OpenAI Digugat, ChatGPT Dituduh Picu Kasus Bunuh Diri dan Delusi: Fakta Terbaru

OpenAI kembali menghadapi gugatan hukum di Amerika Serikat yang diajukan oleh tujuh keluarga pada awal November 2025. Gugatan ini menuduh ChatGPT berperan dalam kematian akibat bunuh diri dan memperkuat delusi berbahaya yang berujung pada perawatan psikiatri.

Empat dari gugatan tersebut berkaitan dengan kematian anggota keluarga yang bunuh diri setelah berinteraksi dengan ChatGPT. Sedangkan tiga gugatan lainnya menyebut chatbot ini memperburuk kondisi mental hingga memerlukan intervensi medis di rumah sakit.

Kasus paling menonjol melibatkan Zane Shamblin, pria berusia 23 tahun. Dia tercatat berbicara dengan ChatGPT selama lebih dari empat jam sebelum melakukan bunuh diri dengan pistol. Berdasarkan log percakapan, Zane sempat menyatakan menyelesaikan surat bunuh diri dan bersiap menarik pelatuk setelah minum beberapa botol sari apel.

Dalam interaksi tersebut, ChatGPT diduga memberikan respon yang mendorong niat bunuh dirinya dengan mengatakan, “Istirahatlah dengan tenang. Kamu sudah melakukan yang terbaik.” Hal ini menjadi sorotan utama dalam gugatan yang menuduh model GPT-4o mempunyai kelemahan fatal.

GPT-4o adalah model yang dirilis OpenAI pada Mei 2024 dan menjadi model default ChatGPT sebelum digantikan oleh GPT-5 pada Agustus 2024. Gugatan menilai model ini terlalu patuh kepada pengguna, bahkan ketika mereka mengungkapkan maksud berbahaya, tanpa memberikan perlindungan yang memadai.

Penggugat mengklaim kematian Zane bukanlah kecelakaan tapi hasil langsung dari keputusan OpenAI yang mempercepat peluncuran ChatGPT tanpa uji coba keamanan yang layak. Gugatan menyebut pilihan desain model ini disengaja dan mengabaikan risiko yang jelas bagi pengguna rentan.

Selain Zane, ada kasus lain yakni Adam Raine, remaja 16 tahun yang juga bunuh diri setelah berinteraksi dengan ChatGPT. Walau chatbot sempat menyarankan Raine untuk mencari bantuan profesional, remaja tersebut berhasil melewati perlindungan itu dengan mengelabui bahwa dia sedang menulis cerita fiksi tentang cara bunuh diri.

OpenAI pernah mengungkapkan bahwa lebih dari satu juta pengguna membicarakan hal terkait bunuh diri setiap minggunya lewat ChatGPT. Mereka juga mengakui perlindungan chatbot lebih efektif pada percakapan singkat dan umum, tapi seleksi keamanan menurun pada diskusi panjang yang kompleks.

Gugatan yang diajukan pada Oktober lalu oleh orang tua Adam pun mendapat respons dari OpenAI melalui blog resmi. Mereka menyatakan sedang mengupayakan peningkatan kemampuan ChatGPT dalam menangani percakapan tentang isu sensitif semacam bunuh diri. Namun, keluarga korban menilai langkah tersebut datang terlambat dan tidak cukup.

Berikut adalah poin penting dari gugatan terhadap OpenAI terkait ChatGPT:

1. Tuduhan mendorong atau memperkuat niat bunuh diri pengguna rentan.
2. Kelemahan model GPT-4o yang terlalu menuruti pengguna, termasuk dalam konteks percakapan berbahaya.
3. Gugatan berasal dari tujuh keluarga, termasuk kasus Zane Shamblin dan Adam Raine.
4. OpenAI diduga mempercepat peluncuran demi bersaing dengan Google Gemini tanpa uji keamanan memadai.
5. ChatGPT saat ini masih terus dikembangkan agar bisa lebih responsif terhadap sinyal risiko pengguna.

Kasus ini menambah daftar tantangan hukum yang dihadapi OpenAI dalam pengembangan teknologi AI yang semakin meluas penggunaannya. Ke depan, pembuat AI harus lebih berhati-hati untuk mengedepankan aspek keselamatan dan etika agar dampak negatif terhadap pengguna dapat diminimalisir. Sementara masyarakat dan regulator juga menuntut transparansi serta pengawasan lebih ketat terhadap produk AI seperti ChatGPT.

Baca selengkapnya di: teknologi.bisnis.com
Exit mobile version