Silver dan Bitcoin selama ini sering dibahas sebagai alternatif uang fiat yang sama-sama mendapat keuntungan dari tekanan makroekonomi. Namun, dinamika harga keduanya kini menunjukkan arah yang sangat berbeda, mencerminkan bagaimana investor menilai jenis risiko yang berbeda dalam kondisi keuangan yang semakin ketat.
Silver mengalami lonjakan dramatis, mencapai rekor tertinggi di atas $121 per ons sebelum turun lebih dari 15% menjadi sekitar $97. Sementara itu, Bitcoin menunjukkan tren penurunan, dengan harga sekitar $82.800, turun 2,2% dalam 24 jam terakhir, setelah sempat menyentuh $81.300.
Perbedaan Kinerja Silver dan Bitcoin
Dalam jangka panjang, Bitcoin mengalami penurunan signifikan, sekitar 7% dalam seminggu, 13% dalam dua minggu, dan 22% dibandingkan tahun lalu. Harga Bitcoin masih 34% di bawah rekor tertinggi Oktober, sekitar $126.000, yang sebagian besar dipengaruhi oleh masuknya dana institusional melalui spot ETF.
Sebaliknya, silver melonjak sekitar 25% dalam sebulan terakhir, naik hampir 150% dalam enam bulan, dan meningkat lebih dari 200% dalam setahun terakhir sejak lonjakan besar yang dimulai pada 2025. Pada tahun tersebut, silver naik lebih dari 140%, sementara Bitcoin justru turun sedikit.
Faktor Penggerak Harga Silver
Kenaikan silver didorong oleh keketatan pasokan fisik dan permintaan industri yang kuat. Data menunjukkan stok silver COMEX menurun dari 532 juta ons di awal Oktober menjadi sekitar 418 juta ons, menandakan defisit pasokan sekitar 114 juta ons. Penurunan inventaris ini mengukuhkan narasi silver sebagai aset yang mengalami kekurangan pasokan nyata, bukan sekadar dorongan spekulatif.
Permintaan silver didominasi oleh aplikasi industri, seperti panel surya, kendaraan listrik, dan pusat data yang tumbuh pesat, sekitar 50% dari total permintaan. Ketatnya pasokan ini menyebabkan silver menjadi "kisah kekurangan" yang semakin diperhitungkan oleh para trader dan investor.
Volatilitas dan Korelasi dengan Pasar Makro
Pada Desember, volatilitas silver melonjak ke angka 50-an persen, lebih tinggi daripada Bitcoin yang turun ke kisaran 40-an persen. Silver memperlihatkan respons yang berbeda terhadap kondisi finansial ketat dibandingkan dengan Bitcoin yang semakin tertekan.
Bitcoin justru sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter dan likuiditas pasar global. Penurunan terbaru terkait dengan kekhawatiran bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Tekanan ini berdampak pada aset berisiko secara luas, termasuk saham teknologi dan kripto.
Dampak Penurunan Bitcoin pada Pasar Crypto
Penurunan harga saham Microsoft karena pengumuman investasi AI memicu aksi jual di pasar global, termasuk Bitcoin yang jatuh signifikan. Kapitalisasi pasar kripto anjlok sekitar $200 miliar dalam satu sesi perdagangan, dengan likuidasi posisi Bitcoin longs melebihi $1 miliar dalam 24 jam.
Analisis dari CryptoQuant menunjukkan bahwa penurunan Bitcoin, meski relatif kecil dibandingkan logam mulia, cukup memicu likuidasi panjang $300 juta dalam waktu beberapa jam, memperlihatkan sensitivitas pasar terhadap pergerakan harga aset digital ini.
Perbedaan Sifat Perdagangan Silver dan Bitcoin
Situasi ini mengubah cara pandang investor atas dua aset tersebut. Silver diperlakukan seperti komoditas yang mengalami tekanan suplai fisik, diperkuat oleh momentum spekulatif. Sedangkan Bitcoin, meski dikenal sebagai “emas digital,” kini berperan lebih sebagai aset makro beta yang pergerakannya mengikuti ekspektasi likuiditas, aliran dana ETF, serta sinyal kebijakan moneter.
Investor dan analis kini melihat silver sebagai aset dengan fundamental pasokan yang mendasari kenaikannya. Di sisi lain, Bitcoin lebih bergantung pada dinamika pasar makro dan risiko pasar secara keseluruhan, menjadikannya alat ukur sentimen risiko global dalam portofolio investasi modern.
