Ubisoft melakukan perubahan besar dalam strategi bisnisnya yang berdampak langsung pada sejumlah proyek game. Perusahaan membatalkan remake Prince of Persia: Sands of Time sekaligus lima proyek lain. Selain pembatalan tersebut, ada tujuh proyek lain yang mengalami penundaan waktu rilis.
Keputusan ini diumumkan dalam pernyataan resmi yang menjelaskan bahwa pasar game AAA saat ini semakin selektif dan ketat, terutama untuk genre tembak-menembak. Ubisoft menyebutkan bahwa persaingan di ranah ini sangat tinggi, sementara biaya pengembangan kian meningkat. Hal ini memaksa mereka untuk melakukan “reset” strategi demi menyesuaikan diri dengan tantangan terbaru.
Pembatalan Proyek Utama
Remake Prince of Persia: Sands of Time merupakan proyek yang paling mencuri perhatian dalam pengumuman ini. Game tersebut awalnya diumumkan pada 2020 dan sempat berpindah tangan pengembangan dari studio Ubisoft Mumbai dan Pune ke Ubisoft Montreal pada 2023. Ubisoft bahkan sudah menetapkan target rilis pada tahun fiskal 2026. Namun, akhirnya proyek ini resmi dibatalkan dan tidak akan dilanjutkan.
Selain remake tersebut, Ubisoft juga menarik enam proyek lain, yang terdiri dari empat judul belum diumumkan, termasuk tiga IP baru, dan satu game mobile. Meski begitu, perusahaan menegaskan bahwa mereka masih mengembangkan sejumlah IP orisinal yang diperkirakan memiliki potensi besar di pasar.
Penundaan Tujuh Game
Tidak hanya membatalkan beberapa proyek, Ubisoft juga menunda peluncuran tujuh game yang telah diumumkan. Salah satu judul yang mengalami penundaan adalah game yang awalnya dijadwalkan rilis pada tahun fiskal 2026, tetapi kini mundur ke tahun fiskal 2027. Para pengamat mengindikasikan kemungkinan besar judul ini adalah remake Assassin’s Creed Black Flag yang telah lama dirumorkan.
Selain itu, beberapa game lain yang dikabarkan tertunda adalah The Division 3, game mobile The Division Resurgence, Assassin’s Creed Codename Hexe, dan remake Splinter Cell. Perusahaan memilih waktu matang agar kualitas dan visi game tetap terjaga sesuai standar Ubisoft.
Strategi Baru Ubisoft
Strategi Ubisoft ke depan akan fokus pada dua pilar utama. Pertama adalah pengembangan game dunia terbuka (open-world games) yang menawarkan pengalaman luas dan bebas eksplorasi kepada pemain. Kedua adalah menghadirkan Game as a Service (GaaS) yang memungkinkan game terus berkembang dengan konten baru secara berkala.
Untuk mendukung hal ini, Ubisoft membentuk struktur organisasi baru bernama “Creative Houses.” Kelompok ini merupakan gabungan studio dan tim yang difokuskan berdasarkan genre dan merek game. Mereka mendapat tanggung jawab penuh serta memiliki otonomi finansial di bawah pimpinan eksekutif yang khusus.
Selain itu, perusahaan akan mempercepat investasi pada teknologi canggih, termasuk kecerdasan buatan generatif yang berinteraksi langsung dengan pemain. Langkah ini diharapkan memperkuat pengalaman bermain sekaligus membuka peluang inovasi baru dalam pengembangan game.
Tanggapan Industri dan Prospek Pasar
Dalam wawancara sebelum pengumuman publik, CFO Ubisoft, Frederick Duguet, menyatakan bahwa perusahaan masih percaya pada potensi empat IP baru yang sedang dikembangkan. Salah satunya adalah March of Giants, game yang diakuisisi baru-baru ini oleh Ubisoft.
Langkah restrukturisasi ini dianggap sebagai jawaban atas tuntutan pasar saat ini yang sangat dinamis. Meski pembatalan dan penundaan memberi dampak negatif bagi beberapa penggemar, pendekatan baru ini diharapkan membawa Ubisoft ke arah yang lebih stabil dan berkelanjutan di masa depan.
Dengan fokus pada kualitas, inovasi teknologi, dan pengalaman pemain yang diperkuat, Ubisoft optimistis dapat mempertahankan posisi sebagai salah satu penerbit game terbesar di dunia. Penggemar serta investor akan terus memperhatikan langkah konglomerat ini untuk menilai hasil dari “reset” strategis yang sedang berjalan.




