
Pasar keuangan global mengalami tekanan besar-besaran ketika nilai pasar senilai hampir $3 triliun menguap kurang dari satu jam. Peristiwa ini memicu kekhawatiran tentang potensi penurunan harga Bitcoin yang belum usai, terutama setelah serangkaian prediksi optimistis gagal terpenuhi.
Bitcoin sempat jatuh ke bawah level $83.000 sebelum menguat kembali dan diperdagangkan di sekitar $92.421 saat laporan dibuat. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan koreksi signifikan pada emas dan perak, yang masing-masing kehilangan nilai pasar sekitar $1,5 triliun dan turun 10% hingga 12%.
Penyebab Penurunan dan Risiko Lanjutan
Penurunan harga ini diyakini dipicu oleh aksi jual paksa, margin call, dan sikap berhati-hati investor di tengah kondisi pasar yang tidak pasti. Analis Victor Olanrewaju menilai meskipun gelombang aksi jual terburuk mungkin sudah lewat, Bitcoin masih menghadapi risiko lanjutan akibat celah likuidasi dan posisi terbuka yang belum terselesaikan.
Benjamin Cowen, pendiri platform analitik Into The Cryptoverse, mengaitkan kelemahan Bitcoin dengan siklus pasar historis serta kondisi likuiditas global yang semakin ketat. Cowen yakin Bitcoin sudah memasuki periode pasar bearish sejak puncaknya pada Oktober. Menurut dia, Bitcoin biasanya mencapai puncak pada kuartal keempat setelah tahun pemilu dan tren saat ini mengikuti pola tersebut.
Cowen juga menyebut bahwa penurunan saat ini mirip dengan penurunan tahun 2019 yang bersifat lambat dan bertahap akibat apatisme investor, bukan kegembiraan berlebihan. Ia memperingatkan bahwa aset kripto bisa terus melemah meski pasar saham menunjukkan kenaikan, apabila kondisi likuiditas global masih terbatas.
Berikut alasan penurunan Bitcoin menurut Cowen:
- Bitcoin memasuki pasar bearish sejak puncak terakhir.
- Pola pasar mengikuti sejarah siklus pasca-pemilu.
- Penurunan lebih gradual akibat apatisme, bukan spekulasi berlebihan.
- Likuiditas global yang ketat menahan pemulihan harga.
Kritik Terhadap Prediksi Tom Lee
Prediksi bullish Bitcoin dari Tom Lee, salah satu pendiri Fundstrat, mendapat kritikan tajam. Lee memproyeksikan Ethereum bisa naik ke kisaran $7.000-$9.000 dalam waktu dekat dan Bitcoin mencapai $180.000 hingga $250.000 dalam jangka panjang. Namun, harga saat ini jauh dari target tersebut.
Investor dan trader di media sosial menyuarakan kekecewaan mereka atas sejumlah proyeksi Lee yang terkesan tidak akurat dan berganti-ganti. Beberapa komentar menilai periode target yang terus diperpanjang membuat prediksi tersebut kehilangan kredibilitas. Ada pula yang mempertanyakan kembali validitas “prediksi ahli” yang dianggap lebih sebagai promosi daripada analisis yang realistis.
Sebagai contoh, seorang pengguna platform X menulis: "Tom Lee memprediksi Ethereum $7.000–$9.000 pada Januari, dan Bitcoin $180.000 pada akhir bulan ini. Kini waktu tinggal dua hari, saya sudah tidak percaya lagi pada prediksi dari suara-suara berbayar ini." Kritikan serupa muncul terkait penyesuaian waktu target yang membuat investor semakin skeptis.
Kondisi ini menandai ketegangan antara ekspektasi bullish jangka panjang dari kalangan analis tertentu dengan realitas pasar yang menunjukkan koreksi dan volatilitas lebih besar. Hal ini menggambarkan dinamika pasar kripto yang penuh tantangan dan risiko, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global dan kebijakan moneter yang ketat.
Masa depan harga Bitcoin tetap menjadi perhatian utama investor dan analis. Walau ada peluang pemulihan, kondisi teknikal dan fundamental saat ini menunjukkan harga bisa terus turun sebelum akhirnya menemukan dukungan harga yang kuat. Para pelaku pasar diimbau untuk lebih berhati-hati dan memperhatikan risiko likuidasi yang masih membayangi posisi terbuka di pasar.





