Mengungkap Alasan Tersembunyi Bitcoin Tak Rally Saat Harga Emas & Perak Melejit Tajam

Bitcoin menunjukkan pergerakan harga yang agak lesu, meskipun aset tradisional seperti emas dan perak melonjak tajam. Aksi ini cukup mengejutkan, mengingat logam mulia berhasil menembus rekor tertinggi sementara Bitcoin gagal menembus level psikologis penting di $90.000.

Kegagalan Bitcoin menembus ambang tersebut berujung pada penurunan harga drastis hingga zona $75.000. Saat itu, banyak pelaku pasar menyalahkan faktor pelarian ke aset aman, melemahnya permintaan crypto, hingga fluktuasi dana ETF spot dan posisi akhir bulan sebagai penyebab utama.

Tekanan Jual Tersembunyi di Buku Pesanan

Data buku pesanan memperlihatkan alasan mendasar di balik pergerakan Bitcoin yang stagnan. Keith Alan, co-founder Material Indicators, menyatakan bahwa tekanan jual yang konsisten ditemukan tepat di bawah level $90.000 sejak awal. Tekanan ini menahan momentum kenaikan Bitcoin meski kondisi pasar secara umum terlihat mendukung.

Menurut Alan, alat analitik FireCharts milik Material Indicators memperlihatkan gelombang likuiditas jual berulang yang muncul jelas di atas harga spot Bitcoin. Ini menahan harga dan membuatnya terjebak di kisaran bawah rentang pergerakan.

Strategi “Liquiditas Herding” dalam Pasar

Fenomena ini dikenal sebagai “liquidity herding,” yaitu taktik di mana pelaku besar menempatkan pesanan jual besar yang terlihat oleh semua pelaku pasar. Strategi ini membuat pembeli merasa harga terlalu riskan untuk ditangani, sehingga harga stagnan atau bergerak turun pelan.

Fenomena ini mirip situasi lelang yang dikuasai oleh satu pemain besar. Dengan menempatkan order jual besar secara transparan, ia membimbing pergerakan harga supaya tetap di level yang menguntungkan bagi posisinya. Teknik ini efektif terutama menjelang periode kadaluwarsa opsi, di mana menjaga harga di rentang tertentu mengurangi risiko dan memaksimalkan hasil.

Zona Penyangga dan Titik Jebol

Di sisi lain, terjadi akumulasi pesanan beli yang cukup padat pada kisaran antara $85.000 hingga $87.500. Level ini berperan sebagai zona penyangga, menyerap tekanan jual dan menjaga harga bitcoin tetap pada rentang stabil.

Keith Alan mengungkapkan, jika dukungan ini kuat, harga bisa membangun pijakan untuk mencoba naik kembali. Namun, ketika titik ini akhirnya ditembus, mekanisme pasar dengan likuiditas tipis menyebabkan penurunan harga berlangsung cepat dan dramatis.

Potensi Risiko Jangka Panjang dalam “Bearadise”

Peringatan Alan sebelumnya mengindikasikan bahwa penutupan harga per bulan di bawah level pembukaan tahun di $87.500 bisa menandai kegagalan teknis yang serius. Dia menyebut kondisi tersebut sebagai fase “Bearadise,” yakni fase di mana tekanan jual meningkatkan kekhawatiran pasar, menyebabkan momentum penurunan kian bertambah.

Ketika Bitcoin menembus support tersebut, penurunan harga berlangsung cepat hingga menyentuh level $74.000–$76.000. Pasar yang tipis mendorong pergerakan harga menjadi semakin rentan terhadap tekanan jual paksa maupun aksi beli opportunistik.

Mengapa Bitcoin Berbeda dengan Emas dan Perak?

Sementara emas dan perak menerobos rekor tertinggi karena didukung oleh faktor-makro seperti ketidakpastian ekonomi dan inflasi, Bitcoin menghadapi tantangan struktural dalam likuiditas pasar dan strategi penjagaan harga oleh pelaku besar. Perbedaan ini menjelaskan mengapa logam mulia bisa "meledak" sedangkan Bitcoin stagnan dan bahkan terkoreksi.

Tekanan jual dalam buku pesanan dan adanya kepemilikan likuiditas yang terkonsentrasi menjadi alasan utama mengapa Bitcoin gagal ikut rally bersama emas dan perak. Dinamika pasar kripto yang unik, dengan pengaruh besar dari order book dan opsi, menambah kompleksitas perilaku harga Bitcoin.

Faktor yang Perlu Diperhatikan ke Depan

  1. Pantauan ketat pada level support di sekitar $85.000 hingga $87.500 akan menentukan arah harga jangka pendek.
  2. Aktivitas likuiditas dan pesanan jual besar di sekitar harga psikologis penting termasuk $90.000 harus diperhatikan sebagai indikator potensi pembalikan atau penurunan.
  3. Pergerakan harga logam mulia tetap relevan untuk dijadikan perbandingan sentimen risiko dan aset safe haven global.

Data pasar terbaru dan analisis order book menjadi kunci dalam memahami mengapa Bitcoin tidak bergerak beriringan dengan emas dan perak. Pemahaman terhadap dinamika ini membantu pelaku pasar menilai risiko dan peluang yang ada di tengah suasana pasar yang cepat berubah.

Berita Terkait

Back to top button