Zona Megathrust di Indonesia kini mengalami perubahan signifikan dengan pembaruan menjadi 14 titik peringatan gempa. Informasi ini tercantum dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 yang baru dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kondisi terbaru menunjukkan adanya peningkatan potensi bahaya gempa dibandingkan dengan peta sebelumnya yang diterbitkan pada 2017.
Beberapa wilayah kini menghadapi kontur bahaya yang semakin rapat, menandakan risiko gempa besar yang meningkat. Pembaruan ini menegaskan perlunya perhatian lebih serius terhadap mitigasi dan kesiapsiagaan bencana di kawasan rawan gempa di seluruh Indonesia.
Pandangan Ahli Jepang tentang Zona Megathrust Indonesia
Pakar dari Jepang, Profesor Kosuke Heki dari Hokkaido University, mengamati perubahan ini dengan cermat. Menurut Heki, karakter geologi Indonesia sangat mirip dengan Nankai Trough di Jepang, yang merupakan salah satu zona megathrust paling aktif di dunia. "Gempa berkekuatan mencapai magnitudo 8 di Jepang terjadi rata-rata dengan interval 50 hingga 100 tahun," ujarnya saat menjadi Visiting Researcher di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Heki menekankan bahwa meskipun waktu pasti gempa besar sulit diprediksi, pemantauan jangka panjang terhadap deformasi kerak bumi sangat penting. Alat seperti Global Navigation Satellite System (GNSS) dan pengukuran geodesi dasar laut sangat membantu dalam membaca akumulasi tegangan di zona subduksi yang berpotensi memicu gempa.
Dia menjelaskan bahwa kopling seismik yang saling mengunci sepanjang palung aktif mengakumulasi regangan. Bahkan, zona tersebut mengalami pergeseran lambat (slow slip event) yang bisa menjadi tanda peringatan dini gempa besar. Fenomena seperti ini telah diamati secara berulang di Nankai Trough dan wilayah lainnya di Jepang.
Prof. Heki menganggap Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan sistem serupa mengingat banyaknya zona subduksi aktif. “Dengan penguatan jaringan GNSS dan teknologi pemantauan dasar laut, Indonesia dapat membaca akumulasi tegangan tektonik secara lebih presisi,” tambahnya.
Daftar 14 Zona Megathrust Terbaru Beserta Potensi Magnitudonya
Dalam peta terbaru tersebut, terdapat daftar 14 zona megathrust beserta potensi magnitudo maksimum gempa yang mungkin terjadi:
- Aceh-Andaman: Magnitudo maksimal 9,2
- Nias-Simelue: Magnitudo maksimal 8,7
- Batu: Magnitudo maksimal 7,8
- Mentawai-Siberut: Magnitudo maksimal 8,9
- Mentawai-Pagai: Magnitudo maksimal 8,9
- Enggano: Magnitudo maksimal 8,9
- Jawa: Magnitudo maksimal 9,1
- Jawa Barat: Magnitudo maksimal 8,9
- Jawa Timur: Magnitudo maksimal 8,9
- Sumba: Magnitudo maksimal 8,9
- Sulawesi Utara: Magnitudo maksimal 8,5
- Palung Cotobato: Magnitudo maksimal 8,3
- Filipina Selatan: Magnitudo maksimal 8,2
- Filipina Tengah: Magnitudo maksimal 8,1
Zona Seismic Gap yang Masih Jadi Perhatian
BMKG juga menegaskan keberadaan dua zona megathrust yang berada dalam kondisi seismic gap, yakni Selat Sunda dan Mentawai-Siberut. Kedua zona ini sudah ratusan tahun tidak melepaskan energi besar, sejak gempa terakhir tercatat pada tahun 1757 untuk Selat Sunda dan 1797 untuk Mentawai-Siberut.
Seismic gap berarti daerah tersebut menghimpun energi stres tektonik dalam waktu lama, sehingga potensi gempa besar masih tersimpan. Namun, BMKG menegaskan bahwa istilah ini bukan prediksi waktu terjadinya gempa, melainkan penanda risiko yang perlu menjadi perhatian serius.
Pentingnya Pemantauan dan Kesiapsiagaan
Kondisi terbaru ini menunjukkan bahwa Indonesia harus memperkuat sistem pemantauan gempa dan teknologi geodesi lautan. Data akurat dari GNSS dan pengukuran dasar laut memungkinkan pembacaan pola deformasi kerak yang menjadi sumber gempa.
Investasi dalam teknologi dan riset mitigasi bencana menjadi kunci penting untuk mengurangi risiko kerugian jiwa dan kerusakan properti akibat gempa besar, terutama di wilayah yang memiliki potensi magnitudo di atas 8,0. Pendekatan ilmiah dan teknologi mutakhir sangat dibutuhkan untuk mempersiapkan masyarakat.
Dengan pemahaman yang lebih jelas mengenai zona megathrust dan pola akumulasi tegangan tektonik, langkah mitigasi dapat dilakukan lebih terarah. Program edukasi, kesiapsiagaan masyarakat, dan pengembangan sistem peringatan dini menjadi prioritas demi mengurangi dampak bencana gempa yang berpotensi menghancurkan.
