Ketidakpastian politik di Amerika Serikat memicu perpindahan investor ke emas sebagai aset aman. Sementara itu, harga Bitcoin gagal membangkitkan kepercayaan meski banyak yang berharap cryptocurrency ini bisa menjadi pelindung nilai di tengah volatilitas mata uang fiat.
Risiko penutupan sementara pemerintah AS semakin meningkatkan permintaan terhadap emas. Platform prediksi Polymarket memperkirakan peluang shutdown pemerintah mencapai 77 persen, setelah penolakan di Kongres atas perubahan dana Departemen Keamanan Dalam Negeri.
Emas sebagai Pelabuhan Aman Favorit Investor
Harga emas mencapai lebih dari $5.280 per ons dan meningkat 85 persen dalam setahun terakhir. Di sisi lain, indeks S&P 500 juga mencetak rekor tertinggi baru, menunjukkan pergerakan positif di pasar saham. Namun Bitcoin belum mampu menembus level $90.000, dan pasar crypto masih turun sekitar $1 triliun dari puncak Oktober lalu.
Salah satu alasan utama emas lebih diminati adalah kekokohannya sebagai aset fisik dan langka. Ed Yardeni, Presiden Yardeni Research, menegaskan bahwa emas disimpan dalam brankas fisik sehingga bebas dari risiko serangan siber. Sebaliknya, Bitcoin yang bersifat digital rentan terhadap ancaman teknologi baru seperti komputer kuantum.
Kerentanan Bitcoin terhadap Serangan Teknologi
Para ahli dan perusahaan terkemuka seperti Coinbase, BlackRock, dan Jefferies telah mengingatkan bahwa pengembangan komputer kuantum bisa membahayakan keamanan Bitcoin. David Duong dari Coinbase menyebutkan sekitar sepertiga Bitcoin berpotensi terkena serangan kuantum jangka panjang.
Ancaman tersebut menjadikan kepercayaan investor terhadap Bitcoin lebih hati-hati. Karena sifatnya digital, Bitcoin menghadapi risiko keamanan yang tidak dialami oleh emas sebagai barang fisik.
Kompetisi Ketat dalam Dunia Cryptocurrency
Selain itu, Bitcoin menghadapi persaingan ketat dari ribuan cryptocurrency lain di pasar. Coingecko mencatat hampir 20.000 jenis mata uang digital yang tersedia saat ini. Menurut Ed Yardeni, meski harga Bitcoin memengaruhi aset digital lain, eksistensi berbagai cryptocurrency menciptakan volatilitas yang lebih tinggi.
Mike McGlone dari Bloomberg Intelligence menjelaskan bahwa Bitcoin sebagai pionir kripto kini memiliki jutaan pesaing digital. Berbeda dengan emas yang hanya memiliki tiga kompetitor besar, yakni perak, platinum, dan paduan palladium, Bitcoin harus berhadapan dengan ribuan alternatif lain yang mudah diciptakan lewat kode komputer.
Faktor Kebijakan dan Dolar AS yang Melemah
Kepercayaan investor terhadap aset Amerika Serikat juga terganggu oleh kebijakan tidak menentu dari Presiden AS saat ini. Data menunjukkan dolar AS melemah hampir 2 persen terhadap euro dalam bulan ini. Presiden Trump bahkan menyatakan tidak keberatan dengan pelemahan nilai dolar.
Pelemahan mata uang meningkatkan daya saing ekspor dan produksi AS, tetapi juga mendorong investor mencari perlindungan di aset yang lebih stabil seperti emas. Emas tetap dipandang sebagai penyimpan nilai yang langka dan terpercaya, sementara Bitcoin belum berhasil menggeser posisi tersebut.
Harga Bitcoin pada saat ini sebesar $88.889, mengalami kenaikan tipis 1,2 persen dalam 24 jam terakhir. Ethereum, mata uang digital lain yang cukup populer, mencatat kenaikan 2,8 persen dengan harga sekitar $2.991. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Bitcoin mengalami tekanan, pasar crypto masih menunjukkan adanya minat dan aktivitas perdagangan.
Dengan berbagai kondisi yang berkembang, emas tampak lebih unggul dalam menghadapi ketidakpastian politik dan ekonomi saat ini dibandingkan Bitcoin. Sementara Bitcoin masih menghadapi tantangan keamanan dan persaingan, emas terus menarik perhatian sebagai aset safe haven di tengah potensi krisis pemerintah AS.
