Migrasi Kepiting Merah di Pulau Christmas Jadi Fenomena Spektakuler Alam

Setiap tahun, Pulau Christmas di Samudra Hindia menjadi saksi fenomena alam yang luar biasa dengan migrasi massal kepiting merah. Lebih dari 180 juta ekor kepiting meninggalkan hutan tropis dan berjalan perlahan menuju pantai untuk bertelur. Peristiwa ini tidak hanya menarik perhatian wisatawan dari berbagai negara, tetapi juga menandai pemulihan populasi kepiting setelah sempat terancam punah.

Migrasi kepiting merah ini terjadi saat musim hujan pertama tiba, biasanya antara bulan Oktober dan November. Curah hujan menjadi sinyal bagi jutaan kepiting untuk meninggalkan habitat hutan mereka dan melakukan perjalanan menuju pantai. Kepiting betina akan melepaskan telur ke laut menjelang fajar pada fase bulan kuartal terakhir, saat air laut mulai surut. Telur tersebut kemudian menetas menjadi larva yang hidup di lautan sekitar sebulan, sebelum sebagian kecil berhasil kembali ke daratan sebagai bayi kepiting berukuran sekitar lima milimeter.

Fenomena ini sebelumnya sempat terancam oleh keberadaan semut kuning gila (yellow crazy ants) yang agresif. Semut ini menyerang kepiting dengan menyemprotkan asam format yang menyebabkan dehidrasi dan kematian pada kepiting yang melintas. Pada awal tahun 2000-an, populasi kepiting mengalami penurunan drastis akibat gangguan ini. Namun, sejak 2016, para ilmuwan memperkenalkan tawon mikro asal Malaysia yang menargetkan semut penghasil madu, sumber makanan utama semut kuning. Inovasi biologis ini berhasil menekan populasi semut sehingga kepiting merah mulai pulih. Menurut Brendon Tiernan, Koordinator Program Spesies Terancam dari Taman Nasional Pulau Christmas, jumlah kepiting kini mencapai lebih dari 180 juta ekor, hampir dua kali lipat dari dua dekade lalu.

Pemulihan populasi kepiting merah ini dikenal sebagai “masa emas”, di mana banyak bayi kepiting yang berhasil bertahan hidup dan kembali ke daratan setelah fase larva. Momen migrasi juga membawa tantangan tersendiri bagi warga Pulau Christmas. Jalan raya sering tertutup oleh jutaan kepiting yang memperlambat lalu lintas bahkan masuk ke halaman rumah warga. Warga dan petugas taman nasional bekerja sama menjaga keselamatan kepiting dengan menyingkirkan mereka dari jalan tanpa menyebabkan cedera. Inovasi “crab mobile” yang dikembangkan oleh Chris Bray, seorang pengusaha eco-lodge setempat, merupakan alat yang efektif mendorong kepiting keluar dari jalur kendaraan secara aman. Alat ini dirancang kuat, mudah diperbaiki, dan dapat digunakan di medan berbatu agar kepiting tetap terlindungi selama migrasi.

Bagi masyarakat Pulau Christmas, migrasi kepiting merah bukan sekedar tontonan alam, tetapi simbol keseimbangan ekologis yang menjaga ekosistem pulau tetap sehat. Mereka percaya bahwa selama migrasi ini rutin terjadi, artinya alam di sekitar mereka berfungsi dengan baik. Alexia Jankowski, manajer sementara Taman Nasional Pulau Christmas, menyatakan, “Semua orang di sini menghargai kepiting. Migrasi ini seperti perayaan tahunan bagi kami — bukti bahwa alam masih berjalan sebagaimana mestinya.”

Fenomena migrasi kepiting merah di Pulau Christmas menjadi contoh sukses konservasi dan kerja sama antara warga serta ilmuwan dalam melestarikan keanekaragaman hayati. Rangkaian upaya tersebut tidak hanya mengembalikan populasi alami, tetapi juga meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem alami dan mendorong berkembangnya ekowisata di kawasan tersebut. Setiap tahun, momentum migrasi kepiting merah mengundang perhatian global sebagai salah satu keajaiban alam yang memukau dan memperlihatkan dinamika alam yang luar biasa di tengah tantangan lingkungan modern.

Source: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button