Kevin Warsh, calon kuat ketua Federal Reserve (The Fed) AS, banyak dipandang sebagai sosok yang bearish terhadap bitcoin. Meskipun pernah memberikan apresiasi terbatas terhadap kripto, berita tentang kemungkinan penunjukannya membuat harga bitcoin turun drastis mendekati level terendah $81.000. Analis mengatakan bahwa Warsh dikenal dengan kebijakan moneter yang ketat dan fokus pada disiplin fiskal, yang dianggap tidak bersahabat dengan aset spekulatif seperti bitcoin.
Markus Thielen, pendiri 10x Research, menilai bahwa dukungan Warsh terhadap suku bunga riil yang lebih tinggi dan pengurangan likuiditas akan menekan permintaan bitcoin. Biasanya, kenaikan suku bunga riil membuat biaya pinjaman sebenarnya setelah inflasi menjadi lebih mahal. Kondisi ini mendorong pelaku pasar mengurangi investasi pada aset berisiko, termasuk mata uang kripto.
Riwayat Hawkish Kevin Warsh
Warsh pernah menjabat sebagai gubernur The Fed dari 2006 hingga 2011, periode krisis keuangan global (GFC). Pada masa itu, ia berulang kali menyuarakan kekhawatiran terhadap risiko inflasi, sekalipun ekonomi global tengah menghadapi ancaman deflasi. Misalnya, saat Lehman Brothers jatuh pada September 2008, Warsh menyatakan masih waspada terhadap tekanan inflasi. Bahkan ketika angka inflasi resmi The Fed turun ke 0,8% dan pengangguran melonjak hingga 9%, ia tetap lebih khawatir pada risiko inflasi naik daripada turun.
Pandangan hawkish Warsh dinilai oleh banyak pengamat sebagai faktor yang memperparah dampak krisis. Thielen menyebut kebijakan tersebut berisiko meningkatkan pengangguran, memperlambat pemulihan ekonomi, dan menambah kemungkinan deflasi sepanjang dekade berikutnya.
Konflik dengan Agenda Trump
Penunjukan Warsh dianggap ironis karena rekam jejak hawkish-nya bertolak belakang dengan agenda Presiden Donald Trump yang pro-resiko dan menginginkan reflasi cepat. Trump kerap mengkritik Jerome Powell, ketua The Fed saat ini, karena mempertahankan suku bunga tinggi yang dianggap menghambat pertumbuhan ekonomi. Presiden mendesak pemotongan suku bunga dramatis hingga level 1%, jauh di bawah kisaran saat ini 3,5%-3,7%.
Banyak pihak menilai Warsh bukan sosok yang tepat untuk menjalankan kebijakan moneter Trump. Renaissance Macro Research menyebut Warsh selama karirnya dikenal sebagai sosok yang sangat hawkish, terutama di masa pasar tenaga kerja melemah, dan bahwa dovish-nya sekarang lebih karena alasan kenyamanan politik. Sementara itu, Kepala Ekonom Bloomberg, Ana Wong, mengungkapkan rasa khawatir melihat catatan transkrip rapat FOMC semasa krisis yang melibatkan Warsh.
Dinamika Proses Pengangkatan
Meski demikian, Warsh tidak memiliki kekuasaan penuh atas suku bunga jika diangkat menjadi ketua The Fed, karena keputusan moneter diambil secara kolektif oleh Dewan Gubernur. Hingga saat pengumuman resmi dari Trump, spekulasi mengenai calon ini dan dampaknya pada pasar finansial tetap menjadi sorotan utama.
Selagi penunjukan Warsh masih belum pasti, torehan hawkish-nya sudah cukup menciptakan tekanan pada aset berisiko dan memberikan dorongan sementara bagi penguatan dolar AS. Pelaku pasar akan terus memantau langkah selanjutnya dari Gedung Putih terkait calon pemimpin The Fed ini.







