RI Cek Laut Sulawesi Utara, Temukan Hewan Raksasa Langka Termasuk Paus Paruh Longman

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama OceanX, organisasi eksplorasi laut global, berhasil menyelesaikan misi penelitian laut di perairan utara Sulawesi Utara. Misi ini bertujuan untuk mengkaji biodiversitas laut, oseanografi, dan pengamatan terhadap fish aggregating device (FAD) atau rumpon, yang berlangsung selama hampir tiga minggu.

Kegiatan penelitian yang tergabung dalam program kolaboratif “OCEANX-BRIN Collaborative Deep-sea Research and Capacity Building Program 2025 – Mission Leg 2” ini menunjukkan kemajuan signifikan dalam penelitian laut Indonesia. Ekspedisi yang berlayar hingga ke pelabuhan Bitung ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan kemandirian riset laut nasional.

Temuan Megafauna Laut Langka

Dalam ekspedisi ini, tim peneliti berhasil mengidentifikasi sebanyak 14 spesies megafauna laut. Dari jumlah tersebut, 10 spesies merupakan mamalia laut, 2 spesies hiu, dan 2 spesies penyu. Hal ini menjadi tambahan penting bagi data biodiversitas laut di Indonesia, khususnya perairan Sulawesi Utara yang terkenal kaya akan keanekaragaman hayati.

Salah satu penemuan langka adalah indikasi keberadaan paus paruh Longman (Indopacetus pacificus). Temuan ini menjadi catatan khusus mengingat paus tersebut merupakan spesies yang jarang ditemukan dan belum pernah tercatat secara resmi di wilayah perairan Indonesia sebelumnya.

Teknologi Canggih dalam Penelitian

BRIN dan OceanX memanfaatkan berbagai teknologi mutakhir untuk mendapatkan data yang akurat tanpa mengganggu habitat biota laut. Metode environmental DNA (eDNA) metabarcoding digunakan untuk mendeteksi megafauna laut melalui residu genetik yang tertinggal di air. Teknik ini memungkinkan peneliti mengidentifikasi keberadaan paus dan spesies lain tanpa kontak langsung.

Selain itu, pengamatan laut juga dibantu oleh helikopter dari kapal penelitian canggih OceanXplorer yang memantau spesies seperti paus sperma dan paus berparuh dari udara.

Kekuatan Kapal Selam Berawak dalam Penelitian

Dua kapal selam berawak, Nadir dan Neptune, juga memegang peran penting selama ekspedisi. Kapal Nadir fokus pada dokumentasi visual dengan merekam struktur komunitas di gunung bawah laut (seamount) menggunakan video transect. Sementara kapal Neptune dilengkapi dengan peralatan ilmiah yang lebih kompleks, seperti Niskin bottle untuk pengambilan sampel air, dan lengan robotik untuk mengoleksi sampel biota laut.

Sampel-sampel yang dikumpulkan kemudian disimpan dalam bio box untuk menjaga kualitas specimen hingga dianalisis di laboratorium kapal. Sistem ini memungkinkan pengolahan data yang rinci dan komprehensif selama ekspedisi berlangsung.

Penguatan Ekosistem Kapal Riset Nasional

Direktur Pengelolaan Armada Kapal Riset BRIN, Nugroho Dwi Hananto, menyampaikan bahwa misi ini menjadi bagian dari upaya strategis untuk memperkuat armada kapal riset, sumber daya manusia, dan pendanaan. Pendekatan ini diharapkan dapat mendorong kemandirian Indonesia dalam menjalankan penelitian laut secara mandiri dan berkesinambungan.

Wakil Kepala BRIN, Amarulla Oktavian, menegaskan pentingnya dokumentasi dan penyimpanan sampel di repositori ilmiah nasional. Hal ini bertujuan agar hasil penelitian dapat dimanfaatkan sebagai dasar rekomendasi konservasi dan pengembangan ilmu pengetahuan kelautan Indonesia ke depan.

Peran Ekspedisi untuk Kebijakan Konservasi

Data biodiversitas yang diperoleh selama ekspedisi menjadi sangat penting untuk mendukung kebijakan konservasi di Sulawesi Utara. Menurut Lead Scientist ekspedisi dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Pipit Pitriana, hasil penelitian tersebut akan menjadi acuan dalam upaya pelestarian ekosistem laut yang rawan terhadap eksploitasi berlebih.

Penelitian ini tidak hanya memberikan gambaran distribusi horizontal tetapi juga pola vertikal penyebaran megafauna laut. Pendekatan ini memungkinkan pemahaman lebih mendalam tentang ekosistem laut yang kompleks di wilayah tersebut.

Langkah-Langkah Penting Ekspedisi OCEANX-BRIN

  1. Penggunaan teknologi eDNA metabarcoding untuk mendeteksi keanekaragaman genetik.
  2. Pemantauan jalur migrasi dan tipe megafauna melalui helikopter.
  3. Pengambilan sampel air dan biota menggunakan kapal selam berawak Neptune.
  4. Dokumentasi visual dengan kapal selam Nadir di gunung bawah laut.
  5. Penyimpanan semua sampel di repositori ilmiah nasional.

Misi ini menjadi bukti bahwa pengembangan riset kelautan Indonesia dapat berjalan bersamaan dengan pemanfaatan teknologi tinggi dan kerja sama internasional. Sumber daya yang dimiliki BRIN dan OceanX mempertegas bahwa eksplorasi laut dalam dapat dilakukan secara berkelanjutan dan bertanggung jawab.

Dengan hasil yang diperoleh, Indonesia semakin dekat untuk mengelola sumber daya lautnya dengan cara yang lebih modern dan terukur. Penelitian serupa akan terus dilanjutkan guna memperkaya data ilmiah sekaligus mendukung keberlanjutan ekosistem laut nasional.

Berita Terkait

Back to top button