Ubisoft Batal Remake Prince of Persia: The Sands of Time, Hadapi Persaingan Industri Game Makin Ketat

Ubisoft resmi menghentikan pengembangan remake Prince of Persia: The Sands of Time. Proyek yang sempat mengalami pengulangan pengembangan dan penundaan jadwal ini akhirnya dibatalkan di tengah restrukturisasi besar perusahaan.

Pembatalan remake ini merupakan bagian dari langkah Ubisoft yang juga menghentikan pengembangan lima judul game lain. Setidaknya ada tiga IP baru dan satu game mobile yang ikut dibatalkan. Selain itu, tujuh game lain mengalami penundaan rilis, termasuk kemungkinan remake Assassin’s Creed 4: Black Flag yang telah lama dirumorkan.

Restrukturisasi Besar di Ubisoft dan Dampaknya

Ubisoft menjalankan restrukturisasi besar-besaran untuk menyesuaikan produksi dengan kondisi pasar saat ini. Langkah ini termasuk penutupan divisi di Stockholm dan Halifax. Divisi Stockholm berkontribusi pada pengembangan Avatar: Frontiers of Pandora, sementara Halifax fokus ke game mobile.

Chief Financial Officer (CFO) Ubisoft, Frederick Duguet, menyatakan bahwa peninjauan ini dilakukan dengan mempertimbangkan evolusi pasar game yang makin selektif. Duguet menyampaikan kepada IGN bahwa tingkat persaingan di industri game saat ini belum pernah terjadi sebelumnya dan ini menuntut penyesuaian dalam memilih proyek yang dilanjutkan.

“Ketika Anda berada di posisi nomor satu atau dua dengan konten kualitas tinggi, Anda bisa meraih penerimaan pemain dan kinerja finansial yang kuat,” ujarnya. Oleh karena itu, Ubisoft menyeleksi proyek terbaik untuk mendapatkan hasil optimal di pasar yang semakin kompetitif.

Pembagian Divisi Menjadi ‘Creative Houses’

Sebagai bagian dari restrukturisasi, Ubisoft membagi divisi pengembangannya menjadi lima ‘Creative Houses’. Setiap Creative House bertanggung jawab pada lini game tertentu, dengan harapan meningkatkan efisiensi dan fokus.

  1. Vantage Studio (Creative House 1): Mengelola waralaba utama seperti Assassin’s Creed, Far Cry, dan Rainbow Six.
  2. Creative House 2: Fokus pada game tembak-menembak, contohnya Ghost Recon dan The Division.
  3. Creative House 3: Mengelola layanan langsung (live service) seperti For Honor dan The Crew, kemungkinan juga Trackmania.
  4. Creative House 4: Fokus pada game single-player, termasuk Rayman, Prince of Persia untuk judul baru, dan Beyond Good & Evil 2.
  5. Creative House 5: Bertanggung jawab atas game kasual dan ramah keluarga seperti Just Dance dan adaptasi permainan kartu serta papan.

Dengan pengelompokan ini, Ubisoft berharap dapat memaksimalkan output kreatif dan riset pasar agar adaptif terhadap kondisi persaingan yang semakin ketat.

Persaingan Industri Game yang Semakin Ketat

Duguet menekankan bahwa pasar game kini semakin rumit karena kompetitor terus menambah kualitas dan beragam konten. Industri game tidak hanya menuntut inovasi, tetapi juga strategi yang tepat dalam pemilihan proyek dan investasi.

Pandemi dan pergeseran preferensi pemain turut mengubah dinamika pasar, membuat penerbit harus sangat selektif dalam melanjutkan pengembangan game baru. Mereka harus memastikan proyek yang berjalan mampu bersaing dan memberikan hasil positif secara finansial.

Ubisoft secara jelas memilih jalan restrukturisasi dan peninjauan menyeluruh demi menjaga posisi di pasar global. Pembatalan remake Prince of Persia memberi sinyal bahwa perusahaan tidak ingin mengorbankan kualitas demi produksi berlebih yang tidak sesuai permintaan pasar.

Dengan menghadapi tekanan persaingan yang tinggi, Ubisoft berfokus mengoptimalkan proyek terbaiknya melalui pengelolaan divisi khusus sesuai genre dan target pasar. Strategi ini menjadi kunci untuk mempertahankan eksistensi di industri game yang terus berubah.

Ke depan, keputusan Ubisoft akan menjadi benchmark bagi pengembang lain yang harus menyesuaikan langkah bisnis dengan tren pasar dan ekspektasi pemain. Penonton dan penggemar franchise besar seperti Prince of Persia tentu masih berharap ada pengumuman baru yang dapat mengobati kekecewaan penggemar terkait penghentian remake ini.

Terkait