Bitcoin Sentuh $90.000, Proteksi Turun Masih Kuat Jelang Keputusan The Fed & Risiko Pendanaan

Bitcoin sempat menembus level $90,000, menandai pemulihan setelah penurunan tajam minggu lalu. Kenaikan ini terjadi menjelang keputusan suku bunga The Federal Open Market Committee (FOMC) yang sangat dinantikan pelaku pasar.

Namun, para analis menilai kenaikan tersebut bersifat sementara dan lebih merupakan bentuk peringanan tekanan likuidasi. Pasar kripto masih harus menghadapi berbagai risiko makroekonomi dan kebijakan yang kompleks dalam waktu dekat.

Tekanan Teknis pada Bitcoin di Sekitar $88,000
Mencapai dan bertahan di zona $88,000–$89,000 dianggap sangat penting secara teknikal. Analis QCP Capital menyebut angka $88,000 sebagai “trap door” karena penembusan di bawah level tersebut kerap menyebabkan likuidasi besar-besaran dan pergerakan harga bergerak volatil.

Penembusan kembali di atas level ini biasanya mengembalikan harga ke dalam kisaran sebelumnya. Namun, fokus pasar kini bergeser pada kemampuan Bitcoin untuk mempertahankan level tersebut secara berkelanjutan, terutama dengan adanya sejumlah katalis makro dan kebijakan yang akan datang.

Faktor-Faktor Makro yang Mempengaruhi Pasar
Ada tiga faktor utama yang menjadi perhatian pelaku pasar:

  1. Keputusan suku bunga FOMC yang akan diumumkan hari ini.
  2. Tenggat pendanaan pemerintah AS pada akhir bulan yang mempertahankan risiko shutdown pemerintah.
  3. Jadwal sidang Senat mengenai regulasi pasar kripto yang berpotensi memengaruhi sentimen industri.

Ketidakpastian pada pasar valuta asing juga memperlihatkan volatilitas dengan pergerakan tajam pada pasangan USD/JPY yang menunjukkan bagaimana posisi pasar bisa cepat berbalik.

Perlindungan Risiko dan Volatilitas Pasar
Meski volatilitas pasar relatif terkendali dan struktur waktu kontrak opsi masih menunjukkan tren konsolidasi (contango), permintaan untuk opsi perlindungan penurunan tetap tinggi. Hal ini menandakan ada kewaspadaan terhadap risiko “gap” penurunan harga secara tiba-tiba.

Analis QCP menyatakan, “Volatilitas yang tampak tenang bukan berarti pasar aman, karena trader terus melakukan lindung nilai terhadap risiko lonjakan harga mendadak.”

Sentimen dan Prospek Kebijakan Federal Reserve
Pasar sudah menyesuaikan diri dengan outlook Federal Reserve yang lebih hawkish. Menurut Aurelie Barthere dari Nansen, pasar saat ini memperkirakan kurang dari dua kali penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir 2026, menandakan tingkat suku bunga sekitar 3,2%.

Di sisi lain, pasar OIS bahkan memproyeksikan kenaikan suku bunga jangka panjang dengan tingkat akhir sekitar 3,8% dalam lima tahun mendatang. Bitcoin sudah banyak menginternalisasi perubahan ekspektasi ini.

Hubungan Negatif dengan Saham dan Faktor Risiko Lain
Bitcoin kini menunjukkan korelasi negatif dengan pasar saham AS, sebuah kondisi yang jarang terjadi. Hal ini disebabkan saham yang terus mengalami reli sementara Bitcoin gagal mengikuti tren tersebut.

Dengan valuasi saham yang dianggap sudah terlalu tinggi, risiko koreksi pasar saham berpotensi memperburuk aksi harga Bitcoin. Ketidakpastian kebijakan menjadi tambahan beban, mengingat progres regulasi kripto di AS masih tersendat.

Dampak dari Regulasi dan Sentimen Investor
Legislasi seperti CLARITY Act yang mengatur pasar kripto masih terhenti di Senat. Fokus politik lebih condong ke isu-isu pembelian kekuatan daya beli, sehingga momentum regulasi kripto melemah menjelang pemilu.

Data positioning pasar menunjukkan peningkatan kewaspadaan investor dengan probabilitas hanya 30% bahwa Bitcoin mampu mencapai harga tertinggi sepanjang masa tahun ini. Selain itu, arus keluar signifikan dari ETF Bitcoin dan Ethereum menambah sinyal kehati-hatian pelaku pasar.

Katalis Positif yang Dibutuhkan Pasar
Untuk membalikkan sentimen negatif, pasar menunggu kemajuan signifikan dalam regulasi kripto AS. Menurut Barthere, pengesahan CLARITY Act di Senat bisa menjadi katalis yang kuat dan membawa kembali sentimen positif bagi pasar Bitcoin dan kripto secara umum.

Sementara itu, kenaikan Bitcoin di atas $89,000 memberikan sedikit ruang untuk mengurangi tekanan jangka pendek. Namun, dengan berbagai risiko makro yang masih mengintai serta permintaan lindung nilai yang tinggi, pasar kemungkinan akan mengalami volatilitas dan pergerakan harga yang sulit diprediksi.

Berita Terkait

Back to top button