendiri yang selaras dengan standar nasional Indonesia (SNI) dan International Organization for Standardization (ISO). Peningkatan kompetensi sumber daya manusia juga menjadi fokus utama untuk mampu mengidentifikasi, melindungi, mendeteksi, serta merespons insiden dengan cepat dan tepat.
Data dari BSSN mengungkapkan bahwa sekitar 90 persen serangan siber yang terdeteksi di Indonesia bersumber dari ancaman malware. Selain malware, jenis serangan yang umum adalah serangan “The Doors”, akses tidak sah, kesalahan konfigurasi sistem (misconfiguration), dan eksploitasi celah keamanan (exploit). Kondisi tersebut menjadi alarm bagi seluruh lembaga dan pelaku ekonomi digital untuk meningkatkan perlindungan dan tata kelola keamanan siber secara menyeluruh.
Kasus serangan siber baru-baru ini yang menimpa bandara Heathrow di Inggris menunjukkan dampak serius yang dapat ditimbulkan sistem digital yang terganggu. Insiden yang diduga akibat ransomware ini menyebabkan gangguan pada sistem tiket dan bagasi, yang berujung pada penundaan ratusan penerbangan. Nugroho mengingatkan bahwa gangguan pada sistem digital dapat langsung memengaruhi aktivitas ekonomi secara luas. Oleh karena itu, pengembangan teknologi digital pada berbagai sektor harus diimbangi dengan penguatan aspek keamanan siber agar stabilitas ekonomi digital tetap terjaga.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk memperkuat keamanan siber menghadapi ancaman AI dalam modus penipuan daring antara lain:
1. Meningkatkan literasi dan edukasi masyarakat tentang teknik phishing dan modus penipuan terbaru.
2. Menerapkan standar keamanan nasional dan internasional dalam pengelolaan sistem teknologi.
3. Memperkuat pelatihan dan pengembangan kompetensi tenaga ahli keamanan siber.
4. Mengadopsi teknologi keamanan yang adaptif dan mampu mendeteksi ancaman berbasis AI.
5. Mendorong kolaborasi antar lembaga pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam mencegah dan menangani insiden siber.
Kesadaran akan bahaya teknologi AI yang dapat dipergunakan dalam aksi penipuan daring sangat penting bagi setiap individu. Dengan upaya bersama memperkuat budaya keamanan siber dan tata kelola teknologi yang baik, risiko dan dampak serangan tersebut dapat diminimalkan. Ke depan, adaptasi teknologi harus selalu disertai dengan pengembangan solusi keamanan yang mumpuni agar era digital semakin aman dan terlindungi dari praktik kejahatan yang makin canggih.
Source: www.beritasatu.com
