Indonesia melihat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi masa depan. Menteri Investasi dan Kepala BKPM, Rosan P. Roeslani, menegaskan bahwa AI tidak hanya menjadi bagian dari infrastruktur digital, tetapi juga sebagai penggerak produktivitas dan kemajuan ekonomi nasional.
Menurut data dari McKinsey Global Institute, AI memiliki potensi meningkatkan produktivitas global hingga US$13 triliun per tahun pada 2030. Namun, pertumbuhan kapasitas komputasi yang diperlukan juga berpotensi menggandakan penggunaan energi setiap 3-4 tahun. Indonesia menyadari bahwa perlu ada keseimbangan antara percepatan teknologi dan keberlanjutan lingkungan.
Potensi Ekonomi Digital Indonesia
Indonesia memandang ekonomi digital sebagai salah satu pilar strategis pembangunan negara. Laporan Google-Temasek-Bain e-Conomy SEA Report 2025 memperkirakan nilai ekonomi digital Indonesia akan mencapai US$100 miliar pada 2025 dengan pertumbuhan tahunan di atas 20%. Boston Consulting Group (BCG) juga memproyeksikan Indonesia akan menjadi pasar digital terbesar di Asia Tenggara dengan nilai ekonomi mencapai US$340 miliar pada 2030, mengungguli negara regional lain.
Investasi global dalam infrastruktur AI diperkirakan tumbuh lebih dari 80% dalam empat tahun terakhir, dari US$272 miliar pada 2023 menjadi lebih dari US$500 miliar pada 2027. Lonjakan ini membuka peluang besar bagi Indonesia untuk menarik modal dan teknologi melalui kebijakan dan regulasi yang mendukung.
Strategi Investasi dan Infrastruktur Digital
Pemerintah Indonesia terus mendorong iklim investasi yang kondusif dengan menyederhanakan regulasi serta memberikan insentif seperti tax allowance dan tax holiday bagi sektor teknologi dan inovasi. Sistem perizinan telah diperbaiki melalui integrasi Online Single Submission (OSS) untuk memudahkan dan mempercepat proses investasi.
Selain itu, Indonesia aktif menggunakan skema blended finance yang menggabungkan pendanaan publik dan swasta. Melalui kolaborasi dengan lembaga global seperti Global Climate Fund, negara ini mengupayakan pembangunan infrastruktur digital yang scalable dan sustainable serta mendukung agenda iklim sekaligus pengembangan kapasitas lokal.
Kepedulian pada Keberlanjutan dan Pemerataan
Menteri Rosan menekankan perlunya investasi teknologi harus sejalan dengan pemerataan kesejahteraan dan perlindungan lingkungan. Sebagai bagian dari tanggung jawab pemerintah, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi fokus utama guna menciptakan lapangan kerja berkualitas yang mendukung ekonomi digital.
Diskusi global di ajang WEF Davos juga menyoroti keharusan menjaga tata kelola teknologi yang adil dan ramah lingkungan. Dengan pendekatan ini, Indonesia siap menjadi mitra strategis investasi yang dapat memberikan nilai jangka panjang bagi komunitas global.
Keterlibatan Pemangku Kepentingan Internasional
Forum yang diadakan di Indonesia Pavilion WEF Davos menghadirkan sejumlah pemimpin dunia di sektor teknologi dan keuangan. Di antaranya Craig Cogut dari Pegasus Capital Advisors, Calista Redmond dari NVIDIA, dan Ginny Badanes dari Microsoft. Kolaborasi lintas aktor ini memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi tantangan dan peluang di era AI.
Dalam menghadapi percepatan teknologi, Indonesia secara konsisten menyampaikan pesan keterbukaan, stabilitas kebijakan, dan tata kelola adil sebagai fondasi utama. Hal ini menunjukkan kesiapan negara untuk tumbuh bersama mitra global dalam lanskap ekonomi digital yang dinamis.
Penting bagi Indonesia untuk terus mengembangkan kapasitas lokal dan menjaga keberlanjutan saat memanfaatkan teknologi AI sebagai penopang ekonomi. Dengan strategi yang terarah dan kolaborasi internasional, Indonesia menempatkan dirinya di garis depan dalam revolusi digital global.







