Perubahan iklim yang terjadi akibat aktivitas manusia mulai berdampak nyata pada kualitas produk pangan, termasuk keju. Para ilmuwan mengungkap bahwa krisis iklim memengaruhi rasa dan kandungan gizi susu sapi, bahan utama pembuat keju, sehingga kualitas keju pun menurun.
Penelitian yang dipublikasikan di Journal of Dairy Science mengungkap perubahan rasa susu sapi karena perubahan jenis dan kualitas pakan ternak. Sapi yang biasanya mengonsumsi rumput kini mengganti sebagian makanannya dengan jagung dan konsentrat karena rumput mengalami kekeringan akibat perubahan cuaca.
Pengaruh Perubahan Pakan terhadap Susu dan Keju
Sapi yang diberi pakan jagung menghasilkan susu dengan volume setara dan emisi metana lebih rendah. Namun, susu ini terasa kurang gurih dan kurang kaya cita rasa dibandingkan susu dari sapi yang mengonsumsi rumput secara alami. Sementara itu, sapi perumput menghasilkan susu dengan kandungan asam lemak omega-3 dan asam laktat yang lebih tinggi. Nutrisi ini penting untuk kesehatan jantung dan sistem pencernaan manusia.
Temuan tersebut juga berlaku secara global, mulai dari Eropa hingga Brasil. Seorang peternak sapi perah di Brasil, Gustavo Abijaodi, menyatakan bahwa meningkatnya suhu panas menyebabkan kandungan protein dan lemak susu menurun. Ia menambahkan bahwa stabilisasi dampak panas ini menjadi kunci bagi produksi susu berkualitas.
Dampak Suhu Panas pada Pola Makan Sapi
Suhu ekstrem berdampak pada kebiasaan makan sapi. Menurut Marina Danes, pakar peternakan dari Universitas Federal Lavras, sapi akan mengurangi porsi makanannya ketika suhu tinggi. Hal ini dikarenakan proses pencernaan menghasilkan panas, sehingga sapi berusaha menurunkan suhu tubuh dengan makan lebih sedikit.
Penurunan konsumsi pakan ini menyebabkan daya tahan tubuh sapi melemah dan meningkatkan kemungkinan sapi terkena penyakit. Kondisi ini berpotensi memperburuk kualitas susu dan keju yang dihasilkan, sekaligus mengancam keberlangsungan peternakan susu.
Tanda-Tanda Krisis Iklim dalam Produk Susu dan Keju
- Penurunan kualitas rasa susu dan keju.
- Kandungan gizi susu berubah, khususnya penurunan omega-3 dan asam laktat.
- Sapi konsumsi pakan alami berkurang akibat kekeringan dan suhu panas.
- Volume susu tetap, namun cita rasa menurun karena pakan tambahan.
- Hewan lebih rentan sakit dan daya tahan tubuh melemah.
Perubahan ini bukan hanya soal kualitas pangan, melainkan juga sinyal nyata dari dampak krisis iklim terhadap sektor peternakan yang selama ini menjadi andalan dalam produksi susu dan keju. Jika tren ini tidak segera ditangani, kerugian berlapis bisa muncul, dari petani, produksi susu, sampai konsumen yang merasakan langsung penurunan kualitas keju.
Ilmuwan dan peternak menggarisbawahi pentingnya tindakan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Upaya seperti pengelolaan pakan yang lebih baik, pemilihan varietas pakan tahan cuaca ekstrem, dan teknologi pendinginan kandang perlu diperhatikan agar mutu susu tetap terjaga. Penanganan ini juga sangat penting untuk menjamin keberlangsungan produksi keju yang berkualitas tinggi.
Pengamatan ilmiah ini membuka wawasan baru soal bagaimana krisis iklim mengancam kenyamanan konsumsi produk sehari-hari. Ke depan, perubahan iklim akan semakin nyata mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk makanan yang kita nikmati. Memahami perubahan ini dapat menjadi langkah awal untuk merespon tantangan yang muncul di masa depan.
