Korporasi di Indonesia semakin melirik teknologi biometrik untuk memperkuat sistem keamanannya. Menurut laporan World Security Report 2025 dari G4S, 55% perusahaan di Tanah Air berencana mengadopsi sistem biometrik sebagai kontrol akses, lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang hanya 40%.
Laporan tersebut melibatkan 2.352 Chief Security Officer (CSO) dari 31 negara, dan menunjukkan tren meningkatnya penggunaan teknologi keamanan canggih. Managing Director G4S Indonesia, Achmad Kosasih, menjelaskan bahwa biometrik digunakan untuk verifikasi identitas dan kontrol akses yang lebih ketat.
Peran Biometrik dan Kecerdasan Buatan di Sistem Keamanan
Perusahaan kini menggabungkan teknologi biometrik dengan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan efektivitas pengamanan. AI tidak menggantikan petugas keamanan, melainkan menjadi alat bantu analitis yang memperkuat kemampuan manusia dalam menghadapi ancaman.
Achmad menyebutkan, kecerdasan buatan membantu membebaskan petugas dari tugas rutin sehingga mereka bisa fokus pada analisis tingkat tinggi dan respons kritis. “AI berperan sebagai penasihat yang meningkatkan kualitas pengambilan keputusan keamanan,” ujarnya.
Peningkatan Anggaran dan Prioritas Keamanan
Sebanyak 71% perusahaan di Indonesia berencana menaikkan anggaran untuk keamanan fisik dalam satu tahun ke depan. Fokus utama alokasi dana adalah untuk melakukan asesmen risiko dan analisis intelijen ancaman demi mengantisipasi berbagai potensi gangguan.
Selain itu, lebih dari setengah pimpinan keamanan menempatkan peningkatan deteksi ancaman sebagai prioritas utama. Langkah ini menunjukkan pergeseran strategi dari sekedar reaktif menjadi pendekatan yang lebih proaktif dalam menjaga keamanan perusahaan.
Tantangan Implementasi Teknologi Baru
Meski investasi teknologi keamanan menjadi penting, Achmad menekankan bahwa keberhasilan implementasi teknologi bergantung pada pelatihan petugas keamanan. Pemahaman dan kenyamanan dalam menggunakan teknologi baru sangat diperlukan agar efektivitasnya maksimal.
Menurutnya, “Petugas harus didukung dengan pelatihan memadai agar mereka bisa menjalankan tugas dengan teknologi baru secara optimal dan mendukung penerapan sistem tersebut.”
Faktor Pendorong Adopsi Teknologi Keamanan
Dorongan utama dalam adopsi teknologi canggih adalah upaya untuk meningkatkan efisiensi kerja tim keamanan. Pemanfaatan AI memungkinkan analisis data dari berbagai sudut pandang yang memperkaya wawasan keamanan.
Achmad memproyeksikan bahwa dalam beberapa tahun ke depan, perusahaan akan semakin banyak mengintegrasikan AI dalam operasi keamanan mereka. Dengan begitu, pengelolaan risiko dan pencegahan insiden dapat dilakukan secara lebih efektif dan terpadu.
Data Utama dari Laporan G4S:
- 55% perusahaan Indonesia akan mengadopsi teknologi biometrik untuk kontrol akses.
- Rata-rata global adopsi biometrik adalah 40%.
- 71% perusahaan Indonesia berencana meningkatkan anggaran keamanan fisik.
- Prioritas anggaran untuk asesmen risiko dan intelijen ancaman.
- Lebih dari 50% CSO fokus meningkatkan deteksi ancaman proaktif.
Peningkatan penerapan teknologi biometrik dan AI ini menunjukkan keseriusan korporasi Indonesia dalam mengantisipasi tantangan keamanan di era digital. Dengan persiapan yang matang termasuk pelatihan petugas, langkah ini diyakini dapat memperkuat sistem keamanan yang lebih adaptif dan responsif.
Baca selengkapnya di: teknologi.bisnis.com




