Kisah Tragis Karyawan China Dituntut Revisi di Hari Kematian karena Tekanan Kerja Berlebihan

Kematian seorang programmer berusia 32 tahun di Guangdong, China, menarik perhatian publik karena diduga terkait dengan praktik kerja berlebihan di perusahaan teknologi. Gao Guanghui meninggal akibat cardiac arrest setelah mengalami tekanan kerja yang sangat tinggi.

Gao menghadapi beban kerja yang setara dengan enam hingga tujuh orang akibat kekurangan staf setelah ia dipromosikan menjadi manajer departemen perangkat lunak. Istrinya melaporkan bahwa sebelum meninggal, Gao hanya tidur 6-7 jam sehari dan bekerja dari pukul 07.00 pagi hingga 23.00 malam.

Selain jam kerja yang panjang, Gao juga harus menghadiri rapat dan menerima panggilan kerja bahkan saat mengemudi. Ia diberi tanggung jawab tambahan seperti mendampingi tim penjualan pada negosiasi serta mengoordinasi proyek lintas departemen.

Sistem penggajian di perusahaan Gao menerapkan model "gaji pokok rendah, kinerja tinggi". Model ini mendorong karyawan bekerja dalam jam sangat panjang demi mencapai penghasilan yang lebih tinggi. Gaji Gao meningkat dari RMB 3.000 (sekitar Rp 7,2 juta) menjadi RMB 19.000 (sekitar Rp 45,8 juta) sekitar satu bulan sebelum kematiannya.

Masih Bekerja di Hari Kematian
Hal yang paling mengejutkan adalah klaim bahwa Gao masih menerima pesan terkait pekerjaan ketika tengah mendapat perawatan darurat. Keluarga mengungkapkan pasien dimasukkan ke grup kerja teknis di aplikasi WeChat pada saat kritis di rumah sakit.

Seorang rekan kerja mengirim pesan yang meminta bantuan mengerjakan pesanan, padahal saat itu Gao sedang dalam perawatan intensif. Lebih mengejutkan, delapan jam setelah dinyatakan meninggal, pesan lain datang menyebut adanya tugas mendesak pada Senin pagi yang harus direvisi.

Pihak keluarga memeriksa data aktivitas dan menemukan bahwa Gao tercatat masuk ke sistem perusahaan setidaknya lima kali pada hari kematiannya. Kondisi ini memperkuat dugaan bahwa tekanan kerja berlebihan menjadi faktor utama dalam insiden ini.

Klaim Keluarga dan Kondisi Pasca-Meninggal
Keluarga Gao kini mengajukan klaim kompensasi kepada perusahaan atas kematiannya yang diduga akibat beban kerja berlebihan. Istri almarhum juga menyayangkan perlakuan perusahaan terhadap barang-barang pribadi Gao yang dikembalikan dalam kondisi tidak teratur.

Beberapa barang pribadi hilang tanpa penjelasan dari pihak perusahaan. Situasi ini menimbulkan pertanyaan tentang etika dan kebijakan internal perusahaan terkait perlakuan terhadap karyawan dan keluarga mereka setelah kejadian tragis.

Fakta Mengenai Beban Kerja Berlebihan di Industri Teknologi China
Kasus Gao menggambarkan problem umum di sektor teknologi China yang mengutamakan jam kerja panjang dan target tinggi. Beberapa fakta penting meliputi:

  1. Jam kerja karyawan sering melebihi batas wajar, dengan laporan tidur hanya 5-6 jam per malam.
  2. Sistem remunerasi berorientasi pada hasil mendorong usaha ekstra yang terkadang melewati batas kesehatan.
  3. Tuntutan multitasking tinggi dengan tanggung jawab yang luas dalam satu posisi.
  4. Tekanan untuk selalu siap merespons pekerjaan di luar jam kerja resmi, termasuk melalui aplikasi pesan.

Fenomena ini bukan hanya persoalan individual tapi juga mencerminkan kultur perusahaan yang perlu mendapat perhatian untuk mencegah kejadian serupa di masa depan. Kesadaran publik dan tekanan opini bisa menjadi pemicu perbaikan regulasi ketenagakerjaan di China.

Peristiwa tragis yang menimpa Gao Guanghui menjadi peringatan serius bagi industri teknologi dan pelaku usaha agar menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan pekerja. Ethical workplace atau lingkungan kerja yang beretika kini menjadi tuntutan mendesak di era digital dan modern ini.

Berita Terkait

Back to top button