58% Perusahaan Indonesia Prioritaskan Bangun Security Operations Center, Lebih Tinggi dari Rata-rata Global

Lebih dari setengah perusahaan di Indonesia kini mengutamakan pembangunan Security Operations Center (SOC) sebagai strategi utama untuk menghadapi ancaman keamanan siber yang kian kompleks. Studi global dari Kaspersky menunjukkan bahwa 58 persen perusahaan di Tanah Air berencana membangun SOC, angka ini melampaui rata-rata global sebesar 50 persen. Langkah ini menunjukkan kesiapan bisnis Indonesia dalam memperkuat postur keamanan digital secara lebih sistematis.

SOC berperan sebagai lini pertahanan utama yang bertugas memantau dan mengamankan infrastruktur TI secara berkelanjutan. Fungsi utamanya meliputi deteksi dini, analisis mendalam, sekaligus respons cepat terhadap serangan siber. Perusahaan menyadari bahwa ancaman keamanan yang terus berkembang memerlukan perhatian khusus demi menjaga kelangsungan operasional serta perlindungan data krusial perusahaan.

Prioritas Utama dan Motivasi Pembangunan SOC

Selain kekhawatiran terhadap peningkatan serangan siber, penyebab utama perusahaan Indonesia fokus membangun SOC adalah untuk meningkatkan efektivitas pengawasan keamanan. Data global mengungkapkan bahwa 45 persen perusahaan menginisiasi pembangunan SOC guna merespon ancaman yang semakin canggih dan serius. Selain itu, ada 41 persen organisasi yang terdorong oleh kebutuhan mengoptimalkan pemanfaatan anggaran keamanan serta mempercepat proses deteksi dan respons terhadap gangguan.

Berikut ini beberapa faktor yang memotivasi perusahaan membangun SOC, sesuai hasil survei global Kaspersky:

  1. Melindungi informasi rahasia perusahaan (40 persen)
  2. Memenuhi ketentuan regulasi keamanan data (39 persen)
  3. Memperoleh keunggulan kompetitif lewat keamanan siber yang lebih baik (33 persen)

Faktor-faktor tersebut menjadi dasar mengapa keberadaan SOC semakin dianggap esensial untuk menjaga keandalan dan reputasi perusahaan di era digital.

Peran Manusia dalam Sistem Keamanan Siber

Meskipun solusi otomatis terus berkembang, peran tenaga ahli keamanan tetap vital dalam mengelola SOC. Profesional keamanan memegang peranan penting dalam memberikan konteks analisis, menginterpretasi hasil temuan yang kompleks, serta membuat keputusan strategis terkait penanganan insiden. Hal ini menegaskan bahwa teknologi tidak dapat menggantikan pengambilan keputusan berbasis pengalaman manusia dalam proses keamanan.

Dalam pelaksanaan fungsi inti SOC, monitoring keamanan secara nonstop menjadi layanan utama yang diadopsi oleh 54 persen perusahaan global. Khusus di Indonesia, sebanyak 60 persen perusahaan menganggap penting untuk mendelegasikan tugas analisis dan investigasi insiden kepada SOC. Ini menunjukkan peningkatan kesadaran akan pentingnya respons yang cepat dan tepat untuk meminimalkan dampak serangan.

Teknologi Kunci dalam Pembangunan SOC di Indonesia

Perusahaan Indonesia cenderung mengadopsi teknologi yang memungkinkan intelijensi ancaman dan respons pada titik akhir perangkat pengguna. Tiga kategori teknologi utama yang ramai dimasukkan ke dalam sistem SOC meliputi:

  1. Platform Intelijen Ancaman (55 persen)
  2. Deteksi dan Respons Titik Akhir (EDR) (47 persen)
  3. Sistem Manajemen Informasi dan Peristiwa Keamanan (SIEM) (43 persen)

Penggunaan teknologi ini mempercepat pemrosesan data keamanan dan mengoptimalkan respons terhadap ancaman siber. Dengan integrasi komprehensif ini, SOC dapat memberikan proteksi yang lebih adaptif dan menyeluruh.

Kaspersky menilai pembangunan SOC bukan hanya sekadar kebutuhan teknis, melainkan kebutuhan strategis untuk memperkuat postur keamanan perusahaan. Adrian Hia, Managing Director Kaspersky untuk Asia Pasifik, menyatakan bahwa peningkatan ancaman global telah mendorong perusahaan Indonesia untuk berinvestasi serius dalam SOC. Hal ini menandakan pergeseran penting di dalam lanskap keamanan siber yang menuntut kesiapan proaktif dari para pelaku bisnis.

Dengan fokus yang terus meningkat pada SOC, perusahaan di Indonesia diharapkan mampu menciptakan ekosistem keamanan yang kokoh, mampu menahan berbagai ancaman digital, dan sekaligus membangun kepercayaan pelanggan serta mitra bisnis. Investasi pada SOC yang terintegrasi dengan teknologi mutakhir dan keahlian manusia akan menjadi penentu utama ketahanan keamanan siber di masa depan.

Berita Terkait

Back to top button