Industri smartphone global diprediksi akan menghadapi lonjakan harga yang signifikan pada 2026. Kenaikan ini disebabkan oleh krisis pasokan Random Access Memory (RAM) yang semakin mengkhawatirkan akibat lonjakan permintaan teknologi kecerdasan buatan (AI) secara global.
Seiring kebutuhan komputasi AI yang terus melonjak, pusat data besar seperti Amazon dan Oracle kini membeli chip DDR5 dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan komputasi awan mereka. Ini membuat harga RAM meningkat dua hingga tiga kali lipat dalam satu tahun terakhir. Peningkatan permintaan tersebut membuat produsen utama seperti Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology mengalihkan kapasitas produksinya ke High Bandwidth Memory (HBM), jenis RAM yang digunakan untuk perangkat AI.
Dampak Krisis RAM pada Smartphone
Memori yang digunakan smartphone adalah LPDDR5 atau LPDDR5X. Keduanya diproduksi dengan teknologi serupa RAM server. Karena itu, alokasi produksi lebih difokuskan pada RAM server dan HBM untuk kebutuhan AI, sedangkan kapasitas memori untuk perangkat mobile justru terbatas. Produksi RAM untuk smartphone menjadi terdampak langsung, yang menyebabkan kelangkaan pasokan serta potensi kenaikan harga komponen.
Para produsen DRAM bahkan enggan menambah kapasitas produksi secara signifikan untuk menjaga margin keuntungan, mengingat pengalaman surplus pada tahun-tahun sebelumnya. Fasilitas terbaru dari beberapa produsen dijadwalkan siap beroperasi paling cepat di 2026 dan 2027. Akibatnya, harga RAM diperkirakan tetap tinggi hingga mendekati 2028.
Kenaikan Biaya Produksi dan Penurunan Pengiriman Smartphone
Counterpoint Research melaporkan bahwa proyeksi pengiriman smartphone tahun 2026 berkurang sekitar 2,6 persen. Biaya produksi ponsel diperkirakan meningkat antara 10 hingga 25 persen hingga akhir tahun 2025. Lonjakan biaya ini juga diperkirakan akan terus berlanjut dengan potensi kenaikan tambahan 10-15 persen di pertengahan 2026. Dampak ini menyebabkan produsen harus mengambil langkah strategis agar produk tetap terjangkau dan menguntungkan.
Strategi Produsen dalam Menyiasati Krisis
Berbagai strategi telah diantisipasi oleh produsen smartphone untuk mengatasi lonjakan harga RAM dan keterbatasan pasokan. Berikut beberapa langkah yang mungkin diambil:
- Mengurangi kapasitas RAM pada perangkat, misalnya mengurangi model RAM 16 GB yang semakin langka dan menghidupkan kembali model dengan RAM 6 GB atau 4 GB di segmen entry-level.
- Memfokuskan nilai jual pada kapasitas penyimpanan internal yang lebih besar, sementara penggunaan RAM yang kecil diimbangi teknologi kompresi memori atau RAM virtual.
- Memotong spesifikasi lain seperti jumlah kamera, resolusi layar, hingga menghapus fitur tambahan seperti wireless charging dan sertifikasi tahan air, terutama pada perangkat kelas bawah.
Dampak pada Brand Terkenal
Beberapa merek besar sudah terasa dampaknya dalam bocoran perangkat terbaru mereka. Seri Samsung Galaxy S26, misalnya, diperkirakan akan mengalami kenaikan harga karena peningkatan harga LPDDR5 hingga 16 persen. Xiaomi juga menyampaikan sinyal kemungkinan kenaikan harga ponsel akibat meningkatnya biaya chip memori.
Apple pun dipastikan merasakan efek ini pada iPhone 17 yang diperkirakan menjadi produk pertama yang mengalami kenaikan biaya komponen DRAM secara signifikan. Biaya modul RAM LPDDR5X 12 GB pada iPhone 17 Pro diperkirakan melonjak sekitar 230 persen dari USD 25-29 menjadi USD 70 per unit. Selama ini, Apple mampu menahan dampak kenaikan harga berkat kontrak pasokan jangka panjang, namun kontrak tersebut akan berakhir di awal tahun 2026.
Ketika kontrak lama habis, Apple harus bernegosiasi ulang pada kondisi pasar yang penuh tantangan. Kemungkinan besar, produsen smartphone ini akan sangat bergantung pada Samsung sebagai pemasok utama RAM untuk jajaran iPhone 18 mendatang.
Dengan situasi tersebut, konsumen yang berencana membeli smartphone pada 2026 harus mempersiapkan diri menghadapi kenaikan harga. Pilihan yang tersedia juga diprediksi lebih terbatas dan spesifikasi bisa mengalami penurunan, terutama di segmen ponsel kelas bawah dan menengah. Industri smartphone harus beradaptasi dengan kenyataan naiknya harga komponen penting akibat lonjakan kebutuhan teknologi AI yang tidak sekadar tren, melainkan revolusi teknologi global yang membawa konsekuensi signifikan pada rantai pasok elektronik dunia.





