Dewan Senat Amerika Serikat telah mempercepat pembahasan RUU yang mengatur pasar kripto, namun perjalanan legislatif ini masih menghadapi sejumlah hambatan signifikan. RUU tersebut bertujuan memberikan otoritas kepada Commodity Futures Trading Commission (CFTC) untuk mengawasi perdagangan kripto secara langsung dan menetapkan aturan bagi bursa, broker, serta dealer aset digital.
Jika disahkan, regulasi ini akan menjadi langkah penting dalam memberikan kepastian hukum bagi industri kripto di AS. Namun, RUU ini lolos dengan suara partai saja di Komite Pertanian Senat, yang mengindikasikan kurangnya dukungan bipartisan untuk pengesahannya di pleno Senat.
RUU tersebut bersifat komprehensif dan mencakup pengawasan terhadap pasar spot kripto. Namun, RUU pendamping dari Komite Perbankan masih kontroversial, terutama terkait perdebatan antara bank dan perusahaan kripto mengenai pembayaran bunga pada stablecoin, yaitu token kripto yang nilainya terkait dengan dolar AS.
Industri kripto menilai bahwa struktur regulasi yang jelas sangat krusial untuk masa depan pasar aset digital di AS. Oleh sebab itu, banyak dana telah dikeluarkan untuk mendukung kandidat pro-kripto guna mempercepat pengesahan RUU tersebut pada siklus pemilu kali ini.
Bagian legislatif di DPR telah terlebih dahulu menyetujui versi RUU ini pada bulan Juli, menunjukkan adanya kemajuan di satu sisi legislatif. Namun, untuk menjadi undang-undang yang efektif, RUU perlu mendapatkan persetujuan dari setidaknya tujuh Senator Demokrat.
Sejumlah Senator Demokrat ungkapkan kekhawatiran bila RUU tidak memuat ketentuan pencegahan bagi pejabat politik untuk mengambil keuntungan finansial dari usaha kripto. Fakta ini tercermin dari tidak adanya satu pun anggota Demokrat di Komite Pertanian yang mendukung percepatan pembahasan RUU tersebut.
Senator Cory Booker, anggota Demokrat senior di Komite Pertanian Senat, menyatakan keinginannya agar RUU mencakup aturan terkait keuangan terdesentralisasi (DeFi). Diskusi tentang topik ini belum tercermin dalam rancangan RUU, sehingga menimbulkan ketidakpuasan.
Booker menggunakan analogi sepak bola untuk menggambarkan proses negosiasi, menyebut bahwa mereka hampir mencapai fase kritis (“red zone”) dan berharap dapat mencapai kesepakatan dua partai guna mengesahkan RUU ini.
Gedung Putih pun menunjukkan komitmen terhadap isu ini dengan menjadwalkan pertemuan bersama para eksekutif dari industri perbankan dan kripto. Tujuannya adalah mencari jalan keluar dan melancarkan proses legislasi di Komite Perbankan Senat, yang hingga kini belum memberikan suara terkait RUU tersebut.
Berikut adalah poin-poin penting terkait perkembangan RUU regulasi kripto di Senat AS:
1. RUU telah maju di Komite Pertanian Senat dengan suara partai, didominasi oleh dukungan dari Senator Republik.
2. RUU memberikan kewenangan kepada CFTC untuk mengatur pasar spot kripto serta aktor di dalamnya.
3. RUU pendamping di Komite Perbankan masih menghadapi perdebatan sengit, khususnya soal stablecoin dan pembayaran bunga.
4. Industri kripto aktif melobi agar RUU ini disahkan demi kepastian hukum dan pertumbuhan pasar.
5. RUU versi DPR sudah disetujui dan menunggu keputusan dari Senat.
6. Minority Demokrat menuntut ketentuan anti-konflik kepentingan bagi pejabat publik terkait investasi kripto.
7. Senator Cory Booker menyoroti kekurangan dalam regulasi keuangan terdesentralisasi.
8. Pertemuan lintas industridan pemerintah direncanakan guna mempercepat proses legislasi.
Proses pengesahan RUU kripto ini menjadi tolok ukur penting bagi regulasi aset digital di tingkat federal AS. Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada kesepakatan bipartisan dan kompromi terkait isu-isu kritis seperti transparansi pejabat politik dan pengawasan DeFi. Pemerintah AS dan pelaku industri sama-sama menunggu langkah kongkret dari Senat untuk memberikan arahan yang jelas bagi masa depan ekosistem kripto.
