Apakah Gaya Seni Highguard Gagal Karena Terlalu Ingin Menyenangkan Semua Pemain?

Highguard, game baru dari Wildlight Entertainment, muncul dengan ambisi besar dan harapan untuk menarik perhatian banyak pemain. Namun, justru gaya seni yang dihadirkannya menjadi sumber kontroversi yang cukup tajam di kalangan gamer. Meskipun memiliki nilai produksi tinggi, banyak kritik menyebutkan game ini gagal menemukan identitas visual yang kuat.

Game dengan tema PvP raid shooter ini dikembangkan oleh veteran industri seperti para pengembang dari Respawn Entertainment. Mereka mencoba memadukan elemen medieval fantasy dengan senjata futuristik dalam game yang menampilkan tokoh Wardens, penembak sihir arcane yang berjuang menguasai sebuah benua mitos. Pendekatan ini dimaksudkan untuk memberikan daya tarik luas, namun hasilnya dianggap terlalu aman dan membosankan oleh banyak pemain.

Kualitas produksi tinggi namun kurang kohesif

Dari segi teknis, Highguard tidak mengecewakan. Asset yang digunakan cukup bersih, ter-render dengan baik, dan dioptimalkan dengan rapi. Peta dan siluet karakter juga mudah dikenali, suatu hal penting dalam game kompetitif. Namun, perpaduan antara lingkungan yang condong ke realisme dan karakter yang tampak semi-stilir justru menimbulkan ketidakharmonisan visual yang merugikan.

Banyak pengamat menyalahkan keputusan visual yang terlalu “aman”, sehingga menghasilkan estetika yang datar dan tak menginspirasi. Bahkan, ada yang menggambarkan gaya seni ini sebagai "Corporate Memphis" dalam dunia game art, istilah yang merujuk pada karya seni yang kaku dan generik demi kesan profesional tapi kehilangan jiwa.

Kritik atas kurangnya identitas visual

Seorang pengamat yang aktif di platform X (dulu Twitter) menulis bahwa Highguard seolah-olah merupakan gabungan karya seni yang lazim ditemukan di ArtStation, platform populer bagi para seniman digital. Masalahnya adalah tidak adanya kesatuan yang jelas karena aset-aset tersebut seperti berasal dari berbagai proyek berbeda dan tidak saling terkoneksi.

Fenomena ini dideskripsikan sebagai “incestuous sludge of uninspired industry portfolio aesthetics designed for maximum mass appeal.” Artinya, karya seni yang dibuat hanya untuk menarik sebanyak mungkin penonton tanpa memiliki ciri khas pribadi. Hal ini membuat suasana game menjadi tidak menyatu dan membingungkan pemain.

Ketidaksesuaian antara lingkungan dan karakter

Salah satu keluhan utama adalah adanya disonansi kognitif antara desain lingkungan dan karakter utama. Lingkungan tampak semi-stilir sedangkan desain karakter mengingatkan pada gaya dari perusahaan seperti BAMCO atau Capcom. Inkonsistensi ini membingungkan dan mengurangi kenyamanan visual.

Beberapa pemain bahkan menyebut gaya game ini sebagai “Target Fantasy,” sebuah istilah peyoratif yang menunjukkan karakter dengan tampilan yang desaturasi dan terkesan komersial seperti iklan di toko ritel. Kesan tersebut bukan hanya soal warna, tapi juga elemen desain yang dipandang klise dan terlalu “dipaksakan” agar bisa diterima semua kalangan.

Lingkungan game terasa umum dan tak berjiwa

Kritik lain datang dari level design yang dinilai terlalu generik, sehingga tidak mengkomunikasikan cerita maupun latar dunia game. Pemain merasa tidak ada pertalian estetika antara fitur lingkungan dengan karakter-karakter yang ada. Ini mengurangi kedalaman narasi visual dan immersion pemain.

Seorang penggemar berpendapat awalnya tim pengembang mungkin mengincar estetika ala Arcane/Fortiche yang terkenal unik dan artistik. Namun, pada kenyataannya tim karakter tidak mendapat “memo” estetika yang sama, sehingga hasil akhirnya kurang selaras dan membingungkan.

Dampak peluncuran dan perlajaran dalam pengembangan

Peluncuran Highguard juga mendapat kritik karena diposisikan sebagai presentasi penutup di ajang besar The Game Awards 2025. Banyak yang berharap pengumuman yang lebih spektakuler, sehingga ekspektasi yang tinggi sulit terpenuhi dan berimbas pada penilaian awal yang negatif.

Kejadian ini menggambarkan bahwa dalam pengembangan game, bermain aman justru bisa menjadi risiko. Ketika sebuah game berusaha menyenangkan semua orang tanpa mengambil risiko artistik, hasilnya dapat menjadi produk yang kehilangan karakter andalan dan gagal memikat siapa pun.

Highguard kini tersedia untuk platform PlayStation 5, Xbox Series S dan X, serta PC melalui Steam. Meskipun mendapat respon beragam, kekuatan produksi yang solid menunjukkan potensi jika pengembang dapat memperbaiki identitas visual dan kohesi seni di masa mendatang.

Terkait