Kasus penipuan atau scam via transfer uang online terus meningkat signifikan di Indonesia. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga pertengahan tahun tercatat lebih dari 432 ribu pengaduan scam yang telah masuk, dengan kerugian mencapai Rp 9,1 triliun. Meskipun IASC dan OJK telah berupaya memblokir lebih dari 397 ribu rekening terkait scam, pemblokiran ini hanya berhasil menyelamatkan dana sebesar Rp 432 miliar, jauh dari total kerugian korban.
Fenomena ini menjadi tantangan serius mengingat laporan pengaduan yang mencapai sekitar 1.000 kasus setiap hari di Indonesia, jauh lebih tinggi dibanding negara lain yang hanya menerima ratusan laporan per hari. Selain itu, sekitar 80% korban baru melaporkan kasusnya setelah 12 jam berlalu, padahal dana hasil penipuan biasanya sudah berpindah tangan dalam waktu kurang dari satu jam. Kondisi ini mempersempit peluang penyelamatan dana korban di Indonesia.
Aturan Ganti Rugi Bank di Inggris
Sementara Indonesia terus berupaya menangani lonjakan kasus scam, Inggris menempuh pendekatan berbeda untuk melindungi konsumen. Di Inggris, Irlandia Utara, dan Wales yang tergabung dalam United Kingdom (UK), pemerintah mewajibkan bank dan perusahaan penyedia layanan pembayaran untuk langsung mengganti rugi korban scam tanpa harus melapor terlebih dahulu ke polisi.
Regulasi ini berlaku khusus untuk penipuan jenis authorized push payment (APP), di mana korban secara psikologis dimanipulasi agar mentransfer uang. Skema ganti rugi mencakup nilai maksimal kerugian sebesar 85.000 poundsterling atau sekitar Rp 1,75 miliar per kasus. Dalam aturan ini, bank pengirim dan penerima dana sama-sama wajib menanggung kerugian secara setengah-setengah.
Modus Penipuan APP dan Perlunya Perlindungan Konsumen
Dalam modus APP, pelaku penipuan biasanya berpura-pura menjadi pihak resmi atau seseorang yang sudah dikenal korban. Mereka mengiming-imingi investasi menguntungkan atau barang dengan harga jauh di bawah pasar agar korban mau mentransfer dana. Manipulasi psikologis tersebut membuat korban secara sadar mengirimkan uang sesuai arahan pelaku.
Regulasi Inggris ini menjadi langkah proaktif karena memberikan rasa aman bagi pengguna jasa keuangan sekaligus menekan risiko kerugian besar akibat scam. Kebijakan ini juga dipandang sebagai insentif bagi pihak perbankan untuk meningkatkan sistem verifikasi transaksi dan mengurangi fraud.
Tantangan Penanganan Scam di Indonesia
OJK menyadari adanya tantangan besar dalam penanganan scam di Indonesia, terutama karena volume laporan yang sangat tinggi dan waktu pelaporan yang tidak optimal. Perbedaan ini membuat kapasitas penyelamatan dana menjadi sangat terbatas. Kerja sama lintas negara dan peningkatan sistem teknologi pengamanan transaksi menjadi bagian penting dari upaya penurunan kerugian.
OJK mengimbau masyarakat untuk melaporkan aktivitas mencurigakan sesegera mungkin agar dana korban berkesempatan untuk diperoleh kembali. Selain itu, edukasi konsumen terkait modus-modus scam secara rutin juga dianggap vital untuk mencegah terjadinya penipuan lebih banyak lagi.
Pelajaran dari Pendekatan Inggris bagi Indonesia
Aturan penggantian kerugian langsung dari bank kepada korban scam seperti yang diterapkan di Inggris dapat menjadi referensi kebijakan baru di Indonesia. Sistem tersebut mendorong transparansi penuh dari institusi keuangan dan memberikan jaminan perlindungan yang lebih konkret kepada nasabah.
Pengembangan regulasi serupa di Indonesia perlu disertai mekanisme yang jelas agar bank dan penyedia jasa pembayaran mampu bertanggung jawab secara proporsional atas kerugian yang dialami nasabah akibat penipuan. Hal ini akan memperkuat kepercayaan nasabah dalam menggunakan layanan pembayaran digital yang semakin populer pada era ini.
Langkah-langkah yang dapat dipertimbangkan dalam menghadapi masalah scam antara lain:
- Standarisasi kewajiban bank mengganti rugi korban scam dalam batas wajar.
- Peningkatan sistem deteksi transaksi mencurigakan secara real-time.
- Edukasi berkelanjutan kepada masyarakat untuk mengenali modus penipuan terbaru.
- Penguatan kerja sama internasional dalam melacak pelaku scam lintas negara.
- Penerapan mekanisme pelaporan cepat agar dana korban dapat segera dibekukan.
Dengan penyesuaian regulasi sekaligus peningkatan kesadaran masyarakat, diharapkan kejadian scam dapat diminimalisir dan perlindungan konsumen di Indonesia semakin kuat. Proses ini juga sejalan dengan upaya negara lain seperti Inggris yang telah mengatur tanggung jawab bank untuk mengganti kerugian korban penipuan finansial secara langsung dan efisien.





