Sistem peringatan dini gempa dan tsunami di Indonesia kini mengalami peningkatan signifikan dengan waktu respons yang jauh lebih cepat. Melalui proyek Indonesia Disaster Resilience Initiative Project (IDRIP), peringatan bencana yang semula memakan waktu sekitar lima menit sekarang bisa didistribusikan hanya dalam 2-3 menit. Percepatan ini diharapkan dapat meminimalisir risiko dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat di daerah rawan bencana.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa modernisasi sistem peringatan ini meliputi pemantauan, pemrosesan data gempa dan tsunami yang kini lebih akurat dan menjangkau wilayah lebih luas. “Sistem ini berjalan mulus dari pusat di Jakarta ke back-up di Bali, didukung superkomputer,” katanya saat acara penutupan IDRIP di kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Minggu (2/11/2025).
Superkomputer yang digunakan diberi nama SMONG (Supercomputer for Multi-hazards Operations and Numerical Modelling). SMONG termasuk dalam daftar 500 superkomputer terbaik dunia dan berperan penting dalam mempercepat analisis serta pengolahan data gempa dan tsunami secara real time. Teknologi ini memperkuat ketepatan informasi yang disampaikan kepada pemerintah dan masyarakat, sehingga langkah mitigasi maupun evakuasi bisa dilakukan lebih cepat.
Tidak hanya dari sisi teknologi, penguatan sumber daya manusia (SDM) juga menjadi fokus utama. Selama proyek IDRIP berlangsung, lebih dari 1.000 peserta lintas satuan kerja dan pemerintah daerah mengikuti lebih dari 40 pelatihan terkait simulasi bencana, penanganan evakuasi, dan penggunaan alat modern. Ini bertujuan memastikan bahwa informasi peringatan dini yang diterima dapat direspons secara tepat di lapangan.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menegaskan bahwa proyek IDRIP merupakan hasil pembelajaran dari berbagai bencana besar yang terjadi di Indonesia sejak 2018, seperti gempa dan tsunami di NTB, Palu-Donggala, serta Selat Sunda. Ia menyampaikan bahwa selain peningkatan teknologi dan SDM, proyek ini juga menstandarisasi rantai respons bencana. Sebagai contoh:
1. Informasi cepat dari BMKG diteruskan ke Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) pusat dan daerah.
2. Aktifasi sirine peringatan secara otomatis sesuai data real-time.
3. Masyarakat mengikuti rute evakuasi yang rutin dilatih.
Suharyanto menegaskan, “Bencana tidak bisa dicegah, tetapi risikonya dapat dikurangi.” Oleh karena itu, integrasi sistem dan pelatihan bersama menjadi kunci penting untuk memastikan keselamatan warga.
Dwikorita juga memberikan apresiasi kepada BNPB sebagai executing agency proyek, Bank Dunia, kementerian/lembaga serta pemerintah daerah yang turut berkontribusi selama pelaksanaan. Ia mengajak seluruh pihak untuk memperkuat konsep “Early Warning for All dan Early Action by All”, agar peringatan dini yang semakin cepat dan akurat benar-benar dapat menyelamatkan nyawa masyarakat di seluruh Nusantara.
Dengan adanya sistem peringatan dini gempa dan tsunami yang berbasis superkomputer SMONG serta peningkatan kapasitas SDM melalui IDRIP, Indonesia semakin siap menghadapi ancaman bencana alam. Ini merupakan langkah strategis untuk mengurangi dampak bencana di masa depan, khususnya di wilayah yang kerap dilanda gempa dan tsunami. Upaya kolaboratif ini diharapkan terus berkembang dan disempurnakan demi keamanan seluruh rakyat Indonesia.
Source: www.beritasatu.com
